“TINDAKAN KASIH”

“TINDAKAN KASIH”

Renungan Harian Anak, Rabu 20 Oktober 2021

Selamat pagi adik-adik Elohim Kids, wah bagaimana kabarnya hari ini? Puji Tuhan hari ini adik-adik semua bisa menikmati hari libur ya …  Kakak selalu berdoa adik-adik, keluarga dan orang tua kita semua selalu baik dan selalu didalam lindungan Tuhan Yesus Kristus yah.

Adik-adik kakak memiliki sebuah kisah, perhatikan ya…

Nina sedang membaca sebuah majalah. Tiba-tiba dia meliahat sebuah artikel tentang berenang. Di dalam artikel itu tertulis cara-cara berenang. Di antaranya adalah: luncurkan badan di dalam air, dengan mendorong salah satu kaki ke dinding kolam; saat badan mulai bergerak maju, gerakkan kaki naik turun, dan tangan lurus ke depan; saat kepala ada di dalam air, buang napas melalui hidung, hilangkan rasa takut tenggelam. Setelah Nina membaca artikel itu, Nina langsung bersemangat dan berkata kepada mama: “Ma, aku udah bisa berenang lho sekarang.” Mama bingung, dan bertanya: “Sejak kapan Nina bisa berenang?” Nina menjawab: “Sejak Nina baca tutorial cara berenang. Nina sudah tahu caranya, bahkan Nina sudah hafal langkah-langkahnya.”

Adik-adik, apakah dengan membaca sebuah petunjuk berenang kita langsung bisa berenang? Tentu saja tidak.  Seseorang akan bisa berenang kalau dia mempraktekkannya dengan langsung masuk ke dalam air. Kita perlu sering latihan agat kita benar- benar bisa berenang. Terkadang saat di dalam air, ada air kolam yang tertelan, kadang terpeleset di dasar kolam dan nyaris tenggelam, tapi itulah yang namanya belajar.  Kita tidak akan bisa berenang hanya dengan membaca tutorial saja, melainkan harus dipraktekkan.

Nah, selama ini mungkin  kita sudah banyak belajar tentang Tuhan yang penuh belas kasihan terhadap orang-orang berdosa. Apakah hanya dengan membaca renungan saja kita bisa langsung berubah menjadi orang yang berbelaskasihan kepada orang lain? Tentu saja tidak. Kita perlu melakukan tindakan untuk mempraktekkannya di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kasih itu perlu tindakan, karena kalau tidak, kasih hanya menjadi sebuah pengetahuan saja bagi kita.

Tuhan Yesus semasa hidup-Nya sebagai manusia, selalu mengajarkan supaya manusia mengasihi Tuhan, dan supaya saling mengasihi antar sesama. Tetapi Tuhan Yesus tidak hanya mengajarkan cara-cara mengasihi, tetapi Tuhan Yesus membuktikan kasih-Nya dengan tindakan.

Lukas 10:36-37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

 Ada banyak tindakan kasih yang Tuhan Yesus sudah lakukan, di antaranya: memberitakan Injil, menyembuhkan orang yang sedang sakit, memberi makan ribuan orang yang kelaparan, mengusir setan dari orang yang kerasukan, dan yang paling besar adalah menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib untuk menanggung hukuman dosa manusia. Tuhan juga tidak mau kita hanya mengetahui teorinya saja.  Tetapi Tuhan ingin kita menjadi pelaku firman Tuhan. Mari Adik-adik, kita belajar untuk mempraktekkan firman Tuhan yang sudah kita pelajari selama ini. Jangan takut untuk memulai, karena Tuhan Yesus pasti memberikanmu kekuatan.

 Mari kita belajar untuk memberi perhatian kepada orang-orang di sekitar kita dan memberitakan Injil atau kabar kesaksian tentang kebaikan Tuhan sebagai tindakan belas kasihan kita kepada orang lain.  Dengan demikian, firman Tuhan tetap tinggal di dalam hati kita. Kasih karunia Tuhan menyertai dan menuntun kita semua untuk melakukan firman Tuhan.

Ayat Hafalan hari ini

Roma 12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.

Komitmenku hari ini

Kasih bukan saja hanya dipelajari tetapi dibuktikan dengan Tindakan kepada orang-orang yang ada disekitar kita

TW – GCT

Bangkrut

Bangkrut

Renungan Harian Youth, 20 Oktober 2021

Yesaya 5: 5-6 , Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak;  Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya.

Hallo rekan-rekan youth,salam sehat selalu, Gimana kabarnya?  Semoga kita semua selalu ada dalam lindungan kuasa Tuhan Yesus Kristus!

Beberapa tahun yang lalu hampir seluruh petani bawang merah di kawasan Kabupaten Brebes berdemo, dengan cara membuang seluruh hasil panennya di hamparan jalan raya pantura. Apakah ini karena gagal panen ? Bukan …!! Ini bukan karena gagal panen. Tetapi karena harga yang jatuh di tangan tengkulak. Bayangkan harga bawang merah yang normalnya bisa menembus angka 7500 rupiah per kilo, saat itu hanya dihargai 500 rupiah per kilonya. Mungkin klo saat itu kita juga memiliki tanaman bawang merah, kita  bisa merasakan kerugian yang begitu hebat di kalangan petani bawang merah dan bisa mengalami “sakitnya ….tuh disini”. Petani sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, selain menumpahkan kekesalannya dan melampiaskannya dengan cara membuang seluruh hasil panennya di jalan raya pantura. Mereka tidak mau peduli akibat dari perbuatannya menimbulkan kemacetan di jalur pantura berjam-jam.

Ini adalah kejadian sebelum pandemic covid19 yang sebelumnya sudah biasa dialami.  Kita bahkan sudah punya kata-kata penghiburan untuk kondisi seperti ini, “hidup kadangkala diatas, kadangkala pula ada di titik terendah dalam hal berkarya dan demi sesuap nasi.  Namun, kegagalan, kerugian, dan bangkrut di masa pandemic, terjadi di mana-mana, dan menyerang bukan hanya satu sector ekonomi saja.  Bisa saja, salah satu yang membaca renungan ini adalah rekan-rekan yang mengalaminya.

Setali tiga uang, apa yang petani bawang merah rasakan saat itu,dan yang dirasakan pengusaha yang bangkrut karena pandemic,situasinya mungkin sama halnya dengan Tuhan selaku pemilik lahan anggur.

Tuhan yang mencangkul lahan, membuang batu-batunya dan menanam dengan bibit anggur pilihan, tetapi yang dihasilkan hanyalah anggur yang masam rasanya (Yesaya 5:1-2).

Kondisi Bangkrut di mata Tuhan adalah ketika umat-Nya tidak bisa menghasilkan buah yang manis untuk Tuhan

Sebuah perumpamaan yang benar-benar menghentak kehidupan ke-Kristen-an kita. Ketika diibaratkan kebun anggur itu adalah kehidupan kita, Tuhan yang menciptakan kita sejak dari kandungan Ibu, lahir dengan Kasih dan Anugerahnya sampai kita dewasa dan berumah tangga. Tetapi selama itu pula mungkin kita tidak pernah menghasilkan sesuatu yang menyenangkan hati Tuhan. Bahkan tanpa sadar kehidupan kita hanya diisi dengan rasa iri, dengki, sakit hati, marah, dendam bahkan tidak puas akan pemeliharaan Tuhan. Klo itu adanya, bukankah kita masuk dalam kategori anggur yang masam ? Akibatnya ?Firman Tuhan memberi petunjuk bahwa Tuhan akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya. Sungguh sebuah reaksi Tuhan yang cukup mengejutkan ( Yesaya 5 : 5-6).

Di sisi lain, benar apa yang tertulis di Yesaya 5 : 9  Di telingaku terdengar firman TUHAN semesta alam: “Sesungguhnya banyak rumah akan menjadi sunyi sepi; rumah-rumah yang besar dan yang baik tidak akan ada penghuninya” . Ini berbicara tentang kehidupan rohani kita di dalam tubuh jasmani kita. Mari kita belajar untuk berkaca atas diri kita masing-masing. Apakah rumah yang tidak lain adalah tubuh kita, mau dibiarkan kosong melompong dan tidak menghasilkan sesuatu yang membuat hati Tuhan senang, sekalipun di mata orang kita memliki “nilai lebih”, ataukah tubuh kita mau diisi dengan Pujian , Penyembahan dan  Firman Tuhan yang memberikan kita dorongan untuk menghasilkan sesuatu yang manis untuk Tuhan.

Marilah kita di menjadi generasi muda yang menghasilkan buah yang manis untuk Tuhan dan menjaga diri kita untuk selalu ada dalam kondisi rohani yang baik sebagai Tubuh Kristus.

Amin
Tuhan Yesus Memberkati

RM-YDK

Kegagalan dibalik Kesuksesan

Kegagalan dibalik Kesuksesan

Renungan Harian, Rabu 20 Oktober 2021

Bacaan : 1Yohanes 1:5 – 2:2

1Yohanes 2:1, Jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil

Seorang penemu bernama Charles Kettering menyarankan agar kita belajar untuk gagal secara arif. Ia berkata, “Saat Anda gagal, analisalah permasalahannya, dan temukan jawabannya, karena setiap kegagalan adalah satu langkah maju menuju puncak kesuksesan. Jika Anda takut gagal, Anda tidak akan pernah mencoba.”

Kettering memberikan tiga nasihat untuk mengubah kegagalan menjadi kesuksesan:

(1) Jujurlah dalam menghadapi kekalahan; jangan berpura- pura sukses.

(2) Manfaatkan kegagalan kita; jangan membuangnya begitu saja. Ambillah semua pelajaran dari kegagalan itu.

(3) Jangan jadikan kegagalan sebagai alasan untuk tidak mencoba lagi.

Nasihat bijak Kittering yang praktis itu mengandung makna yang dalam bagi orang kristiani.

Roh Kudus terus-menerus bekerja di dalam kita untuk menyelesaikan pekerjaan “menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:13)

jadi kita pun tahu bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Kita memang tidak dapat meminta kembali waktu yang hilang. Kita pun tidak dapat selalu berbuat benar, meski kita harus selalu mengusahakannya. Sebagian akibat dosa kita tidak dapat ditarik kembali. Namun, kita masih dapat memulai lagi dari awal karena

Yesus telah mati untuk menanggung segala dosa kita dan Dia adalah “pengantara pada Bapa” (1 Yohanes 2:1).

Tahu bagaimana harus mengambil hikmah dari kegagalan adalah kunci untuk terus bertumbuh dalam kasih karunia.

Dan 1 Yohanes 1:9 mengingatkan bahwa kita perlu mengaku dosa.

Itulah langkah pertama untuk mengubah kegagalan menjadi kesuksesan —Dennis De Haan

KEGAGALAN BUKANLAH AKHIR DARI SEGALANYA

BAGI ORANG YANG MAU MEMULAI LAGI BERSAMA ALLAH

Tuhan Yesus Memberkati

TC