“ALLAH KITA KREATIF”

“ALLAH KITA KREATIF”

Renungan Harian Anak, Jumat 03 Desember 2021

Bacaan: YEREMIA 18:1-10

Selamat pagi adik-adik semua. Bagaimana kabarnya hari ini. Yuk sama-sama kita belajar Firman Tuhan pada hari ini. kita berdoa minta Roh Kudus memberikan pengetahuan untuk membantu kita memahami Firman Tuhan pada hari ini.

Kakak mau cerita tentang satu orang yang sangat berjasa dalam dunia teknologi khususnya barang-barang yang kita gunakan ini semua berasal dari pemikirannya. Namanya adalah Nikola Tesla.

Dia adalah seorang penemu yang mempunyai lebih dari ratusan penemuan yang berkaitan dengan masa depan. Dia adalah orang pertama yang menemukan listrik AC (listrik bolak-balik darin pLN) dan dipakai hingga saat ini. Dia juga pencetus jaringan tanpa kabel atau disebut nirkabel yang banyak kita pakai saat ini seperti smartphone, internet, siaran televisi dan banyak lagi.  Salah satu kata-katanya yang terkenal :

“Kita akan bisa berkomunikasi satu sama lain dengan instan, meski terhalang jarak yang jauh. Tidak hanya itu, lewat televisi dan telepon kita bisa melihat dan mendengar satu sama lain dengan sempurna layaknya bertatap muka, walaupun kita terpisah jarak ribuan mil, dan alat yang kita pakai untuk melakukan komunikasi itu akan sangat sederhana jika dibandingkan telepon yang kita gunakan saat ini. Seseorang bahkan bisa membawanya di saku rompinya,” ujar Nikola Tesla saat di wawancara majalah Collier di tahun 1926.

Tentu deskripsi Nikola tentang alat komunikasi masa depan itu sangat mirip dengan apa yang saat ini kita sebut smartphone. Sebuah ramalan yang hebat mengingat hal itu dikatakan 95 tahun silam. Dari apa yang telah dilakukan Tesla, banyak orang yang bisa membuat teknologi yang semakin memudahkan kita dalam kehidulan sehari-hari. Banyak hal kreatif yang terinspirasi berkat penemuan Tesla. Jika manusia, yang adalah ciptaan Allah, bisa begitu kreatif dalam membuat benda-benda dari betapa lebih kreatifnya Allah yang kita sembah!

Dalam pesan firman-Nya melalui Nabi Yeremia dalam Yeremia 18, Allah mengumpamakan diri-Nya seperti tukang periuk (penjunan) dalam memperbaiki kehidupan bangsa Israel. Bagi seorang penjunan yang asli, tak ada bejana rusak yang tak bisa dibentuknya kembali menjadi bejana lain yang dianggapnya baik. Begitu pula bagi Allah, hal yang bagi adik-adik sesulit dan sekacau apa pun, tangan-Nya dapat memperbaiki dan memulihkannya, menurut apa yang baik di hadapan-Nya.

Oleh karena itulah, sepanjang zaman Allah senantiasa mengundang setiap  orang termasuk adik-adik yang merasa hidupnya “kacau atau rusak” untuk datang kepada-Nya. Pengampunan-Nya siap diberikan dan tangan-Nya siap membentuk ulang kehidupan manusia. Roh-Nya juga diberikan untuk menuntun jalan kehidupan kita, supaya dapat menggenapi apa yang Dia kehendaki. Percayakah kita akan hal itu? Syaratnya adalah mau untuk belajar berserah kepada Tuhan dan terus percaya kepada Rancangan Tuhan yang terindah dalam kehidupan adik-adik semuanya

BAGI ALLAH, TAK ADA KEHIDUPAN YANG RUSAK, YANG TAK DAPAT DIBENAHI DAN DIPULIHKAN OLEH-NYA.

AYAT HAfALAN hari ini

“Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!” (Yeremia 18:6)

Komitmenku hari Ini

Aku percaya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, Tuhan sanggup mengubah kehidupanku untuk menjadi sesuai dengan kehendakNya

MEK – YC

Hati-hati jangan Depresi

Hati-hati jangan Depresi

Renungan Harian Youth, Jumat 03 Desember 2021

Salam sejahtera buat kita semuanya, semoga berkat Tuhan berlimpah dalam kehidupan kita semuanya.

Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus-menerus merasa sedih dan tertekan serta kehilangan minat dalam beraktivitas, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas hidup sehari-hari. Seseorang yang mengalami gangguan depresi mayor, kelainan ini dapat memengaruhi perasaan, pemikiran, hingga perilaku sehingga menimbulkan masalah emosional dan fisik. Sumber depresi bisa macam-macam, karena masalah Kesehatan fisik, namun juga karena adanya tekanan dalam kehidupan.

Seorang anak Tuhan pun tidak terbebas dari ancaman depresi, banyak anak Tuhan yang gagal dan kehilangan pengharapan ketika mengalami tekanan kehidupan.

Karena  itulah respon yang tepat terhadap masalah harus dikerjakan sedini mungkin menghadapi setiap masalah yang ada dalam kehidupan kita semuanya.  Ada 3 hal penyebab depresi yang bisa mengancam anak-anak muda yaitu penolakan, kegagalan dan pembandingan

1. Penolakan menimbulkan depresi.

Ditolak, dibuang bisa membuat seseorang seolah tidak bernilai sama sekali atau tidak diinginkan. Kita diciptakan untuk diterima, bukan untuk ditolak. Kepedihan emosi karena penolakan adalah salah satu yang paling banyak dikenal. Terutama jika penolakan itu datang dari seseorang yang kita cintai atau kita harapkan mau mencintai kita, seperti orangtua atau orang dekat circle kita.

Iblis seringkali memanfaatkan emosi karena penolakan, trauma ini seperti pintu yang telah lama terbuka. Akhirnya hidupnya dikendalikan oleh tarumanya dan bisa jadi menjadi terbiasa dengan perasaan itu, sehingga mudah sekali  hanyut dalam perasaan negatif yang telah lama menguasainya.

Mazmur 27:10 Sekalipun ayahku dan ibuku mening galkan aku, namun Tuhan menyambut aki (mengangkat aku sebagai anakNya)-

Tuhan telah mengangkat kita sebagai anak dan sangat mengasihi kita, Tuhan tetap mengasihi kita apa adanya. Kasih Tuhan sanggup memulihkan diri kita dari trauma penolakan. Jika kita mengenal Tuhan maka kita tidak akan pernah merasa sendirian

2. Kegagalan

Sadar atau tidak dalam kehidupan masyarakat, kita telah dituntun untuk percaya bahwa kemenangan adalah segalanya dan bahwa kesuksesan adalah hidup tanpa kegagalan. Dan banyak anak muda yang terjebak didalamnya, sehingga dia mengalami penolakan tergadap dirinya sendiri karena kegagalan yang dialaminya.

Kegagalan bukanlah lawan dari kesuksesan namun secara pribadi saya percaya bahwa kegagalan adalah bagian dari keberhasilan sejati. Setiap orang yang sedang mendaki, harus belajar beberapa hal dan melewati begitu banyak proes. ALkitab dengan jelan memberikan contoh bagi kita, ada begitu banyak tokoh dan para pahlawan iman pun menghadapi kegagalan dalam hidupnya, namun yang membedakan adalah bagaimana menempatkan kegagalan sebagai waktu untuk semakin mencari Tuhan dan mengijinkan Tuhan untuk mengerjakan pemulihan dalam kehidupannya.

Tuhan memakai kelemahan kita, mengubahnya menjadi kebaikan, untuk membangun karakter hidup kita dan melaluinya menjadikan kita orang yang lebih baik.

Jangan membangun mental pecundang yang memilih untuk menyerah dan lari dari masalah, tetapi jadilah kuat dan tetaplah bertahan untuk melakukan apa yang benar.

Sebenarnya, bukan kegagalan yang menyebabkan depresi; tetapi sikap kita terhadap kegagalan itulah penyebabnya. Jika kita percaya bahwa Tuhan itu lebih besar dari pada kegagalan kita, maka kegagalan itu tidak memiliki kuasa atas kita! Kelemahan kita bisa menjadi suatu kesempatan bagiNya untuk menunjukkan kekuatanNya dan kasihNya yang membangun dan memulihkan.

3. Membandingkan diri

Membanding-bandingkan diri kita dengan hidup orang lain biasanya menyebabkan kita depresi. Kita dapat melihat orang lain dan bertanya-tanya mengapa kita tidak tampak seperti mereka, mengetahui apa yang mereka ketahui, memiliki apa yang mereka miliki atau melakukan apa yang mereka lakukan.  Orang lain mungkin memiliki sesuatu yang tidak kita miliki, tetapi kita juga memiliki sesuatu yang tidak mereka miliki, karena itu Kita harus percaya bahwa Tuhan memperlengkapi masing masing kita dengan standar yang tepat dan adil. Adil bukanlah sama tetapi sesuai dengan kapasitas yang kita miliki.

Galatia 6:4 mengatakan setiap orang untuk “menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” Dengan kata lain, tujuan kita seharusnya adalah melakukan “yang terbaik,” melakukan yang memang harus kita lakukan tanpa harus berusaha melakukan sesuatu “yang lebih besar” dari orang lain, hanya supaya kita merasa lebih baik dari pada orang lain.

Ayo rekan-rekan kita mengatasi semua tekanan hidup sedini mungkin, sebagai anak-anak Tuhan kita memiliki Firman Tuhan sebagai sumber kekuatan dan kebenaran. Firman Tuhan akan menuntun kita ketika kita menhadapi Penolakan, menghadapi kegagalan dan pembandingan diri dengan orang lain. Tuhan sudah memperlengkapi kita semuanya, dan Roh kudus akan menuntun kita untuk dapat berjalan dalam jalan kemenangan walaupun menjalaninya adalah proses.

Komitemenku hari ini

Aku mau belajar untuk mengatasi benih-benih dari depresi dari hal yang terkecil, memandang setiap trauma, kegagalan dan diri kita dengan perspektif yang tepat.

Tuhan Yesus memberkati

YNP – AC

Mujizat Hanya Pengantara

Mujizat Hanya Pengantara

Renungan Harian, Jumat 03 Desember 2021

Lukas 5:5-6, “Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.”

Shalom… Selamat pagi bapak, ibu dan saudara-saudara yang terkasih.

Pernahkan bapak, ibu dan saudara mendengar kata “De Ja Vu”  ????  Bagi kalangan anak-anak muda mungkin, pernah mendengar bahkan beberapa kali memakai kata tersebut, tapi buat beberapa orang yang berusia setengah baya dan yang berusia lanjut mungkin jarang atau bahkan tidak pernah mendengar kata tersebut.  De Ja Vu adalah kata yang berasal dari bahasa perancis, yang secara harfiah artinya adalah “pernah dilihat”.  De Ja Vu merupakan fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.

Murid-murid Yesus kebanyakan berprofesi nelayan dari danau Galilea, pertemuan pertama mereka dengan Tuhan Yesus di mulai saat mereka mengalami kegagalan dimana mereka telah semalaman menjala ikan namun mereka tidak menangkap ikan seekorpun, bahkan ada salah satu terjemahan alkitab yang menulis “seekor ikan kecilpun tidak mereka dapatkan”.

Peristiwa ini adalah titik awal mereka tertarik mengikuti Tuhan Yesus. Setelah Yesus menolong mereka secara “mujizat“ menjala ikan dalam jumlah banyak, di siang bolong, tanpa ragu mereka kemudian meninggalkan profesinya dan menjadi murid-murid Yesus. (Lukas 5:9-10)

Bapak, ibu dan saudara-saudara yang terkasih, Tujuan Yesus mencari murid-murid adalah untuk menjadikan mereka“Penjala Manusia”, sebuah ungkapan metafora yang tidak dimengerti oleh para murid saat itu. Mereka rela dan bersemangat mengikuti Sang Guru karena mereka telah melihat Sang Guru dapat menjamin kehidupan sandang pangan mereka, mereka rela menggantikan profesi mereka sebagai nelayan yang sering gagal mendapatkan tangkapan ikan dan bersedia menjadi murid Sang Guru.

Singkat cerita para murid diajarkan “Menjala Manusia”. Ketika para murid mulai menyadari Sang Guru adalah Mesias yang dijanjikan, pada saat itu pula Sang Guru mulai berterus terang bahwa Ia harus “menjadi domba paskah yang dikorbankan“ yaitu dengan cara mati disalibkan. Para murid tak dapat percaya, mereka mengalami “fase penyangkalan” yaitu tidak cocoknya harapan dan kenyataan.  Sejak itu semua pesan Sang Guru tak lagi dapat lagi diserap. Bahkan pasca Gurunya diSalibkan, walaupun Gurunya telah bangkit dan telah menampakkan diri dalam tubuh kebangkitan kepada mereka, mereka tetap kehilangan harapan.  Mereka kembali ke profesi lama menjadi nelayan di danau Galilea, menyimpang dari pada tujuan semula menjadi “penjala manusia“.

Kemudian peristiwa “de ja vu“ terjadi, Yohanes mencatat sebuah peristiwa pertemuan kembali di tepi danau Galilea yang menjadi titik balik kembalinya para murid kepada panggilan dan tujuan Tuhan.  Yesus kembali datang secara mujizat dan menolong mereka mendapatkan banyak ikan saat menjala. (Yohanes 21: 4-6)

Bapak, ibu dan saudara-saudara yang terkasih, setelah Yesus mengajak para murid makan ikan hasil tangkapan mereka.  Setelah mereka sarapan, Yesus mengarahkan mereka pada tujuan panggilan semula yaitu menjadi “Penjala Manusia”.  Melalui percakapan personal dengan Petrus, Tuhan Yesus memberikan tanggung jawab baru kepada murid-murid yaitu menggembalakan.  Sebagaimana teladan yang sudah Tuhan Yesus tunjukan kepada mereka selama 3,5 tahun, demikian juga dengan para murid.  Tugas menggembalakan tidak akan pernah bisa dipisahkan dari menangkap jiwa bagi Yesus.  Tuhan Yesus memakai beberapa peristiwa yang berulang untuk membawa para murid kembali kepada tujuan utama Tuhan atas hidup mereka.      

Bapak, ibu dan saudara-saudara yang terkasih.  Tujuan utama Tuhan Yesus datang ke dunia adalah supaya setiap orang diselamatkan, dikembalikan kepada persekutuan dengan Bapa. 

DIA bisa memakai peristiwa mujizat walau berulang tetapi semua itu hanyalah perantara untuk tujuan utama, yaitu penyelamatan umat manusia dari kuasa dosa, karena manusia telah kehilangan kasih Allah, bagai domba tak tergembalakan. 

Mujizat adalah perantara, tujuan utama adalah penyelamatan umat manusia.

Tuhan Yesus memberkati

DS