Renungan Harian, Selasa 23 Juni 2020

Mazmur 119:97-105

Judul Mazmur 119 ini adalah bahagianya orang yang taat pada Firman Allah (ayat 176)

Secara keseluruhan Mazmur 119 ini berisikan berbagai doa, pujian, dan pernyataan akan ketaatan. Doa doa yang disampaikan pemazmur keluar dari pengalaman dan hati yang sangat mengasihi Tuhan dan Firman-Nya.

Pemazmur sangat menyadari kebergantungannya kepada Firman, oleh karena itu baginya Firman Tuhan adalah satu hal yang sangat penting dalam hidupnya, yang dapat memberikan hikmat, membimbing, menuntun, menghibur, memberikan jalan keluar atas setiap persoalan, memberikan harapan baru, memberikan kekuatan dan masih banyak hal lagi yang dinikmati oleh pemazmur. Pemazmur berusaha mendisiplin diri untuk mencintai Firman Allah dengan cara membeca, merenungkan dan melakukan Firman Allah dalam hidupnya setiap hari.

Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. (Mazmur 119:97)

Saat ini sangat mudah memperoleh Alkitab. Ada di berbagai toko buku,  berbagai versi elektronik dan dapat diunduh di telepon genggam. Namun ada sebuah kisah nyata seorang gadis kecil yang sangat mencintai Alkitab sehingga berjuang keras untuk bisa mendapatkan Alkitab dengan segala keterbatasannya.

Mary Jones lahir dalam keluarga sederhana di Inggris, 16 Desember 1784. Sejak kecil, ia rajin ke gereja bersama orang tuanya. Ia selalu terpesona mendengar berbagai kisah Alkitab. Ia pun ingin memilikinya. Tapi saat itu, Alkitab sangat jarang dan sangat mahal. Ayahnya tidak mampu membelinya. Lalu sejak umur 9 tahun, Mary beternak ayam, juga mengerjakan banyak hal dengan membantu tetangga-tetangganya dan upahnya ia tabung. Semya itu dilakukannya demi mendapatkan sebuah Alkitab. Setelah 6 tahun, uangnya cukup untuk membeli Alkitab.

Kerinduannya memiliki Alkitab membuat Ia rela berjalan kaki sejauh 40 kilometer untuk bertemu Tuan Charles, sang penjual Alkitab. Perjuangan Mary membuat Tuan Charles terharu. Ia pun membagikan kisah Mary kepada teman-temannya dan mereka bertekad untuk mendirikan suatu lembaga yang dapat menyediakan Alkitab agar orang-orang lebih mudah memperoleh Alkitab. Inilah kisah di balik berdirinya Lembaga Alkitab di Inggris, juga di berbagai negara lain, termasuk di Indonesia.

Kisah Mary ini membuat kita tertegur. Betapa mudahnya kita memperoleh Alkitab, tetapi betapa kurangnya rasa haus untuk membaca dan merenungkannya. Kita lebih cenderung memberikan banyak waktu kepada hal-hal yang tidak penting lebih daripada membaca dan merenungkan Firman Allah. Saat pagi hari kita bangun, apa yang kita buka pertama kali?  WA, facebook, Instagram, atau medsos yang lainnya lebih dulu? Ataukah kita membaca dan merenungkan Firman Allah terlebih dahulu sebelum kita membuka medsos?

Melalui kisah Marry ini kita diingatkan bukti kita mengashi Tuhan adalah kita rela memberikan waktu lebih untuk disiplin membaca, merenungkan dan melakukan Firman Allah.

Perlu ketetapan hati dan kedisiplinan dalam membaca Alkitab. Mungkin awalnya tidak mudah tapi jika kita lakukan terus menerus kita akan terbiasa dan menikmati Firman Allah sedemikian rupa sehingga tidak ada rasa jenuh dan bosan ketika membaca Firman Allah. Banyak hal hal baru yang Tuhan tunjukkan ketika kita membaca dan merenungkannya.  Firman Allah tidak pernah berubah tetapi hikmat, pengertian dan pemahaman kita akan Firman Allah yang kita baca akan selalu baru. Ini adalah berkat yang luar biasa, ketika kita bisa memahami Firman Tuhan yang kita baca.

Firman Tuhan sangat berkuasa menuntun dan memelihara hidup kita di jalan yang benar. Jangan pernah mulai hari tanpa membaca dan merenungkan Firman Allah.

ALKITAB ADALAH SURAT CINTA ALLAH PADA KITA YANG MENYATAKAN ISI HATI, KERINDUAN DAN RENCANANYA UNTUK HIDUP KITA DIMASA SEKARANG DAN YANG AKAN DATANG.

Mari kita cintai Firman Allah lebih dari hal-hal lainnya. Membaca Alkitab adalah kebutuhan dan keputusan kita, kesadaran karena kita memerlukannya setiap hari. Disiplin membaca alkitab menjadi disiplin rohani yang sangat penting dalam kehidupan orang percaya.

Selamat Pagi, selamat beraktifitas, Tuhan Yesus menyertai senantiasa.

EM