Kasih_Menutupi_Ambisi

Ambisi tidaklah buruk, namun jadi bermakna negatif  bila dikaitkan dengan motivasi mementingkan diri  sendiri sehingga  akhirnya  menghalalkan segala cara

Sekali lagi pertanyaanya apakah ambisi itu salah? Apakah salah jika kita termotivasi dan berusaha keras untuk menjadi yang terbaik? Jika kita tidak waspada bisa saja salah. Perbedaan antara ambisi yang benar dan yang salah terletak pada tujuan dan motivasi kita apakah itu untuk kemuliaan Allah atau untuk kemuliaan diri sendiri. Seringkali orang yang ambisius menemukan alasan untuk membenarkan diri.

Itulah yang bisa kita lihat dari Adonia  dalam bacaan kita hari ini.

Secara  garis keturunan, Adonia bisa saja menjadi  putra mahkota setelah Amnon (2 Samuel 13:28-29 ) dan Absalom (2 Samuel 18:15-18) terbunuh Adonia merupakan garis keturunan terdekat untuk menjadi putra mahkota, sementara Salomo adalah anak bungsu Daud.  Namun nabi Natan dan para  pahlawan yang selama ini mendukung kepemimpinan Daud tidak tinggal diam melihat ambisi Adonia yang berbahaya  itu, maka Natan bersama Betsyeba mengingatkan raja Daud mengenai janji yang pernah  ia berikan bahwa Salomolah  yang akan  mewarisi tahtahnya ( ayat  11 – 21 )

Andai Adonia berhasil menjadi raja  menggantikan Daud , bisa dibayangkan bagaimana ia akan menyingkirkan   semua orang yang berpotensi menjadi saingannya,   sebagaimana yang diantisipasi oleh Natan (ayat 12,21). Seolah-olah Adonia menganggap Daud sudah mati,  sehingga ia berhak naik tahta kecuali jika Daud mengangkatnya sebagai raja bersama,  mari  belajar dari Adonia,

JANGAN BERAMBISI MENGUASAI dan MENJATUHKAN ORANG LAIN.

Kenyataan, ada orang percaya yang mewujudkan ambisi pribadi dengan memanfaatkan kerabat ataupun keluarga untuk mendapatkan kuasa, jabatan dan kedudukan. Seharusnya orang percaya menjadi teladan melalui komitmen dan prestasi kerja untuk menggapai ambisinya bukan dengan menghalalkan semua cara.

“Dalam niat mengejar kebesaran, kita justru menjadi kerdil.” —

Eli Stanley Jones, Misionaris

Karena Ambisi seringkali menghasilkan tindakan yang menghalalkan segala cara yang tidak berkenan kepada Allah dan itu akan menghancurkan, sebaliknya seharusnya kita puaskan diri dengan apa yang Tuhan percayakan untuk kita.

Mari kita renungan bersama-sama dalam kehidupan kita, Apakah semangat kerja, usaha ataupun pelayanan kita berpusat pada ambisi untuk mencapai kepentingan diri sendiri dan kepuasan diri sendiri?

Kiranya renungan Firman Tuhan mengingatkan kembali, prinsip KASIH yang akan meruntuhkan AMBISI, milikilah kasih dan kepedulian kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari, dan terlebih lagi milikilah kasih kepada Tuhan, sehingga segala sesuatu yang kita kerjakan benar-benar untuk memuliakan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati.

EW