Rabu, 01 April 2020

Bacaan : Yakobus 1:19-21

Ibu Dina berteriak membangunkan Dina yang sedang tertidur pulas di pagi hari, sehingga menyebabkan Dina terkaget dan tersulut  amarahnya. Dina melampiaskan marahnya pada adiknya, Dino. Dina melempar roti ke muka adiknya dan menginjak sepatunya ketika sarapan bersama di meja bundar.

Dino masih merasa kesal atas kejadian tadi, lalu ketika di sekolah Dino membully teman kelasnya yaitu Andi. Andi marah pada Dino tapi tidak berani membalas, sehingga dia memilih menyimpan kemarahannya. Ketika pulang sekolah dan sampai rumah, Andi langsung membanting pintu rumahnya dan melemparkan tasnya ke lantai.

Kita bisa melihatkan dari cerita diatas, bahwa rasa marah dapat menjalar dari satu orang kepada orang lain dengan tiada hentinya. Setiap orang punya hak untuk marah, namun setiap orang juga  punya kebebasan untuk memilih meluapkan amarahnya atau tidak menuruti emosi tersebut. Apalagi kita sebagai anak muda, pasti emosi itu masih begitu menggebu-gebu dan kadang tidak terkendalikan.

Hari ini kita mau diingatkan bersama mengenai “Hati-hati dengan amarah kita”

Coba sekarang kita baca dalam Yakobus 1:19-21

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

Alkitab melalui Rasul Yakobus memberikan sebuah penjelasan yang sudah sangat jelas tentang “Amarah” menyatakan, “setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”

Kita sebagai anak muda seringkali identik dengan emosi yang masih labil dan tidak terkendali, tetapi sebagai anak Tuhan ayo kita ingat, lambatlah untuk “marah” dengan kata lain sebelum melakukan semuanya termasuk marah harus dipikir terlebih dahulu.

Bahkan dengan sangat jelas Tuhan ingatkan buat kita semua “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah”

Bahkan dalam  Mazmur 37 ayat 8 berkata, “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.”


Mengapa kita harus berhenti marah? Karena kemarahan yang tidak terkendali akan malah menjadi batu sandungan bagi kita, bahkan dapat melukai orang-orang disekitar kita. Dengan kita tidak memilih marah, kita dapat menunjukan identitas kita sebagai orang Kristiani yang terkenal dengan Kasihnya.

Ada tips sederhana untu meredahkan amarahmu.

  • Pertama, tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan, ulangi beberapa kali.
  • Kedua, sebelum kalian marah coba berhitung dari 1-100, kemudian berbicaralah.
  • Ketiga, kalian dapat menuliskan emosi tersebut pada sebuah buku, setelah itu coba kalian baca dan renungankan, apakah amarah tersebut dapat merugikan diri dan mengecewakan orang disekitar kalian atau tidak?

Selamat berjuang …

Dunia ini butuh seorang Kristiani yang ramah, bukan pemarah.”

Komitmenku hari ini :

Aku mau belajar untuk tidak lekas marah, karena kemarahan tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Allah.