Renungan Harian, Senin 16 November 2020

Tema diatas adalah pertanyaan yang diajukan kepada Musa … untuk membawa Musa menyadari tentang keberadaannya. Pertanyaan ini diajukan oleh Tuhan untuk mengajari Musa mengenai panggilan sebagai pemimpin umat Israel keluar dari tanah Mesir.

Ulangan 34:10 Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel.

Kita akan melihat kehidupan Musa dan PROSES yang dibentuk oleh Tuhan.

Awal yg baik…

Dalam kitab Keluaran kita melihat sebenarnya Musa memiliki kehidupan yang baik karena Musa dibesarkan di istana Firaun, bahkan tak seorang pun tahu ia seorang Ibrani. Dalam otoritasnya sebagai anak angkat Putri Firaun, kemungkinan dia adalah Firaun Masa Depan dan merupakan saat yang tepat Allah bekerja melalui Musa untuk membebaskan bangsa Israel.

Namun Faktanya … Tuhan tidak memakai Musa pada puncak kejayaan Musa … Namun ternyata rancangan Tuhan berbeda atas kehidupan Musa

MUSA Seorang yang Pernah Gagal

Keluaran 2:11-12, Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir.

Musa Gagal secara moral,  karena telah membunuh dan menghilangkan nyawa seseorang.
Terlalu tua, Usia Musa (80 Tahun) tidak ideal lahi sebagai seorang pemimpin.
Tak memenuhi syarat, Musa mengalami kegagalan dan tidak memenuhi syarat. Ketika menghadapi masalah. Musa melarIkan diri ke Midian (Jarak lebih dari 100km).

Jika Allah memilih orang-orang tercerdas dan terkuat, orang-orang akan segera melupakan dari mana asalnya pimpinan dan kuasa yang sesungguhnya. Orang akan memandang kepada manusia ketimbang memandang kepada Allah” – 

Jocelyn Soriano

MUSA Seorang yg Tidak Percaya Diri

Kegagalan yang dialami oleh Musa, membawa trauma tersendiri dan menjadi tidak percaya, karena ketika Tuhan menjumpai Musa untuk memanggilnya, namun Musa memiliki alasan untuk tidak mampu

Dan pada Puncaknya Musa adalah Seorang Nabi yang Tidak Ada Duanya, memiliki karakter yang kokoh

Keluaran 4:1-5 Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?“ 4:2 TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di tanganmu itu?” Jawab Musa: “Tongkat.” Firman TUHAN: “Lemparkanlah itu ke tanah.” Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya, Tetapi firman TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya” — Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya “supaya mereka percaya, bahwa TUHAN, Allah nenek moyang mereka, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub telah menampakkan diri kepadamu.”

 “Tongkat…”

Sebagai gembala tongkat yang ada ditangan Musa adalah alat yang utama yang pasti dibawa oleh Musa. Dan itulah yang dimiliki Musa.

Tongkat adalah Segala sesuatu yang harus ada untuk kita bisa hidup dan berkarya secara optimal. Bisa jadi Tongkat itu adalah talenta, kemampuan, pendidikan, keluarga, kekayaan, karunia atau passion yang Tuhan taruh dalam kehidupan kita.

Jika demikian, apapun “tongkat” yang ada didalam diri kita, kita bisa memakainya untuk mengembangkan diri … namun tongkat itu akan berbeda nilainya ketika berada ditangan Allah, maka akan semakin menjadi besar dan luar biasa.

Otoritas TONGKAT MUSA menjadi TONGKAT ALLAH, melalui tongkat inilah Tuhan memakainya untuk melakukan mujizat-mujizat besar.

Satu hal menguatkan saya, sementara saya bergumul dg ketidakmampuan saya, adalah cara Allah memakai tongkat Musa, sebuah tongkat kayu biasa. Keluaran 4:20 mengungkapkan rahasianya: Tongkat Musa telah menjadi tongkat ALLAH. Alkitab menegaskan bahwa perkara besar bisa terjadi melalui hal kecil jika ia diserahkan kepada Allah. Tidak ada orang kecil atau orang hebat dalam pengertian rohani, yang ada orang yang berserah dan yang tidak

Francis Schaeffer

ST