“Menghakimi adalah Kebiasaan yang Jelek”

“Menghakimi adalah Kebiasaan yang Jelek”

Renungan Harian Anak, Selasa  07 Desember 2021

Syalom , Adik Adik yang manis . Bagaimana kabarnya hari ini ? Sudah siap untuk kembali mendengarkan firman Tuhan? Tetap setia dan semangat ya.

Suatu saat Ani dan Ina bertemu dan terjadilah pembicaran berikut

”An, sini sebentar!” panggil Ina ketika pulang dari sekolah, Ani cepat mendekati Ina.
”Ada apa?” tanya Ani heran.
”Kau jangan berteman lagi dengan Tati. Dia mempunyai sifat yang tidak baik. ” Ina merasa kurang senang dengan Tati, maka ia ingin agar Tati tidak mempunyai teman lagi untuk diajak bermain. Ina berusaha menghasut Ani. Ia menjelekkan Tati di hadapan Ani, agar Ani terpengaruh oleh omongannya dan tidak mau bersahabat dengan Tati.

Adik-adik, seringkah kita seperti Ina, suka menjelekkan orang lain. Adakalanya hal ini timbul oleh karena iri hati. Kita tidak senang melihat orang lain lebih daripada kita. Dan Iblis senang bila kita berbuat demikian. Misalnya mencela orang dengan maksud menjelekkan dia.

Adik-adik Iblis pun tahu, dengan sikap demikian kesehatan rohani seseorang menjadi rusak. Dan inilah yang ia inginkan. Adik-adik, apa untungnya kalian mencari-cari kesalahan orang lain, sedangkan dirimu sendiri mempunyai banyak kesalahan? Mungkin kesalahanmu melebihi temanmu yang kaujelekkan.

Tuhan Yesus pernah memeberikan pengajaran supaya kita tidak menghakimi orang lain

Matius 7:1-5, Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Jangan menghakimi orang lain … Lihatlah kesalahan diri sendiri dan akuilah di hadapan Tuhan.

Tuhan Yesus akan mendengar dan mengampuni, sebab ia sangat mengasihi. Dia akan menolongmu agar adik-adik tidak mudah mencela orang lain, tetapi senang melihat kelebihan orang lain dan mengucap syukur pada Tuhan.

Ayat Hafalan

Amsal 20:11, “Anak-anak pun sudah dapat dikenal dari pada perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakuannya ”

Komitmenku hari ini

Aku mau belajar tidak menghakimi orang lain, karena itu adalah kebiasaan yang jelek dan tidak memiliki kasih kepada sesama

Y – KCP

Mengendalikan Diri

Mengendalikan Diri

Renungan Harian, Selasa 07 Desember 2021

Titus 2:6,”Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal”.

Betapa banyak orang yang tidak bisa mengendalikan diri, terutama emosi. Padahal, akibatnya akan merugikan kesehatan dan hal lainnya. Kadang kita pun sebagai seorang papa atau mama, guru, atau profesi lainnya TIDAK BISA MENGENDALIKAN DIRI. Kita perlu belajar mengendalikan diri. Tensi orang akhir-akhir ini makin cepat tinggi. Kita juga tidak mengendalikan diri dalam ekonomi. Banyak juga rumah tangga yang hancur karena masing-masing pasangan tidak bisa mengendalikan diri.

Pengendalian diri adalah KEMAMPUAN KITA UNTUK MENAHAN DIRI SEDEMIKIAN RUPA sehingga, baik berbicara, berpikir, dan bereaksi tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

”Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota (Ams. 16:32).”

Bayangkan, orang yang punya pengendalian diri hebat itu lebih hebat daripada pahlawan dan orang yang merebut kota. Ketika kita tidak bisa mengendalikan diri, musuh dalam segala macam bentuk akan masuk, menyerang, dan mengakibatkan kehancuran.

”Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya (Ams. 25:28).”

Ada Beberapa Hal yang Perlu Kita KENDALIKAN:

Emosi.

”Si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar, banyak pelanggarannya (Ams. 29:22).”

Emosi = keadaan jiwa yang masih bisa kita kendalikan. Kalau kita tidak bisa mengendalikan jiwa/emosi kita dan merasa tidak sadar, itu namanya kesurupan! Maka, belajarlah mengendalikan emosi kita. Berdoalah supaya Roh Kudus memampukannya.

Keinginan mata.

”Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku (Pengk. 2:10).”

Kadang mata kita sering membuat kita jatuh didalam berbagai dosa. Karena semua hal bisa kita lihat, baik yang disengaja atau pun tidak disengaja. Untuk itu kita perlu untuk mengendalikan keinginan mata kita. Agar kita tidak terseret jatuh kedalam hal yang tidak benar

Mulut.

Banyak pertengkaran terjadi karena tidak bisa menjaga kata-kata. Hal sepele tapi gara-gara tidak bisa mengendalikan mulut, hal buruk bisa terjadi.

Pikiran.

Disiplin bukan hanya bicara tentang waktu, melainkan juga pikiran. Pikiran yang salah akan menyebabkan respons, tindakan, kata-kata yang salah. Ada 2 pilihan saat kita mendengarkan firman Tuhan: Membiarkan saja ataukah menyelaraskan pikiran kita dengan firman-Nya?

Kadang kita menyalahkan Iblis ketika tidak bisa mengendalikan diri, padahal kita sendirilah yang tidak bisa mengendalikan diri. Sadari bahwa mengendalikan diri itu bukan hal yang susah-susah amat.

Cara Mengendalikan Diri :

Bangun kesadaran akan Tuhan.

Sadari DENGAN SENGAJA bahwa kita anak-Nya, Dia memperhatikan hidup kita, mata-Nya tertuju pada kita. Kesadaran akan Tuhan membuat kita menahan agar tidak berbuat dosa atau hal yang buruk dan tidak benar.

Ketahui kekurangan dan kelemahan kita.

Berbahagialah apabila kita memiliki sahabat baik yang memberitahu kesalahan kita supaya kita bisa menjadi lebih baik; bukan untuk menghancurkan. Sering kali kita butuh mendengar apa yang HARUS KITA DENGAR, dan bukannya yang ingin kita dengar. Belas kasihan yang keliru adalah membiarkan apa yang salah terus-menerus terjadi.

Membangun pola gaya hidup ilahi SECARA KONSISTEN.

Mengapa banyak orang tidak berubah-ubah, sekalipun setia ke gereja dan kerap mendengarkan khotbah? Karena pola hidupnya masih memakai pola yang lama. Maka, pastikan firman Tuhan yang Anda dengar mengubah pola hidup yang lama itu menjadi pola yang baru.

”Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan (Ef. 4:28).”

Hentikan tindakan yang salah kita selama ini, dan jangan diulangi. Lalu, belajarlah melakukan hal yang baik supaya dapat melakukan apa yang sebaliknya dari hal yang salah sebelumnya.

Mari kita menjadi orang Kristen yang bisa mengendalikan diri dan mengalami Tuhan dalam kehidupan kita. Jika kita bisa mengendalikan diri, kita akan menjadi orang yang luar biasa.

Tuhan Memberkati ….

YG

MENJADI TERANG

MENJADI TERANG

Renungan Harian Youth, Selasa 07 Desember 2021

Yohanes 8:12, Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

Syalom rekan-rekan Elohim Youth … semoga semua rekan-rekan tetap semangat dan bersukacita menjalani hari ini.  Salam Sehat dan semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan!!

Masuk bulan Desember di tahun kedua pandemi ini, rasanya campur aduk yaaa.  Teman-teman pasti juga sudah mendengar berita-berita yang berkembang menjelang Natal dan Tahun Baru yang akan kita lewati. Antara lain ada Ancaman varian omicron yang berarti kita harus waspada dengan adanya gelombang ke 3 yang bisa saja akan mengguncang kembali bangsa kita, sehingga PPKM akan kembali menjadi level 3 dan perayaan Natal dan Tahun Baru juga akhirnya akan dibatasi dengan harapan lonjakan kasus positif covid tidak seperti pada gelombang kedua.

Di sisi lain, salah satu pesan dari pemerintah adalah bagaimana kita punya pemahaman yang benar dalam menanggapi segala kebijakan yang berlaku; Waspada boleh, panic jangan!

Nah teman-teman, biasanya pada perayaan Natal, kita sering menemukan ada salah satu tema yang benar-benar menjadi tujuan Allah mengutus anak-Nya yaitu dengan MENJADI TERANG DUNIA.  Pernyataan ini pun pernah diucapakan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya.

Adalah sebuah kebahagiaan orang-orang yang mengikuti Kristus bahwa mereka tidak akan berjalan dalam kegelapan. -Matthew Henry –

Orang percaya tidak akan ditinggalkan begitu saja tanpa diberi petunjuk-petunjuk di jalan kebenaran yang penting untuk menjaga mereka dari kesalahan yang menghancurkan.  Orang percaya kan diberi terang hidup, yaitu pengetahuan dan kesukaan akan Allah. Dengan memahami bahwa Yesus Kristus adalah terang dunia, kita yang adalah pengikut-Nya  memiliki tugas mulia, yang dari tahun ke tahun diberitakan kepada kita, yaitu dengan MENJADI TERANG!

Sambil menantikan seluruh dunia dipulihkan dari pandemic, kita harus tetap menjadi terang! Mengapa?  Ada banyak berita negatif yang muncul tentang pandemi, PCR, antigen, vaksin, dan PPKM! Perkara-perkara tersebut belum ditambah dengan beberapa bencana yang terjadi akhir-akhir ini, dan berbagai peristiwa lainnya.  Selain itu ada tanggapan yang unik dari daerah-daerah Kristen yang sedikit keberatan jika beribadah di gereja harus memakai aplikasi peduli lindungi. Dari semua kabar-kabar negatif tersebut, dampak yang muncul di masyarakat adalah keraguan, ketakutan, kuatir dan juga cenderung memiliki sikap yang berlawanan dari semua tujuan yang yang berlaku, khususnya dengan kebijakan pemerintah.

Melihat situasi yang seperti ini, sebagai anak muda Kristen, Sikap kita harus bagaimana? Apakah kita akan menjadi orang-orang yang opposant tanpa memahami situasi, ataukah kita tampil menjadi terang-terang Allah yang mampu memberikan respon positif sesuai dengan hikmat dan kebenaran Allah yang telah kita terima.

Matius 5: 14, Kamu adalah terang dunia.

Bicara mengenai terang, tentu fungsi utamanya adalah memberikan cahaya, penerangan di tempat dia berada.  Orang percaya secara positif berfungsi sebagai penerang dunia di dalam gelap karena memiliki Kristus yang adalah Terang Dunia.

Kita wajib membagikan sesuatu yang positif, baik, dan benar; tidak menyesatkan, supaya banyak orang dapat memahami kebenaran dan tujuan dari segala perkara yang terjadi di dunia ini.

Matius 5:16,  Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Perbuatan yang membawa kebenaran adalah cerminan kehidupan anak Tuhan yang memuliakan Bapa-Nya yang di sorga.  Orang-orang di sekitar kita bukan saja harus mendengar perkataan baik kita, melainkan juga harus dapat melihat perbuatan baik kita, supaya dengan demikian mereka mampu lihat bahwa ada Terang Kristus yang diam di dalam kita.

Jangan sembunyikan kenyataan bahwa anda adalah seorang percaya.  Sehingga kita semakin memancarkan cahaya terang Kristus.

Efesus 5: 8-9,  Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,

Yesus Kristus adalah terang dunia, dan siapa saja yang menyebut diri pengikut Kristus harus hidup di dalam terang.  Karakter terang akan nyata melalui kebaikan, keadilan, dan kebenaran yang muncul sebagai buahnya. 

Hidup sebagai anak terang juga berarti selalu mencari apa yang berkenan bagi Tuhan yang telah menganugerahkan keselamatan.

Amin

Tuhan Yesus Memberkati

RM – MLE

Bergulat Dengan Kekecewaan

Bergulat Dengan Kekecewaan

Renungan Harian, Senin 06 Desember 2021

Dalam hidup ini jarang kita jumpai kenyataan dan realita, bahwa seringkali apa yang kita impikan dan harapkan tidak semanis dengan kenyataan yang kita jumpai. Kadang kadang sebagai orang percaya, kita cenderung mengabaikan kemanusiaan kita. Mengapa demikian? Karena kadang kadang kita mengingkari perasaan perasaan kita sendiri. Sehingga kadang kadang kita merasa tidak diberi ruang untuk menjadi jujur dengan situasi yang kita alami. Dan kadang kadang kita tidak berani mengungkapkan dan mengekspresikan itu, yang mana pada akhirnya itu tidak menjadi sehat secara emosional yang pada akhirnya juga tidak sehat secara spiritual.

Hasil survey mengenai kondisi orang Indonesia yang dipublikasikan dari kutipan INTERNATIONAL JURNAL OF PUBLIC HEALTH SCIENCE yang diterbitkan pada bulan Maret lalu, yang menyebutkan bahwa ; paling tidak 40% orang Indonesia mengalami stress dan tekanan tekanan emosional dihari hari ini.

Pagi ini kita akan belajar bagaimana menghadapi dan meresponi situasi dan kondisi semacam ini, saat kita bergulat dengan kekecewaan yang datang dalam hidup kita :

Melalui Yeremia 19 dan 20 ini kita bisa melihat bagaimana kondisi perasaan nabi Yeremia.

Dalam pasal 19, ketika Yeremia dalam usia muda dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi nabi menyampaikan firman Tuhan kepada umatNya. Dalam pasal ini TUHAN memerintahkan Yeremia untuk mengumpulkan para Tua-tua Israel, para pemimpin dan juga para Imam Senior di Bait Allah.

Dalam pasal 20, Yeremia berhadapan dengan kenyataan yang menyesakkan buat dia, ketika dia menyampaikan firman Tuhan, dan menyampaikan perintah Tuhan, dia malah ditangkap oleh Kepala Bait Allah, dan dia dipukuli serta memasungnya,  lalu mengurung dia dipintu gerbang Benyamin Bait Allah.

Mungkin ada saat saat dimana kita merasa sudah melakukan apa yang Tuhan mau, melakukan apa yang benar, dan kita sudah berusaha untuk melakukan yang baik, namun malah yang terjadi adalah yang sebaliknya. Saat kita melakukan semua apa yang baik, melakukan apa yang semestinya kita lakukan, namun yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan, kita akan menjadi sangat mudah untuk menjadi marah dan kecewa, karena rasanya apa yang kurang, semua sudah dilakukan dengan apa yang semestinya.

Yeremia 20 : 7-13, dalam ayat ini kita akan belajar bagaimana seharusnya respon kita saat kita bergulat dengan kekecewaan dalam hidup, ketika realita tidak semanis harapan kita.

  1. Jujurlah kepada Tuhan

Yeremia 20:7, “Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku.”

Kata “membujuk” itu diterjemahkan dari satu kata dalam  Bahasa Ibrani, yang juga memiliki arti yaitu “merayu”, bahkan juga bisa mempunyai arti “memperdaya”, dengan kata lain disini Yeremia merasa bahwa dia seperti seorang gadis yang dirayu, dibujuk oleh kekasihnya, namun kekasihnya itu memperdaya dia, dan dia merasa diperlakukan dengan tidak benar.

Dari ayat 7 ini kita melihat bahwa Allah menghargai kejujuran umatNya, bahkan ketika kita sedang kecewa, frustasi, marah. Tuhan tahu saat kita sedang marah, frustasi dan kesal, tapi beranikah kita datang dan mengakuinya dihadapan Tuhan dengan jujur? Tuhan mengerti, karena justru dengan keterbukaan dan kejujuran kita, bukan Tuhan yang diuntungkan, namun sebenarnya pemulihan terjadi dalam diri kita. Ketika kita tidak sedang menutup nutupi apa yang kita rasa, tapi dengan jujur datang kepada Tuhan, sehingga dengan demikian spiritualitas kita menjadi sehat secara emosional.

Lalu  bagaimana supaya kita memiliki spiritual kerohanian yang sehat secara emosional?

2. Taatlah, walau rasanya berat

Yeremia 20:9, Tetapi apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.

”Ketaatan memang sulit, bahkan kadang menyakitkan, namun ketidaktaatan konsekuensinya lebih berat dan menyakitkan”

Ketaatan tidak selalu mulus dan lancer, tidak selalu menyenangkan, namun kalau kita memilih untuk tidak taat, justru resiko dari ketidaktaatan itu lebih menyakitkan buat diri kita sendiri.  Selama 40 tahun dalam pelayanan nabi Yerema, dia tidak pernah mengalami hal yang manis sedikitpun, bahkan ketika dia mati, dia dibunuh oleh umat yang dia sayangi sendiri, karena menyampaikan firman Tuhan, tapi Yeremia memilih untuk taat. Hari hari ini, ketika kita bergumul dengan rasa kecewa, bergulat dengan kekecewaan yang menghentak, padahal kita merasa sudah melakukan hal yang tepat, sudah berusaha dengan maksimal, tetapi kita harus memilih untuk taat kepada TUHAN.

3. Sadarilah

Yeremia 20:11, Tetapi TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan!

Yang perlu kita sadari adalah, bahwa kita tidak pernah berjalan sendiri. Jalannya memang berat, pergulatannya memang tidak ringan, namun kita harus menyadari, bahwa TUHAN menyertai seperti pahlawan yang gagah.

4. Sembah  dan Puji Tuhan.

Yeremia 20:13, Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat.

Kesadaran akan penyertaan Tuhan itu akan membangkitkan rasa syukur, pujian dan penyembahan, walaupun masih melewati jalan yang berat, namun pujian syukur dan penyembahan itu yang akhirnya memberi kekuatan untuk melangkah.  Ketika hati dilimpahi dengan rasa syukur dan pujian, bahkan ditengah tengah tantangan sekalipun, disitu ada kekuatan yang baru untuk senantiasa melangkah. Karena pada saat umat menyembah dan memuji, maka pada saat yang sama kita sedang mengakui bahwa DIA adalah yang ALLAH yang memegang kendali.

4 hasil dampak, ketika kita datang kepada Tuhan dengan pujian penyembahan:

1. Menolong kita untuk memiliki fokus yang tepat.

Fokus kita bukan kepada situasi dan kondisi,namun fokus kita kepada Tuhan yang berdaulat. Sehingga fokus kita bukan kepada besarnya masalah kita, namun fokus kita kepada besarnya ALLAH kita.

2. Rancangan Tuhan adalah rancangan yang tertinggi dan terbaik buat kita.

Yeremia 29:11, Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

3. Kita belajar untuk menerima kenyataan dan realita.

Waktu kita datang dengan tulus kepada Tuhan, disitu kita belajar untuk menerima realita yang ada karena ada satu keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai .

4. Menghadirkan kuasa ALLAH dalam situasi dan kondisi kita.

Mungkin dalam situasi kita, kita merasa tidak ada penjara, namun saat kita menyembah, sendi sendi penjara kekecewaan dan kemarahan, itu bisa digoyangkan dengan kehadiran kuasa TUHAN dalam pergumulan hidup kita, sehingga kita akan tetap kuat untuk melangkah dengan setia.

Tuhan Yesus Memberkati

Rangkuman Khotbah

Pdt. Posuka Loke

“Belas Kasihan Tuhan”

“Belas Kasihan Tuhan”

Renungan harian Anak, Senin 06 Desember 2021

Syalom adik-adik Elohim kids, bagaimana kabar kalian? Semoga semuanya baik-baik dan sehat ya… tetap semangat semuanya ya …

Hari ini kita akan belajar bersama-sama tentang belas kasihan Tuhan. Adik-adik Kalau orang tua kita didunia ini saja penuh dengan belas kasihan terlebih Bapa kita yang di Surga, tentunya memiliki belas kasihan bagi seluruh umat manusia. Kalau kita salah memang seringkali orang tua akan mengajari kita supaya kita bisa jadi lebih baik lagi dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Kita sering berbuat salah namun belas kasihan dan pengampunan Tuhan membuat kita dipulihkan Kembali.

Kita belajar dari belas kasih Tuhan kepada kota Niniwe, kota yang sangat besar. Niniwe sebenarnya adalah kota yang jahat, karena itulah Yunus membencinya dan menolak untuk diutus oleh Tuhan kekota itu. Yunus juga protes terhadap kasih dan kebaikan Allah bagi bangsa Niniwe. Tetapi setelah Tuhan mendidiknya, Yunus akhirnya Taat dan mau untuk mengikuti perintah Tuhan.

Di tengah kota, mulailah Yunus berseru supaya orang-orang di kota itu bertobat. Apa yang Yunus katakan? Empat puluh hari lagi, maka kota Niniwe akan maka Niniwe akan ditunggangbalikkan“. Melalui nabi Yunus Tuhan berfirman bahwa Tuhan akan menghukum mereka jika mereka tidak bertobat. Dan ajaibnya bangsa Niniwe yang terkenal jahat itu tersentuh hati mereka dan mereka mau mendengarkan perkataan Nabi Yunus. Raja pun memerintahkan “Semua orang, bahkan hewan harus berpuasa!” Lalu, semua orang di kota itu pun berpuasa, bahkan hewan ternak pun ikut disuruh puasa oleh pemiliknya. Semua orang di kota itu bertobat, mereka berhenti berbuat jahat, lalu melakukan hal-hal baik. Mereka sadar bahwa selama ini mereka sudah berbuat dosa. Mereka sudah bersalah kepada Tuhan.  Bangsa Niniwe memohon ampun kepada Tuhan. Apakah bangsa niniwe tetap menerima hukuman Tuhan? Ternyata tidak … saat Tuhan melihat mereka menyesali kesalahan mereka, Tuhan yang penuh kasih sayang mengampuni kesalahan mereka. Mereka tidak mendapat hukuman. Setelah itu bangsa Niniwe pun menjadi umat yang benar- benar mau menurut pada firman Tuhan.

Adik-adik, Tuhan tidak membeda-bedakan orang, Dia sayang kepada semua orang termasuk kepada orang-orang jahat. Tetapi Tuhan tentu ingin agar orang-orang jahat bertobat, berhenti berbuat jahat, karenanya Tuhan memberi kesempatan.  Begitu pula dengan kita. Tuhan pun sayang kepada kita, memberi belas kasihan-Nya. Sekalipun terkadang kita nakal, berbuat salah, bahkan jahat, Tuhan memberi kesempatan supaya kita bertobat dan tidak melakukannya lagi.

Jadi kalau kita sudah berbuat salah, apa yang harus kita lakukan? Minta maaf dan memohon ampunan Tuhan. Tuhan pasti mengampuni! Pasti Mama dan Papa juga memaafkan. Karena Tuhan mengasihi kita, seperti mama dan papa juga mengasihi Adik-adik semua. Seperti penduduk kota Niniwe yang Menyesali dosanya, penyesalan menunjuk pada kemurahan kasih TUHAN jauh lebih besar daripada segala kejahatan manusia …  ketika mereka mau bertobat Tuhan setia untuk memberikan kesempatan yang baru.

Ayat Hafalan

Roma 4:7 “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya;

Komitmenku hari ini

Terima kasih Tuhan untuk belas kasihanmu bagi kehidupan kami, kasih-Mu yang mengampuni dan memulihkan kehidupanku

SF0512 – SP