Renungan harian Youth, Sabtu 16 Januari 2021

Kejadian 1:1, Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Rekan-rekan youth, akhir-akhir ini kita menemukan ada begitu banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam kehidupan ini.  Khususnya sepanjang tahun 2020 dan memasuki tahun 2021 ini kita menemukan bahwa keadaan dunia yang semula normal kemudian tergoncang dengan sebuah virus yang menyerang bangsa-bangsa di dunia ini.  Dari sini pun kita belajar bahwa kehidupan dan kematian merupakan dua hal yang disoroti oleh khalayak ramai. Secara tidak langsung seseorang bisa saja “membunuh” orang lain hanya dengan tidak memakai masker dan mengikuti protokol kesehatan yang ada.  Terkadang ditengah situasi yang sulit dipahami ini ingatlah tetap ada Perencana Agung atas alam semesta ini.

Nah Jika kita kembali kepada kisah penciptaan di dalam kitab Kejadian 1, maka  dapat kita simpulkan bahwa segala sesuatu jadi karena perkataan Allah atau Firman Allah.  Dan memang awal dari segala karya Allah di dalam Alkitab dimulai oleh Allah sendiri

Allah kita adalah Awal dari segala Perjanjian-Nya dengan segala ciptaan-Nya.

Tuhan telah memberi kita sebuah perpustakaan terdiri dari 66 Kitab.  Kata Latin Biblia berarti kitab-kitab.  Perjanjian Lama yang terdiri dari 39 kitab, mencakup lebih dari 2000 tahun, ditulis oleh beragam penulis dan mencakup jenis sastra.  Karenanya, tidak heran bahwa banyak orang datang ke Alkitab bertanya-tanya bagaimana semua itu dapat bertautan.  Tuhan tidak menata Alkitab secara topikal sehingga kita dapat mempelajari tema-tema secara perorangan: Ia mengaturnya agar kita dapat membaca kitab pada satu kesempatan.  Alkitab adalah kebenaran tentang diri-Nya dan bagaimana kita harus berhubungan dengan Dia, digelar dalam konteks sejarah.  Ia memberitahu bagaimana manusia, secara prinsip bangsa Israel, sampai mengalami Tuhan untuk diri mereka dan merespon Firman-Nya.

(dikutip dari buku “Membuka Isi Alkitab-Perjanjian Lama: David Pawson. 21)

Ketika kita ingin memahami dan hidup dalam Perjanjian Allah itu, maka dari kutipan diatas kita menemukan bahwa ada

2 kunci bagi manusia yang ingin melihat konsistensi Allah di dalam Perjanjian-Nya, yaitu:

Pertama Mengalami Tuhan,

Dari apa yang Allah nyatakan di dalam zaman Patriakh (zaman Bapa-bapa leluhur), maka semuanya diarahkan kepada pengalaman-pengalaman yang langsung bersama dengan Tuhan.  Contohnya pada saat Adam dan Hawa di taman Eden, alkitab mencatat bahwa mereka sebenarnya sudah ada di dalam perjanjian Tuhan dengan segala “tata tertib” yang diberikan Tuhan kepada mereka. Bahkan setelah manusia itu jatuh ke dalam dosa, Tuhan selalu berinisiatif untuk menyatakan diri kepada mereka (lihatlah pengalaman Kain, Nuh, Abraham, Musa, dll). 

Bahkan kepada bangsa Israel (dari zaman Yusuf, zaman perbudakan, zaman Hakim-hakim, zaman kerajaan, zaman pembuangan, zaman Yesus, zaman rasul-rasul) dan kepada umat Tuhan dari masa ke masa.  Mengalami Tuhan bukan hanya sekedar ketika saat kita beribadah saja, namun di dalam segala aktifitas kita sadar akan kehadiran-Nya di dalam hidup kita.

Kedua, Merespon Firman-Nya

Merespon firman Allah dengan tepat merupakan sebuah perjuangan setiap orang yang percaya kepada Tuhan. Mengapa?  Terlalu mudah bagi Tuhan untuk menyatakan diri-Nya kepada setiap orang yang rindu akan keberadaan-Nya dan mengalami Tuhan dalam segala aktivitasnya.  Namun pada saat Allah berfirman dan memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak kita, apakah mudah bagi kita untuk langsung berkata “yes God” kepada Tuhan?

Lihatlah kisah seorang Yunus yang merespon perintah Allah untuk memberitakan firman Tuhan kepada bangsa Niniwe.  Dalam perjumpaan dengan Tuhan, Yunus harus menerima perintah yang bertentangan dengan kehendak hatinya sehingga Yunus lari dari hadapan Tuhan.  Yunus memperlihatkan bahwa rasa tunduk diri sangat sulit untuk diterapkan jika hati kita tidak meresponi keinginan Tuhan secara tepat.

Dalam perenungan singkat ini, kita bisa belajar bahwa Tuhan ingin membuat perjanjian dengan manusia bukan karena Dia butuh perjanjian itu, namun karena Tuhan ingin melihat kehendak-Nya selaras dengan respon manusia sehingga itu menjadi suatu kebajikan bagi setiap manusia yang mengalami Tuhan setiap saat.

Banyak orang gagal memahami perjanjian Allah, bahkan mengalami Allah saja orang itu sangat sulit apalagi meresponi dengan benar firman Allah yang diberikan, sehingga keseluruhan janji Allah gagal tercapai dalam kehidupan orang tersebut. 

Pahami dan kenali Allah kita, mulailah dengan membaca segala perjanjian-Nya dari awal sampai akhir di dalam Alkitab kita, maka kita dapat memiliki cukup banyak pengertian tentang perjanjian Allah. Sudahkah kamu membuka Alkitabmu hari ini ?

Komitmen kita:

Aku mau terus mencari Tuhan dan mengalami Tuhan dalam segala kehidupanku dan meresponi segala perintah-Nya dengan mengarahkan hatiku kepada tujuan Tuhan di dalam kehidupanku.

Amin … Tuhan Yesus Memberkati.

RM – YDK

PENGUMUMAN …

Buat rekan-rekan youth … jangan lupa nanti sore di chanel youtube Elohim ministry … Nanti sore ada EL-Rei jam 16.30 yang akan menemani kalian untuk memahami isu-isu yang banyak anak muda hadapi, dan tentunya kita akan belajar juga dari sudut pandang Firman Tuhan … dan tema kita nanti sore adalah “MASA PENANTIAN”. Menanti tentunya tidak menyenangkan, tetapi itu semua adalah fakta yang harus kita jalani. Karena itulah kita harus menjalani masa penantian dengan tepat, bagaimana caranya? Temukan jawabannya dalam obrolan kita nanti sore

Dan Juga jangan lupa buat Ibadah sudah bisa digedung gereja jam 06.00 pagi, dan Sunday Funday jam 08.15 di chanel youtube Elohim ministry.