Renungan harian Youth, Senin 19 Oktober 2020

Publik saat ini dihebohkan dengan game Among Us. Salah satu gameplay yang ada di game ini digadang-gadang dapat ‘merusak pertemanan’, karena pemain dapat menuduh satu sama lainnya. Among Us merupakan permainan multiplayer yang menuntut kerja sama tim dan usaha pengkhianatan. Dalam game ini, para pemain harus bisa bekerja sama untuk meyakinkan satu sama lain. Ada dua peran yang berbeda, yakni crewmate dan impostor. Crewmate merupakan peran baik yang dituntut untuk menyelesaikan misi kecil yakni memperbaiki pesawat. Sementara impostor merupakan peran jahat yang menuntut player untuk menjadi penghianat dan memiliki misi menghabisi semua anggota crewmate. Bisa jadi ada yang menjadi crew biasa dan ada yang menjadi Impostor.  Impostor, seolah-olah dia adalah manusia biasa ditengah manusia-manusia lainnya. Tapi ternyata Impostor memakai topeng dan dibalik topeng tersebut, pelan-pelan dia membunuh orang” disekitarnya. Dari games ini kita melihat bahwa ada seseorang serigala berbulu domba, seolah-olah dia berlaku sebagai kawan, padahal dia adalah serigala yang adalah lawan..

Kemunafikan menjadi salah satu problema yang sering dihadapi oleh orang-orang Kristen dan tak jarang kemunafikan menjadi masalah yang mengerogoti Kekristenan itu sendiri, bahkan bisa dibilang menyerang kalangan pemuda remajanya. Ada sebuah riset salah satu faktor  yang membuat Kekristenan mundur di kalangan anak muda  adalah adanya kemunafikan dari orang-orang yang menyebut dirinya rohani.

Di dalam bahasa Yunani, bahasa asli penulisan Alkitab Perjanjian Baru, istilah munafik (hipokrit) mengacu kepada seorang aktor. Ketika kamu sedang menonton drama, para pemerannya adalah orang-orang yang munafik, dalam arti bahwa mereka berpura-pura menjadi orang lain, seperti halnya memakai topeng. Seorang munafik adalah seorang yang sedang beradegan (melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan diri mereka).

Apakah kamu orang yang munafik? Yuk kenali cirinya!

Bagaimana ciri-ciri orang yang berlaku munafik? Belajar dari teguran Tuhan Yesus terhadap orang Farisi dan Ahli Taurat dalam Matius 6 dan 23.

1. Gampang melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak melihat kesalahan sendiri.

Tuhan Yesus kerap kali menegur orang Farisi dan ahli Taurat karena mereka begitu ahli melihat kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan orang lain.

“Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” – Lukas 6:42

2. Suka Mencari Muka

Apa alasan kita melakukan sesuatu? Apakah untuk Tuhan, atau agar dipuji manusia? Saat kita lebih memilih berbuat sesuatu supaya dilihat orang, kita sudah menjadi orang munafik.

3. Terlihat bagus di luar, tapi di dalam, siapa tahu?

Banyak orang terbungkus dengan sampul yang kelihatannya baik dan rohani. Namun, bagaimana sikap hati kita sebenarnya? Apakah kamu rajin pelayanan, tetapi dosa terus dilakukan selancar jalan tol?  Apakah rajin beribadah, namun tong kosong prakteknya?

KEMUNAFIKAN secara sederhana adalah Hati dan tindakan berbeda, Melakukan sesuatu dengan pura-pura. Berarti dia melakukan sesuatu tidak dengan tulus. Hanya mau menerima manfaat tanpa resiko dan Pandai berteori tanpa praktek.

Mengatasi kemunafikan adalah proses perubahan setiap kita. Karena masalah kemunafikan terjadi akar permasalahannya adalah keegoisan … yang diutamakan adalah kepentingan diri, pendapatannya, kemauannya dan penilaiannya sendiri terhadap orang lain.

Kemunafikan membuat orang tidak dapat melihat kesalahan sendiri, tapi cenderung mudah menghakimi orang lain.  Hal Kunci untuk mengatasi Kemunafikan adalah INTEGRITAS.

Integritas seseorang erat kaitannya dengan jati diri yang sejati. Seluruh aspek kehidupannya, baik yang internal maupun eksternal, berjalan dengan harmonis, tanpa kepalsuan atau kemunafikan. Dengan kata lain, pribadi yang berintegritas adalah mereka yang memiliki keselarasan dalam pikiran, perasaan, perbuatan, serta perkataannya. Integritas merupakan hal yang sepaket dengan kehidupan rohaninya. Integritas menjadi gambaran hidup orang percaya, yang tercermin dari sikap sehari-harinya, entah saat berada di tempat umum maupun saat sendirian.

Menjadi pribadi yang beritegritas sama dengan membangun kehidupan yang semakin serupa dengan Kristus. Yang dikejar adalah apa yang menyenangkan hati Tuhan, bukan apa yang berkenan kepada manusia

Di tengah banyaknya kepalsuan dan kepura-puraan di dunia, kita sebagai orang Kristen sebenarnya sudah punya fondasi yang benar, yaitu Tuhan. Jadi, padankanlah hidup kita dengan pikiran dan perasaan Kristus. Dengan demikian, integritas kita dapat menjadi inspirasi bagi mereka yang belum mengenal Tuhan. Karena ingatlah bahwa Kemunafikan menghambat pertumbuhan rohani kita, 

“Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,”  (1 Petrus 2:1-2).

Komitmenku hari ini

Dari pada sibuk menilai dan memberikan stempel munafik kepada orang lain lebih baik untuk sibuk membangun Intergitas dalam kehidupan kita

EL Rei 171020 – KPH