Renungan Harian Sabtu, 20 Juni 2020

Saat kita memercayai Kristus sebagai Juruselamat kita, kita mene­rima anugerah hidup kekal. Kita menjadi anak-anak Allah, anggota keluarga-Nya. Roh Kudus diberikan kepada kita dan tinggal di dalam kita. Ia memastikan kedudukan kita di dalam keluarga Allah dan keselamatan kita, dan Ia mengubah kepribadian kita serta memampukan kita untuk mencerminkan anugerah Allah dan keindahan Tuhan Yesus Kristus.

Salah satu Buah Roh adalah kesabaran, atau tahan menderita. Kata Yunani yang menjadi asal kata ini memiliki arti tidak mudah marah. Berulang kali Perjanjian Lama menyatakan bahwa sifat ini berasal dari Allah.

1. Apakah Anda mudah marah?

Roh Kudus menolong kita mengatasi atau menguasai sifat pemarah kita. Roh Kudus ingin memampukan kita untuk mengendalikan sikap dan perbuatan kita ketika kita mungkin saja “kehilangan kendali dan meledak.” Bagaimana caranya supaya kita tidak kehilangan kendali? Apakah Anda pernah mencobanya? Apakah Anda sudah berusaha mengen­dalikan lidah Anda dan menahan kata-kata kasar yang ingin diucapkan kepada orang lain? Bagaimana Anda menanggapi atau bereaksi terhadap kekecewaan yang tiba-tiba muncul dalam hidup Anda? Apakah Anda dikenal suka memberi jawaban yang terburu-buru kepada orang yang tidak ramah kepada Anda? Ingatlah salah satu buah Roh adalah KESABARAN.

2. Bagaimana Anda menanggapi kekecewaan dan perlakuan yang tidak baik?

Orang-orang yang hidup bersama orang lain tidak dapat terlepas dari kesalahpahaman, perlakuan yang tidak baik, dan bahkan anggapan keliru yang disengaja. Reaksi kita terhadap perlakuan tidak baik yang tidak pantas kita terima tersebut menunjukkan tingkat kedewasaan rohani dan mental kita. Kristus Yesus telah memberikan Roh Kudus kepada kita untuk menolong kita menanggapi kekecewaan atau perlakuan yang tidak baik dalam hidup.

Beberapa tanggapan terhadap kekecewaan

Sebagian orang mungkin menanggapi perlakuan yang tidak baik de­ngan menarik diri dan menjadi depresi. Depresi adalah amarah yang ditujukan kepada diri sendiri dan bisa sangat menghan­curkan.

Sebagian orang menanggapi perlakuan yang tidak baik dengan mengembangkan dan melampiaskan rasa marah. Reaksi ini amat merugikan bagi orang yang terluka.

Sebagian orang menanggapi kekecewaan atau perlakuan yang tidak baik dengan melakukan balas dendam terhadap orang yang bertang­gung jawab atas luka yang ditimbulkan. Respons ini bisa meng­hasilkan banyak hal mulai dari kata-kata yang kasar hingga tin­dakan kekerasan yang lain.

Sebagian orang menanggapi perlakuan yang tidak baik dengan bertekad melakukan pembalasan kelak pada masa yang akan datang. Mengikuti cara ini berarti menyimpan kejahatan yang akan menghanguskan hati, mengganggu jiwa, dan menghalangi doa.

3. Roh Kudus memperlengkapi dan mendorong kita untuk menanggapi kekecewaan dan perlakuan yang tidak baik dengan sabar.

Tanpa kesabaran kita akan sangat sulit memaafkan orang lain. Alkitab berkata,

“Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran” (Amsal 19:11).

Kita mempelajari suatu kebenaran luar biasa saat kita mengetahui bahwa Yesus mengajarkan agar orang yang disakiti memaafkan demi kebaikannya sendiri dan bukan demi kebaikan orang yang menyakiti. Yesus mendorong kita untuk memberikan pengampunan tanpa batas (Matius 18:21- 22).

Apabila kita tidak mempraktikkan kesabaran. kita kehilangan pe­mahaman dan wawasan yang kita butuhkan untuk menghadapi ke­hidupan.

“Orang yang sabar besar pengertiannya. tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan” (Amsal 14:29).

Ter­buru-buru mengambil kesimpulan dan menanggapi berbagai kenyataan hidup dengan amarah membual seseorang tidak bisa mengamati dan memahami pentingnya kata-kata dan peristiwa.

Jika kita ingin pantas disebut Kristen, dan jika kita ingin mewakili Kristus secara tepat, kita harus mengizinkan Roh Kudus memampukan kita bersabar terhadap orang lain (Efesus 4:1-3).

Kesabaran dikatakan sebagai bagian penting dari sifat-sifat yang dikenakan oleh murid sejati Yesus Kristus (Kolose 3:12-14). Tuhan kita sangat sabar terhadap orang lain. Ia tidak menanggapi keadaan yang mengecewakan dengan amarah. Tuhan kita memiliki roh pengendalian diri dan kesabaran yang memampukan Dia untuk tidak membalas saat diperlakukan tidak baik.

 “Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang” (1 Tesalonika 5:14).

Roh Kudus mencurahkan kasih Allah ke atas kita. Kasih ini akan memampukan kita untuk mengasihi orang- orang yang tidak pantas dikasihi dan untuk meneladani Yesus Kristus, Tuhan kita,

dalam memberi respons ketika orang-orang memperlakukan kita dengan cara yang tidak baik, menge­cewakan kita, atau saat terjadi peristiwa yang menekan kita. Roh Kudus mendorong kita untuk tidak pernah kehilangan iman dan pengharapan, dan juga tidak berputus asa, melainkan terus maju, mengharapkan yang terbaik.

PA _ 32