Renungan Harian Youth, Kamis 12 November 2020

Matius 26:36-46

Satu kali, seorang anak bertanya kepada ayahnya,” Ayah, kenapa sih ayah selalu rajin berdoa? Padahal hidup kita ya begini begini aja dari dulu. Rasanya tidak ada yang berubah. Apa yang ayah dapat dari berdoa? “
Sang ayah menjawab,” Tidak ada yang ayah dapat, malah ayah banyak kehilangan” Si anak makin tidak mengerti, “kok malah hilang, yah? Apanya yang hilang? ” Dengan tenang, sang ayah menjawab, ” Yang hilang adalah kekhawatiran, kemarahan, kecewa, sakit hati, keraguan, kebencian, kesombongan, dan masih banyak hal negatif lainnya. Setalah berdoa, ayah kembali tenang.”

Jawaban doa tidak selalu tentang ‘apa yang kita dapat’, tapi juga tentang ‘apa yang hilang’. Jangan mengukur kebaikan Tuhan dari ‘apa yang kita dapat’ karena kadang Tuhan bekerja lewat ‘apa yang hilang’ dari kehidupan kita.

Kita mengenal istilah latin, “ora et labora” yang artinya “berdoa dan bekerja”.

Kedua hal yang perlu dikerjakan bersamaan. Sembari bekerja, kita berdoa. Berdoa untuk apa? Tentu saja agar Tuhan menyertai setiap pekerjaan yang kita lakukan, dan agar Tuhan memberikan berkatNya untuk setiap hal yang kita kerjakan. Dengan kata lain, agar kita mendapatkan sesuatu dari yang kita kerjakan, entah itu pendapatan, kesepakatan bisnis, pelanggan baru, supplier baru, nilai ujian, dan sebagainya.

Tapi apakah berdoa hanya soal itu?

Dalam kita belajar atau bekerja, tentu akan ada beberapa rintangan atau batu sandungan yang kita hadapi dalam prosesnya. Rintangan yang kita hadapi bisa berupa kekhawatiran apakah bisnis atau sekolah kita ini akan berhasil, Atau … Apakah kesepakatan ini akan mencapai titik temu, emosi ketika bertemu dengan rekan rekan-rekan yang tidak sepaham, rasa tertekan karena atasan yang terlalu banyak menuntut, atau mungkin teman sekitar yang membawa kebiasaan buruk. Batu sandungan kita bisa berupa kesombongan saat usaha kita mulai melonjak, iri hati saat teman seperjuangan kita memiliki prestasi, dsb.

Dalam hal-hal inilah doa juga menunjukkan perannya. Berdoa tidak selalu bicara tentang apa yang kita harap untuk didapatkan,tapi juga hal-hal yang perlu hilang dari diri kita. Dengan berdoa, kita tidak hanya bersukacita karena mendapatkan sesuatu,tapi juga merasakan damai sejahtera karena kita kehilangan rasa marah, stress, kecewa, kesombongan, dan hal negatif lainnya.

Dalam kisah Matius 26:36-46, Tuhan Yesus sedang berdoa dan bergumul di Getsemani karena ada Kayu Salib yang dia akan tanggung. Ada dosa seluruh umat manusia yang adalah cawan murka Allah yang akan diminumnya. Dan dalam pergumulannya yang sungguh berat, ada teladan DOA. Dan inilah yang Tuhan ingatkan bagi murid-muridNya dan juga buat kita semuanya

Matius 26:40 Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Jadikan Doa sebagai ruangan dimana Tuhan membentuk hati kita, memberikan apa yang kita perlukan dan melepaskan apa yang merintangi kehidupan kita.

Komitmen ku hari ini

Aku mau mencari Tuhan bukan hanya ketika aku menginginkan berkat, tapi juga saat aku perlu dijauhkan dari kekhawatiran dan keraguan

NV – SCW