Renungan Harian, Rabu 04 Februari 2021

Bacaan: Daniel 3:1-30

Pagi ini kita merenungkan bersama mengenai Iman. Iman bukan sekedar soal percaya, tetapi juga soal mempercayakan diri. Iman itu aktif, bukan sekedar diucapkan di bibir namun juga harus dikerjakan.

Mungkin kita sudah sering mendengar mengenai kisah seorang pemain acrobat yang membuat sebuah pertunjukan spektakuler dengan menyeberangi air terjun Niagara hanya mengunakan seutas tali yang direntangkan dari ujung yang sat uke ujung yang lain. Berbondong-bondong orang melihat pertunjukan yang menegangkan itu. Mereka menahan napas tegang ketika sang pemain acrobat mulai meniti tali, perlahan-lahan namun pasti. Sementara di bawah, air terjun bergemuruh dengan hebat. Dan, ia berhasil bolak-balik di atas air terjun itu. Semua penonton bertepuk tangan terkagum-kagum.

Namun kemudian dia bertanya kepada semua penonton: “Percayakah jika saya mampu melakukannya lagi?” dan semua orang berkata “percaya!”. Kemudian ia bertanya kembali “Percayakah kalau saya dapat melakukannya lagi bahkan dengan mengendong salah seorang dari anda?”, “Percaya! Percaya!”. “Nah, adakah dari antara anda yang bersedia untuk saya gendong menyeberang?”… sunyi. Diam… tidak ada yang menjawab.

Namun tiba-tiba, “Saya bersedia” teriak seorang anak kecil dari keramaian tersebut. Dan, pertunjukan dilanjutkan, sang pemain itu menggendong anak kecil itu dan dengan berhati-hati dia membawa anak itu menyeberangi air terjun Niagara dengan meniti diatas seutas tali sampai ditujuan.

Beriman juga seperti itu, bukan hanya sekedar berkata “percaya”, tetapi juga mewujudkan dalam tindakan.

Iman juga dinamis. Seperti tubuh kita bertumbuh, dari anak-anak sampai dewasa. Iman juga demikian, ada iman anak-anak dan ada juga iman yang dewasa. Bedanya, jika tubuh anak-anak dan tubuh dewasa ditentukan oleh usia, iman tidak. Belum tentu orang dewasa memiliki iman yang dewasa juga, atau bisa jadi seorang anak kecil malah bisa memiliki iman yang dewasa.

Apa yang menjadi perbedaannya:

Iman yang dewasa bertolak dari hati yang mengasihi tanpa syarat, tidak berpamrih, tidak menuntut, tanpa beban, tanpa paksaan. Iman ini adalah Iman Walaupun, bukan Iman Supaya. Walaupun 1001 halangan menghadang, walaupun harus melewati jalan terjal berliku tanpa ujung. Bukan supaya mendapatkan apa-apa yang diinginkan, atau supaya terhindar dari apa-apa yang tidak diinginkan.

Seperti yang tercermin dari ucapan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego di ay.16-18. Ketiganya menghadapi ancaman kematian sebagai konsekuensi dari iman mereka, dan mereka tidak undur. Iman mereka tidak goyah, apapun yang terjadi, entah Allah menyelamatkan mereka atau tidak, mereka tetap beriman kepada Allah.

Sebaliknya, Iman yang kekanak-kanakan selalu berpamrih, bersyarat, dan penuh dengan tuntutan. Contoh yang kita sering temukan di anak-anak Sekolah Minggu, ada anak yang memang rajin datang ke Sekolah Minggu tanpa mengarapkan hadiah menarik yang disiapkan oleh Guru-guru mereka. Namun, ada anak-anak yang sebenarnya enggan datang, lebih suka di rumah menonton tv atau bermain Game. Tetapi kalua sampai membolos, ia tidak dapat uang jajan, diomeli dan dapat hukumandari orang tuanya. Dari pada begitu, ia pun memilih pergi ke Sekolah Minggu.

Ini hanya sekedar contoh, namun bukankah dalam hidup beriman, banyak orang dewasa seperti itu? Rajin ke gereja, bukan dengan kesadaran untuk beribadah kepada Tuhan, tetapi karena pernah tidak datang kegereja, eh, kena musibah. Jadi kegereja lebih karena takut terkena musibah. Dan, masih banyak contoh-contoh lainnya.

Ini waktunya kita meningkatkan Iman kita dari iman yang kekanak-kanakan menuju iman yang dewasa. Memiliki Iman Walaupun, bukan Iman Supaya. Beriman bukan hanya sekedar berkata “percaya”, tetapi juga mewujudkan dalam tindakan

 Tuhan Yesus Memberkati

CM