Renungan Harian, Kamis 04 Juni 2020

2 Tawarikh 20:9, Bila sesuatu malapetaka menimpa kami, yakni pedang, penghukuman, penyakit sampar atau kelaparan, kami akan berdiri di muka rumah ini, di hadapan-Mu, karena nama-Mu tinggal di dalam rumah ini. Dan kami akan berseru kepada-Mu di dalam kesesakan kami, sampai Engkau mendengar dan menyelamatkan kami.

Tidak ada satu orang pun di dunia ini tidak pernah mengalami rasa takut. benarkah demikian? atau mungkin saudara tidak pernah punya rasa takut? atau beberapa orang yang membaca renungan ini punya rasa takut yang sejak usia dini ( takut ketinggian, gelap, sendirian, takut binatang liar, takut naik pesawat terbang, naik motor, dsb). Atau mungkin saat ini ada yang sementara berjuang mengatasi rasa takut. 

Rasa takut memang sering sekali menjadi momok yang menyebabkan banyak orang tidak berani mengambil keputususan dan bisa membuat seseorang menjadi trauma dengan sebuah kejadian dan depresi yang berkepanjangan.  Begitu fatalnya akibat yang disebabkan oleh rasa takut seorang manusia.

Seorang ibu pernah didatangi oleh debt-collector (penagih hutang) berbadan tegap dan berwajah seram. Kedatangan mereka bertujuan menagih hutang kartu kredit anaknya. Menurut cerita si ibu, si debt-collector memaksa bertemu dengan anaknya. Begitu takutnya sehingga sesudah peristiwa tersebut, si ibu mengalami shock (keterkejutan) berhari-hari (dikutip dari santapan harian 18 September 2010). Apa yang dialami sang ibu merapakan rasa takut yang disebabkan oleh kesalahan anaknya yang bahkan tidak dipikirkan sebelumnya oleh ibu tersebut.

Di dalam 2 Tawarikh 20, sebuah kabar mengerikan tiba-tiba datang kepada Yosafat, raja Yehuda pada saat itu. Tiga kelompok bangsa yang berdekatan dikabarkan akan menyerang Yehuda dan sedang menguatkan pasukan mereka untuk menyerang kerajaan Yehuda yang dipimpin Yosafat. Hal ini membuat Yosafat menjadi takut (2 Taw. 20:3), karena yang menyerang dia bukanlah pasukan-pasukan biasa, namun 3 kelompok bangsa sekaligus.  Bagi seorang pemimpin semacam Yosafat, ini membutuhkan pasukan perang yang sangat banyak dan mungkin membutuhkan bantuan dari bangsa lain untuk menghadapinya.  Tetapi, Yosafat tidak tergesa-gesa mengambil keputusan untuk berperang.

Meresponi ketakutan yang muncul pada saat itu, ada dua hal yang dilakukan oleh Yosafat untuk menghadapi serangan dari 3 kelompok bangsa tersebut. Yosafat sangatlah paham bahwa ketakutannya tidak bisa melebihi keyakinannya kepada Allah Israel yang berkuasa. Oleh sebab itu, Yosafat terlebih dahulu mencari Tuhan untuk memahami apa yang Tuhan ingin mereka lakukan dalam situasi yang sulit tersebut.

1. Mengumpulkan semua umat Tuhan untuk bersepakat, berdoa, berpuasa dan berseru kepada Tuhan.

Yosafat sangat mengerti bahwa dia adalah raja dari bangsa pilihan Allah.  Sejarah Israel yang dia pelajari sejak kecil tentu mengajarkan kepada dia untuk berseru kepada Allah dengan cara yang Allah kehendaki.  Yosafat tidak boleh mengandalkan kekuatannya sendiri, pasukan perangnya, perlengkapan senjatanya, dan kekayaan yang bisa dipakai untuk membayar bantuan dari bangsa lain.  Dia tahu Pribadi yang tepat yang bersedia memberikan pertolongan.

Hal sederhana yang Tuhan ajarkan kepada kita saat mengalami ketakutan adalah bagaimana kita harus mencari Tuhan terlebih dahulu.  Kita punya Tuhan yang kuasaNya tidak terbatas.

Kita punya Tuhan yang sangat bisa diandalkan. Dia adalah Pribadi yang tepat untuk menolong kita mengatasi segala ketakutan.

2. Maju berperang bersama dengan Tuhan

Setelah mereka dengan satu hati berseru kepada Tuhan.  Allah dengan sangat jelas memakai seorang dari antara mereka berbicara dan menyuruh mereka untuk maju ke medan perang.

2 Tawarikh 20:16-17 (TB)   Besok haruslah kamu turun menyerang mereka. Mereka akan mendaki pendakian Zis, dan kamu akan mendapati mereka di ujung lembah, di muka padang gurun Yeruel. Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.”

Jika kita membaca seluruh apa yang Tuhan firmankan kepada bangsa Yehuda saat itu, maka kita patut takjub kepada Allah Israel.  Bagaimana tidak, tanggapan Allah tersebut merupakan sebuah jaminan penyertaan Tuhan bagi mereka. Mereka hanya perlu maju ke medan perang, tapi tidak ikut berperang. Seakan-akan Allah ingin mendemonstraikan langsung kepada mereka bagaiman cara Allah bekereja menolong umat-Nya.

Allah kita punya banyak cara untuk menolong kita.  Meresponi masalah dengan ketakutan itu tidak akan menyelesaikan masalah.  Seruan yang tak putus-putusnya kepada Allah dapat menyentuh hati Allah untuk menyediakan pertolongannya tepat waktu. Ingat, ada Allah yang menyertai kita.

Apapun yang menjadi ketakutan kita saat ini.  Tetaplah dalam sikap hati yang benar dan jangan pernah berhenti berseru kepada Allah.

Sebagai Penolong dalam kesesakan, Dia sangat terbukti. Kisah Firman Allah sudah membuktikannya, dan kita pun harus semakin percaya dan berserah kepada kehendak-Nya.

Tuhan Yesus Memberkati

RM