Renungan Harian, Senin, 01 Juni 2020

“BERTUMBUH melalui PENCOBAAN, menghasilkan KETEKUNAN

”Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” (Yakobus 1:2-4)

Mengapa Tuhan mengijinkan kita mengalami berbagai pencobaan yang membuat kita menderita? Salah satu tujuannya adalah supaya kita bertumbuh dalam ketekunan. Karena Ketekunan merupakan bagian penting dalam keKristenan. Tekun adalah sebuah keputusan atau ketetapan hati yang kuat (teguh) untuk bersungguh-sungguh, rajin, dan tuntas dalam melakukan apa pun. Orang yang tekun adalah seorang yang fokus, konsisten dan tidak mudah putus asa terhadap apa yang sedang dikerjakannya.

Firman Tuhan menjelaskan bahwa, orang yang tekun sajalah yang akan menghasilkan buah (Luk. 8:15), bahkan dengan berlipat ganda (Yak. 5:11). Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya ( berlipat ganda ), karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

Tanpa bertekun dalam penderitaan, orang percaya tidak dapat bertumbuh dalam kebenaran Allah, dan tanpa kebenaran Allah, orang percaya tidak dapat berbuah.

Bagaimana sudut pandang kita, dalam melihat sebuah PENDERITAAN:

Penderitaan memiliki sisi lain, yaitu kebahagiaan.

Apakah kita melihatnya sebagai penderitaan, atau sebagai kebahagiaan ?
“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (ay. 2).

Kalau kita bisa melihat penderitaan dari sisi yang lain, yaitu sebagai kebahagiaan, maka kita akan melewati penderitaan itu dengan baik. Kita tidak akan membangun mekanisme pelarian dengan berbagai hal yang buruk.
Kebahagiaan yaitu sebuah sikap hati dari manusia yang tertuju kepada penciptanya, dengan menyadari bahwa kejadiannya sungguh dahsyat, jadi terlalu remeh jika Tuhan hanya akan mempermainkan dan menghancurkan hidup manusia. Karena Tuhan punya rencana yang besar atas hidup manusia.

Penderitaan sebagai proses menuju ketekunan.

sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan” (ay. 3). Penderitaan dipakai Allah untuk memproses karakter anak-anakNya dan karakter yang langsung terbentuk adalah ketekunan kita untuk tetap berkomitmen terhadap kehendak Allah.

Bagi iblis penderitaan adalah senjata untuk menghancurkan manusia, tetapi bagi Allah penderitaan adalah alat untuk membentuk manusia menjadi serupa dengan Kristus. Untuk itulah Allah mengizinkan penderitaan terjadi dalam hidup anak-anak-Nya.

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, Roma 5:3

Melalui kesengsaraan, Itulah sebabnya Tuhan kadang kala mengizinkan kita mengalami kesengsaraan dengan tujuan agar Ia dapat membentuk ketekunan di dalam diri kita.
Melalui ujian iman  (sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan, (Yak. 1:3). Oleh karena itu, Tuhan seringkali mengizinkan berbagai pencobaan menimpa hidup kita dengan maksud agar ketekunan muncul di dalam diri kita.

Penderitaan melahirkan ketekunan yang menghasilkan buah.

Penderitaan akan melahirkan ketekunan, Akhirnya ketekunan itu menjadi matang dan menghasilkan buah yang menjadikan kita semakin sempurna sebagai anak-anak Allah.
Dengan melihat penderitaan sebagai proses yang memberikan pertumbuhan, maka sudah seharusnya kita  tidak menghindarinya, tetapi dengan penuh syukur menghadapinya.

Ketekunan menghasilkan buah yang sempurna

Lukas 8:15, “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” 

Adalah manusiawi sekali bila kita akan merasa cepat lelah dan gampang putus asa dalam hal menanti suatu hasil. Kita menghendaki segala sesuatunya serba cepat; sekarang menanam, kalau bisa besoknya dapat kita tuai hasilnya. Demikian juga di dalam menggantungkan harapan kepada Tuhan, seringkali kita mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan dan beragumen dengan Dia, bahwa kita sudah melakukan apa yang baik, apa yang Tuhan mau; tetapi mengapa Tuhan seolah-olah tidak peduli

Sejarah mengenal Abraham Lincoln sebagai orang yang besar. Namun tahukah Anda bahwa Abraham Lincoln adalah orang yang banyak mengalami kegagalan dan tekanan dalam hidupnya? Kegagalan demi kegagalan yang dialaminya tidak membuatnya patah semangat dan kehilangan tujuan. Puncak kegagalannya terjadi pada tahun 1832, saat ia kehilangan pekerjaan dan terpaksa menjadi seorang pengangguran.

Namun, semangat yang tinggi dan ketekunannya untuk bisa mengabdikan diri pada bangsa dan negara membuatnya berhasil terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat di tahun 1860 (28 tahun berikutnya)….menjadi presiden Amerika ke 16, Ia dikenal sebagai pemersatu Amerika, politic apartheid/perbudakan dihapuskan, kesetaraan/ kesamaan gender wanita diantara kaum pria….
Ketekunan yang kuat menciptakan peluangnya sendiri. Ketekunan akan menemukan jalan pada akhirnya. Itulah modal utama yang dimiliki Abraham Lincoln.

Dunia saat ini banyak menawarkan hal-hal yang serba instan, praktis dan cepat. Tapi untuk meraih keberhasilan dalam hidup, tidak ada yang instan, semuanya membutuhkan proses.

Kita perlu memiliki ketekunan untuk melalui setiap proses itu, karena ketekunan dan kesabaran adalah cara terbaik untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Alkitab menulis,

“Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu” (Ibrani 10:36).

BW