“KEJAHATAN KARENA LIDAH”

“KEJAHATAN KARENA LIDAH”

Renungan Harian Rabu, 24 Februari 2021

Bacaan: Mazmur 34:14-15

Pagi ini renungan kita tentang menjaga lidah kita. Mengapa lidah perlu dijaga? Karena melalui lidah kita ada potensi kejahatan yang dapat ditimbulkan oleh karena lidah. Ada beberapa kejahatan yang dapat ditimbulkan dari lidah kita:

1. LIDAH YANG SUKA BERDUSTA

Amsal 6:16-17 Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hatiNya: mata sombong, lidah dusta, tangan yan menumpahkan darah orang yang tidak bersalah.

Kekejian berasal dari kata to’ebah menunjuk kepada sikap hati Tuhan terhadap umatNya yang suka jatuh ke dalam dosa Berhala. Berdusta kepada Tuhan, Berdusta kepada sesama, berdusta kepada diri sendiri.

Amsal 10:13, Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang akan dikerat.

2. LIDAH YANG MENGHANCURKAN HATI

Amsal 12:18 Ada orang yang lancing mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.

Mulut/lidah seperti tikaman adalah lidah yang suka menyerang orang lain. Suami suka menyerang isteri dengan lidahnya. Isteri suka menyerang suami dengan lidahnya. Atasan menyerang bawahannya dengan kata-katanya. Orang tua menyerang anak-anaknya dengan lidahnya. Anak-anak menyerang orang tua dengan lidahnya. Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan amarah.

3.LIDAH YANG MENGUTUK

Roma 3:13-14 Kerongkongan mereka seperti kubur yang mengaga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah,

Kata mengutuk berasal dari kata “damn” (damnition), adalah keadaan yang mengerikan yang dialami seseorang yang dijatuhi hukuman kekal. Apa kata Rasul Yakobus Lidah yang memuntahkan kutuk menyebabkan keburukan kepada yang memperkatakannya dan yang dikutukinya.

4. LIDAH YANG SUKA GOSIP

Imamat 19:16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.

Hanya ada satu yang sama sulitnya dengan menyatukan telur yang sudah pecah, yaitu tidak menyebarkan gosip. Gosip atau menyebarkan berita bohong akan menghancurkan hubungan dengan sesama.

5. LIDAH YANG TERBIASA BERTENGKAR

Amsal 21:19 Lebih baik tinggal di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah.

Ada 2 ciri orang yang suka bertengkar: Pertama, tidak pernah merasa dirinya bersalah. Dan kedua, Selalu ingin menjadi penutup pembicaraan. Tuhan tidak berkenan pada kepintaran kita berdebat, tetapi pada kepiawaian kita membangun hubungan harmonis.

6. LIDAH YANG BERKATA SIA-SIA

Matius 12:35-37 Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.“

Ada 3 jenis perkataan sia-sia.

  1. Perkataan yang kotor (Efesus 4:29)
  2. Perkataan yang kosong. (1 Samuel 2:3)
  3. Perkataan yang sembrono. (Keluaran 20:7)

Lidah bisa membuat kita intim dengan Bapa, tetapi juga berpeluang memisahkan kita dari Dia untuk selamanya.

7. LIDAH YANG MENIMBULKAN PERPECAHAN

Amsal 6:12-14, Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong, yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran.

Lidah yang damai mendatangkan sahabat-sahabat yang setia dan selalu merindukan kehadiran kita.

Mari pastikan kita menjaga lidah kita dan tidak terjerat pada Kejahatan Lidah. Pakailah lidah kita untuk memuliakan Tuhan, menyatakan yang benar dan menjadi berkat bagi sesama

Tuhan Yesus Memberkati.

CM

“IBADAH SEJATI”

“IBADAH SEJATI”

“IBADAH yang SEJATI”

Renungan Harian, Selasa 23 Februari 2021

Roma 12:1, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

 Selamat pagi bapak, ibu dan saudara yang dikasihi Tuhan.  

Teks dalam Roma 12:1 ini dimulai dengan sebuah frasa “Karena itu...”  ini menunjukkan bahwa apa yg dibahas berikut memiliki kaitan dengan apa yang telah Rasul Paulus bahas di fasal sebelumnya.  Dimana di fasal 11 Rasul Paulus menjelaskan tentang Anugerah Allah atas orang-orang non yahudi atau bangsa di luar Israel, dan memberikan sebuah nasehat keras untuk tidak menjadi sombong karena semua hanya Anugerah Tuhan saja.   Karena Anugerah yang besar yang Tuhan sudah berikan kepada kita (orang non yahudi), maka “demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu,…” dalam kata “Menasehatkan” ini terdapat beberapa makna yang tersirat, dimana di dalamnya terdapat unsur permohonan dengan desakan karena ini merupakan sesuatu yang sangat penting yang harus diketahui dan dilakukan oleh jemaat yang ada di Roma (orang non yahudi).

Apakah nasehat penting tersebut???

“supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai  persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”  Jadi yang menjadi nasehat penting Rasul Paulus adalah bahwa ibadah yang sejati adalah Hidup yang diserahkan seluruhnya kepada Allah yang terlihat dari kesediaan diri untuk dipergunakan atau dipakai oleh Allah sesuai tujuan-NYA bagi kita.  

Kata “Ibadah” dalam bahasa Ibrani memakai kata “Abodah”.   Kata ini pertama kali muncul dalam Alkitab di Kejadian 29:27, yaitu saat dimana Yakub bekerja tanpa upah pada keluarga Laban.  Arti dari kata Abodah ini adalah bekerja tanpa upah atau suatu pengabdian.  Bisa juga diartikan sebagai tugas yang dilakukan oleh seorang budak buat majikannya seperti yang dilakukan orang Israel ketika mereka diperbudak oleh Firaun di Mesir.  Lalu kata yang sama dipakai bagi pekerjaan yang dilakukan orang Israel bagi Tuhan selama mereka di padang gurun dalam perjalanan dari Mesir menuju tanah perjanjian. Namun sayangnya, karena pemberontakan orang Israel, oleh Tuhan ditetapkan bahwa hanya suku Lewi saja yang diperkenankan untuk melakukan abodah (ibadah).

Dalam perkembangan selanjutnya, Ibadah” menjadi  kegiatan atau upacara yang dilakukan di Bait Allah atau Sinagoga pada hari sabbat yang melibatkan kaum awam di mana ada imam yang memimpin atau mengajar Firman Tuhan.  Orang-orang datang dengan tujuan untuk berkumpul bersama melaksanakan ritual keagamaan dengan harapan “mendapatkan sesuatu yang baik” entah itu berupa pengajaran, nasihat, teguran ataupun manfaat atau berkat lainnya, dan hal ini kemudian berlangsung terus sampai hari di mana kegiatan “Ibadah” menjadi kebaktian yang dilakukan pada hari minggu di gedung-gedung gereja dengan tujuan yang sama, “mendapatkan sesuatu”.  Di era modern seperti sekarang, “Ibadah” dikemas sedemikian rupa supaya menjadi sesuatu menarik.  Sarana dan prasarana yang ada dilengkapi dengan fasilitas dan teknologi yang canggih tujuannya adalah supaya jemaat yang hadir di ibadah menjadi nyaman sehingga dengan demikian jemaat dapat beribadah dengan baik kepada Tuhan.  Tentunya hal ini tidaklah salah selama makna dari “Ibadah” yang sejak dari mulanya ditetapkan oleh Allah tidak berubah dan tidak menyimpang, yaitu pengabdian atau berkorban bagi Tuhan.  

Amsal 4:23 disana tertulis demikian; “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”   [Terjemahan Firman Allah Yang Hidup; “Yang terutama sekali, jagalah hatimu karena hatimu mempengaruhi segala sesuatu dalam hidupmu.

Firman Tuhan berkata; Jagalah hatimu!!!.  Marilah kita bersama menjaga hati kita, hendaklah pertemuan-pertemuan rutin setiap hari minggu kita, kita jadikan sebagai sebuah moment dimana ini merupakan kesempatan dan Anugerah yang Tuhan berikan bagi kita untuk mengabdi, menyemabah kepada-NYA dan melayani DIA. 

Fokus kita adalah menyenangkan hati-NYA.  Kebenaran-NYA, petunjuk-NYA dan berkat-NYA adalah bonus saja.  Ingatlah bahwa pribadi Yesus lebih dari cukup bagi kita.  Jika kita memiliki kesadaran dan pemahaman yang demikian, hidup kita di luar gedung gereja pun menjadi Ibadah Sejati juga dimana kehidupan kita menjadi berkat bagi orang lain yang ada disekitar kita.

Dengan adanya pandemi covid-19, terjadi pembatasan dimana-mana.  Work From Home (WFH) kemudian School From home,  setiap kita kemudian akrab dengan hal-hal yang serba online. Tidak terkecuali, gereja juga mengalami dampak dari pandemi  covid-19 sehingga beberapa waktu yang lalu kita sesaat harus beribadah di rumah saja.  Akan tetapi melalui pandemi ini juga kita disadarkan untuk menemukan  kembali ibadah yang benar.  Mengingatkan kembali dengan teks pokok kita Roma 12:1

ibadah yang sejati adalah pengabdian dan penyerahan hidup sepenuhnya untuk Tuhan yang terekspresi melalui kesediaan diri untuk dipakai oleh Allah sesuai dengan tujuan-NYA bagi kita. 

Dan ini bukan hanya berlaku ketika kita ada di dalam gedung gereja saja, tetapi dalam hidup sehari-hari kita juga.  Ibadah adalah pengorbanan, pengabdian dan kemuliaan bagi Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus.  Amin. Selamat Pagi, semangat selalu, selamat beribadah dimanapun kita berada untuk memuliakan nama Tuhan.

Tuhan Yesus Memberkati.

DS

“Merayakan Kasih dalam Keluarga”

“Merayakan Kasih dalam Keluarga”

Renungan Harian, Senin 22 Februari 2021

Sudahkah kita merayakan KASIH? Dalam kehidupan kita seharusnya kita merayakan kasih, karena kasih adalah anugerah Tuhan bagi kehidupan kita. Bukan tentang hari kasih sayang tetapi merayakan kasih dengan berbagi kasih kepada sesama. Kasih adalah hukum mendasar dalam kekristenan. Kasih yang mau untuk berkorban dan berbagi dengan ketulusan hati.

Merayakan kasih harus lahir dari hati yang tulus dan murni, sehingga kasih yang ada adalah kasih yang sejati antara perbuatan kasih dan sikap hati adalah sama. Kasih selalu mendorong perbuatan baik. Terlebih ditangah suasana pandemic seperti ini, Ketika banyak hal yang dilakukan “dirumah” saja, belajar, sekolah, bekerja bahkan beribadah harus dirumah saja. Ada banyak keluarga yang tidak dapat merayakan kasih karena ada banyak konflik yang terjadi dalam keluarga.

Merayakan KASIH bukan berarti tidak menghadapi konflik

Hampir semua relasi pernah mengalami konflik, termasuk didalam keluarga. Relasi tanpa konflik sama sekali merupakan relasi yang statis, bahkan dipertanyakan keberadaannya. Setiap relasi selalu memiliki potensi untuk terjadi konflik.  Relasi yang hidup adalah relasi yang dinamis (bergerak, berubah, bertumbuh). Karena itulah pentingnya kita merayakan Kasih untuk mengatasi konflik yang bisa terjadi atau sedang terjadi.

Merayakan KASIH adalah mampu “menari” bersama pasangan meskipun ada konflik

Menari Bersama adalah dapat beriringan Bersama walaupun Gerakan tidak harus sama tetapi dapat berkolaborasi satu dengan yang lain sehingga membentuk kesatuan yang indah. Karena Konflik dapat merusak relasi yang atau memperbaiki kualitas sebuah relasi, semuanya bergantung bagaimana bersikap terhadap konflik.

Sikap terhadap Konflik

Hindari sebelum terjadi atau sebelum bertambah besar (Rm.12:18)
Hadapi apabila sudah terjadi, jangan lari tetapi perbaiki dan bawalah kasih yang memulihkan. Konflik tidak hanya diselesaikan dengan menundanya karena pasti akan berdampak juga.

Bagaimanakah Cara untuk menghadapi dan menyikapi konflik:

1. Berpikir

Amsal 20:25, Suatu jerat bagi manusia ialah kalau ia tanpa berpikir mengatakan “Kudus”, dan baru menimbang-nimbang sesudah bernazar.

Pikirkan dan gumulkan masalah yang dihadapi kemudian Pertimbangkan kata-kata yang akan digunakan; apakah itu tepat atau tidak. Karena Sebagian besar konflik terjadi karena ada kata-kata yang tidak tepat dikeluarkan.

Ingat! Alkitab banyak memberi nasihat mengenai dosa yang disebabkan oleh lidah (Amsal 10:19, 20, Yakobus 3:9)

2. Berkomunikasi

Ayub 32:20, Aku harus berbicara, supaya merasa lega, aku harus membuka mulutku dan memberi sanggahan. Ungkapan dari Elihu untuk dapat berkata-kata dengan bijaksana.

Bagaiamana berkomunikasi dengan baik, Berbicara dengan ramah dan penuh kasih (Efesus 4:32, Kolose 4:6). Bicarakan masalah yang ada, bukan berbantah (Amsal 13:10, 15:18) karena Seni tertinggi dalam berkomunikasi adalah bersedia mendengar (Yakobus 1:19).

Ingatlah bahwa Berkomunikasi adalah kunci untuk membangun relasi hati

3. Berdoa

Yakobus 5:16, Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

Gunakan doa sebagai sarana pemulihan diri dan relasi dalam keluarga dan Gunakan doa sebagai penuntun dalam disiplin pengakuan dan bimbingan. Didalam doa pasti ada pemulihan, Tuhan yang memulihkan hati kita dan pada akhirnya kasih yang dari Tuhan akan mengalir melalui kehidupan kita.

Mari rayakan KASIH dalam hidup kita!

“Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan KASIH setia-Ku kepadamu.” (Yer. 31 : 3)

Catatan Khotbah
Pdt. Benoni D. Kurniawan

Ibadah Online GPdI Elohim

Ibadah Online GPdI Elohim

Minggu 21 Februari 2021

“Merayakan Kasih”

Pdt. Benoni D. Kurniawan

Markus 15:20-24

Sudahkah kita merayakan KASIH? Dalam kehidupan kita seharusnya kita merayakan kasih, karena kasih adalah anugerah Tuhan bagi kehidupan kita. Bukan tentang hari kasih sayang tetapi merayakan kasih dengan berbagi kasih kepada sesama. Kasih adalah hukum mendasar dalam kekristenan. Kasih yang mau untuk berkorban dan berbagi dengan ketulusan hati.

Merayakan kasih harus lahir dari hati yang tulus dan murni, sehingga kasih yang ada adalah kasih yang sejati antara perbuatan kasih dan sikap hati adalah sama. Kasih selalu mendorong perbuatan baik. Terlebih ditangah suasana pandemic seperti ini, Ketika banyak hal yang dilakukan “dirumah” saja, belajar, sekolah, bekerja bahkan beribadah harus dirumah saja. Ada banyak keluarga yang tidak dapat merayakan kasih karena ada banyak konflik yang terjadi dalam keluarga.

Merayakan KASIH bukan berarti tidak menghadapi konflik. Merayakan KASIH adalah mampu “menari” bersama pasangan meskipun ada konflik

Menari Bersama adalah dapat beriringan Bersama walaupun Gerakan tidak harus sama tetapi dapat berkolaborasi satu dengan yang lain sehingga membentuk kesatuan yang indah.

Mari rayakan KASIH dalam hidup kita!

“Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan KASIH setia-Ku kepadamu.” (Yer. 31 : 3)

Link Youtube :


SUNDAY FUNDAY – Ibadah Online Sekolah Minggu,

21 Februari 2021~ “TUHAN ITU BAIK”

Yohanes 10:1-18

Adik-adik sudah hampir 1 tahun ini kita melakukan apapun jadi serba dirumah. Ibadah di rumah, belajar di rumah, main dirumah, ngapa-ngapain jadi dirumah. Tetapi kita harus tetap bersyukur lho, karena Tuhan masih memberikan kesehatan kepada kita sampai saat ini. Mungkin juga ada banyak hal yang terjadi dalam keluarga kita, percayalah bahwa tetap ada pemeliharaan Tuhan selalu.

Adik-adik selalu ada alasan untuk kita bersyukur. Seperti karena dengan dirumah saja, kita jadi makin sering berkumpul bersama keluarga di rumah jadi punya banyak waktu untuk Bersama. Kita juga bersyukur Tuhan masih memelihara kita dan seluruh keluarga, masih bisa makan, bisa membeli kebutuhan keluarga, itu semua karena berkat Tuhan lho adik-adik. Wahh puji Tuhan ya adik-adik Tuhan memang begitu baik dalam kehidupan kita. Dimanapun kita berada, Tuhan akan selalu menyertai kita. Dan Dia akan memberkati kita anak-anakNya dengan segala berkat yang terbaik yang sudah Tuhan siapkan buat setiap kita. Tuhan Yesus itu baik karena memang Dia adalah Gembala yang baik dan kita adalah domba-dombaNya,  Ayo coba kita bisa lihat kisahnya didalam Yohanes 1 : 1 – 18 .

Adik-adik, Tuhan Yesus menyebut diri-Nya gembala yang baik dan adik-adik adalah domba-domba-Nya yang sangat dikasihiNya. Tuhan sebagai gembala yang baik, sudah membuktikan kebaikan-Nya kepada kita, melalui pengorbanan-Nya di kayu salib untuk menebus dosa kita. Itu adalah kebaikan Tuhan Yesus yang paling besar buat hidup kita.  Tuhan Yesus juga menjaga adik-adik , menyayangi adik-adik memberikan apa yang adik-adik perlukan. Tuhan Yesus selalu menyertai kita, tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan Yesus membuat kita gembira selalu. Ia begitu baik, dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Yohanes 10:11 , “Aku adalah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba dombanya”.

Sunday Funday – Every day Sing and Shout for Jesus

Link Youtube

“Jangan Takut”

“Jangan Takut”

Renungan Harian, Sabtu 20 Februari 2021

Yesaya 41:10

Marie Antoinette Syndrome atau penyakit yang bisa menyebabkan seluruh rambut putih secara tiba-tiba adalah penyakit yang disebabkan oleh ketakutan berlebih, stress maupun depresi berat. Nama penyakit ini diambil dari nama Ratu Prancis, Marie Antoinette istri dari Louis XVI. Dia dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya ketika Revolusi Prancis terjadi tahun1793 silam. Semalam sebelum eksekusi, diduga Marie mengalami stress berat akibat vonis yang diberikan sehingga keesokan harinya rambutnya seketika berubah menjadi putih.

Ketakutan adalah sesuatu yang bisa membahayakan hidup kita. Ketakutan bisa membuat kita hidup dalam kecemasan, tekanan yang terasa bertubi-tubi datang sehingga orang tersebut stress dan depresi. Tetapi apa janji yang Tuhan berikan bagi kita?

 Didalam Yesaya 41:10 mengatakan demikian janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan”.  

Allah selalu ada disisi kita. Dikatakan jangan takut, jangan bimbang,Aku akan meneguhkan bahkan akan menolong engkau. Rasa takut adalah hal yang wajar bagi kita. Rasa takut membuktikan bahwa kita manusia bukanlah makhluk superior yang bisa menguasai segalanya. Beberapa contoh dalam Alkitab mencatat tentang rasa takut tersebut

Didalam Kejadian 12:10-20 menceritakan kelaparan hebat terjadi dinegeri kediaman Abram sehingga mereka harus pergi ke Mesir untuk bertahan hidup. Abram yang takut dibunuh oleh orang Mesir karena paras cantik Sarai. Abram berpikir karena kecantikan Sarai ini akan diingini orang Mesir sehingga orang Mesir harus membunuh suaminya terlebih dulu  agar bisa mendapat perempuan tersebut sehingga ia meminta agar Sarai mengaku bahwa di adalah adiknya. Namun Tuhan menunjukkan kuasaNya kepada keluarga Abram. Ketika Sarai diambil oleh Firaun untuk dijadikan istrinya, datanglah tulah yang melanda mereka. Akhirnya Firaun mengetahui bahwa Sarai adalah istrinya lalu mengembalikan Sarai kepada Abram dan memberikan segala kepunyaanya serta mengusir mereka dari Mesir

Kejadian 32 dan 33 menceritakan Yakub yang ketakutan ketika mengetahui rombongan kakaknya, Esau, akan datang menemuinya. Yakub masih mengingat ancaman-ancaman yang Esau lontarkan sebelum mereka berpisah. Beberapa cara telah ia lakukan untuk tindakan pengamanan seperti berdoa, merendahkan diri dihadapan Tuhan, memberikan banyak hadiah kepada Esau untuk menunjukkan itikad baiknya bahkan menyusun rombongannya dengan sebaik mungkin untuk menghadapi kemungkinan harus mempertahankan diri andaikata pertempuran tidak dapat dihindari lagi. Namun ketika pertemuan terjadi, Esau mendekap dan memeluk adiknya itu akhirnya mereka berbaikan kembali

Dalam Ulangan 1:19-31 Saat meriwayatkan kembali perjalanan dari Mesir menuju Tanah Kanaan, Musa mengingatkan umat pilihan-Nya mengenai janji bahwa Allah telah menyerahkan Kanaan kepada mereka. Namun, hal itu tak terjadi secara otomatis, juga tak semudah membalik telapak tangan. Para penduduk yang mendiami negeri itu pasti akan melawan dan mungkin pula memberi kekalahan bagi bangsa Israel. Itulah sebabnya, bangsa Israel perlu memastikan agar mereka jangan sampai takut dan patah hati— kondisi hilang harapan dan menyerah karena merasa bahwa penggenapan janji Allah tak mungkin terjadi. Hanya dengan dua hal itulah, kemenangan dan penggenapan janji Allah akan benar-benar mereka alami.

Kehidupan ini terkadang menyajikan hal-hal yang berpotensi menimbulkan ketakutan, kecewa, sakit hati, trauma, kepahitan, takut untuk berjuang, atau membuat kita hilang harapan. Kondisi ini hanya bisa diatasi dengan iman akan penyertaan Tuhan, yang diwujudkan lewat tindakan nyata.

Ulangan 1:21 mengatakan “ Ketahuilah, TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan negeri itu kepadamu. Majulah, dudukilah,seperti yang difirmankan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu. Janganlah takut dan janganlah patah hati. “

Setiap rasa takut yang dialami oleh tokoh-tokoh diatas selalu ada jalan keluarnya yang Tuhan berikan kepada mereka. Tuhan menjaga dan meyertai mereka disaat rasa takut perlahan ingin menguasai mereka. Dari hal-hal diatas yang dapat kita pelajari adalah rasa takut ini memang perlu bagi kita agar tetap berwaspada ketika hal buruk menimpa kita. Tapi jangan biarkan rasa takut itu berubah menjadi Ketakutan. Karena ketakutan akan membawa pemikiran dan mental kita rusak sehingga hal yang kita khawatirkan semakin besar dan perlahan menghancurkan kita dari dalam.

Janji Tuhan untuk menyertai kita adalah hal yang pasti. Serahkan semua kekuatiran dan rasa takut kita kepada Tuhan, maka Tuhan yang bekerja untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan jalan keluar yang terbaik bagi kita.

MEK

“Waktu Tuhan yang Terbaik”

“Waktu Tuhan yang Terbaik”

Renungan Harian, Jumat 19 Februari 2021

Galatia 6:9-10. “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”

Apabila kita memperhatikan teks pokok kita hari ini ada sebuah kalimat penting yang kerap kali kita sebagai pembaca tidak memperhatikan yaitu kalimat; “karena apabila sudah datang waktunya,…”  Bapak, ibu dan saudara yang terkasih, kita tahu bersama bahwa Tuhanlah yang menciptakan waktu, tetapi DIA sendiri tidak dibatasi waktu.   Dan bagi manusia, setelah peristiwa kejatuhan dalam dosa, manusia kemudian menjadi pribadi yang dibatasi oleh waktu.  Penulis kitab pengkhotbah mengatakan, “untuk apa pun dibawah langit, ada waktunya.” [Pengkhotbah 3].

Kembali kepada teks pokok kita, sebagai orang yang percaya,  kita harus belajar untuk sabar dan tidak gegabah dalam melakukan serta  menantikan sesuatu, seperti apa yang telah di nasehatkan oleh Paulus kepada jemaat Galatia.  Sesungguhnya TUHAN itu teratur, disiplin, penuh kasih, panjang sabar dan penuh pengertian.  Segala pengaturan, kehendak dan rencana TUHAN itu ada waktunya. Oleh sebab itu mari kita belajar untuk mengerti dan beradaptasi serta setuju dengan waktu TUHAN.

Ada dua hal penting yang perlu kita lakukan untuk memahami semua ada waktunya;

Yang pertama, Jangan salah Paham   [Galatia 6:7-8].

 “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.  Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan di tuainya.  Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

Bapak, ibu dan saudara yang terkasih, sesungguhnya apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai. Jadi jika kita mau menerima tuaian yang benar dan baik, maka kita juga harus menabur kebenaran dan kebaikan lebih dahulu. TUHAN itu sangat baik dan tidak pernah merencanakan kejahatan kepada kita, DIA tidak pernah berniat mencelakakan kita. TUHAN selalu mendorong kita untuk menabur kebenaran dan kebaikan. Oleh sebab itu barangsiapa menabur dalam daging akan menuai kebinasaan. Demikian pula barangsiapa menabur dalam Roh akan menuai hidup kekal.

Yang kedua, Janganlah jemu-jemu berbuat baik   [Galatia 6:9-10.]

Bapak, ibu dan saudara yang terkasih, teruslah menabur kebaikan kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Teruslah menolong orang lain sekalipun ia tak mungkin membalas pertolongan kita. Jangan pernah berhenti berbuat baik. Jangan pernah menunda-nunda kebaikan untuk orang yang perlu segera membutuhkan pertolongan kita.  Sesungguhnya setiap kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri.    

Apakah yang akan kita lakukan jika kita tahu bahwa setiap perbuatan kita selalu mengandung sebab akibat? Kita akan menuai dari apa yang kita tabur tepat pada waktunya. Untuk segala kebenaran dan kebaikan yang kita lakukan akan ada waktunya untuk menuainya. Bahkan saat kita telah lupa apa saja yang telah kita tabur, TUHAN tidak pernah melupakan kebenaran dan kebaikan yang telah kita lakukan.

TUHAN pasti membalas kebenaran dan kebaikan kita tepat pada waktunya. Ingatlah bahwa setiap kebaikan kita tidak akan pernah sia-sia. Kita akan menuai kebaikan pada waktunya.

Bapak, ibu dan saudara yang terkasih, TUHAN mau kita tetap setia menolong orang lain. Saat anda dimanfaatkan oleh orang lain, lihatlah itu sebagai cara TUHAN agar kehidupan dan pertolongan anda berdampak dan bermanfaat bagi orang tersebut. 

Selama masih ada kesempatan dan waktu untuk menabur kebaikan, kerjakanlah dengan sungguh. Ingatlah bahwa semuanya ada waktunya bahwa kebaikan itu akan kita tuai. Amin.

Selamat beraktifitas dan Tuhan Yesus Memberkati.

DS