Renungan Harian Remaja, Jumat 27 November 2020

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. I Timotius 4:12 

Anak muda seringkali menghadapi situasi di mana dia direndahkan dan tidak dipercaya. Hal ini berbuntut pada masalah pembuktian jati diri karena  mereka penuh dengan idealisme dan semangat yang berkobar-kobar untuk diakui eksistensinya dalam masyarakat. Bukan tanpa alasan Rasul Paulus memberikan pesan ini kepada Timotius, atau pada masa kni kepada orang-orang muda. Berabad-abad sebelumnya, Salomo juga menyatakan tujuan Amsal ditulis yang salah satunya adalh memberi nasehat kepada orang anak muda

Amsal 1:3-4,7untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda—Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. “

Perhatikan terjemahan The Message

“A manual for living, for learning what’s right and just and fair; To teach the inexperienced the ropes and give our young people a grasp on reality. Start with GOD–the first step in learning is bowing down to GOD; only fools thumb their noses at such wisdom and learning. “

Proverbs 1:3-4.7 … The Message

Bahaya yang dihadapi oleh orang muda menurut Salomo adalah ketidak tahuan dan kurangnya pengalaman. Namun orang muda juga tidak boleh menyerah terhadap ketidak tahuan dan kurang pengalaman mereka. Salomo menyiratkan pentingnya orang muda menuntut hikmat dan kecerdasan.

Berlanjut pada Amsal 8:5 (BIMK) yang berkata ,”Kamu yang belum berpengalaman, belajarlah mempunyai pikiran yang tajam; kamu yang bebal, belajarlah menjadi insaf.”

Seharusnya kita mengejar hikmat supaya kita tahu apa yang TUHAN mau dan kita hidup memenuhi rencanaNya.

Kehidupan Saul dan Daud menjadi teladan yang berharga bagi kita. Saul yang saat itu menjadi Raja Israel dibandingkan dengan Daud yang waktu itu masih muda belia.

Dalam I Samuel 13:1-22 dikatakan di ayat 1 Saul berumur sekian tahun ketika menjadi raja; dua tahun ia memerintah atas Israel. Dengan tidak disebutkannya umurnya penulis Kitab ini menyiratkan suatu kondisi mental yang belum dewasa, seperti jika kita menyebut seseorang dengan sebutan “berumur” biasanya berarti seorang yang sudah berpengalaman dan punya pengetahuan yang cukup tentang hal yang menjadi kewenangannya. Dalam masa pemerintahannya yang 2 tahun inipun tidak dicatat tentang adanya suatu karakter kuat yang menjadi unggulan. Kalau kita membaca dari pasal sebelumnya lebih ditonjolkan kelebihan Saul secara fisik sehingga dia dipilih menjadi raja Israel.

Ada suatu kesalahan yang tercatat dalam Firman Tuhan terkait dengan ketidak berpengalaman dan kemudaannya. Di I Samuel 13:13-14 disana dicatat ketika dia menanti kedatangan Nabi Samuel untuk mempersembahkan korban dia tidak sabar dan akhirnya mengambil keputusan sendiri, yaitu mempersembahkan korban tanpa Nabi Samuel.

Tindakannya ini dikatakan sebagai suatu kebodohan oleh Nabi Samuel dan diperhitungkan kepadanya sebagai suatu ketidak taatan/ dosa. Karenanya TUHAN memilih orang lain yang berkenan di hatiNya untuk menjadi raja atas Israel.

I Samuel 13:13-14  Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”

Berbalikan dengan apa yang terjadi pada Daud. Tuhan menyebut dia sebagai orang yang berkenan di hatinya “a man after HIS own heart”. Hal ini dikatakan TUHAN bahkan sebelum Daud diurapi menjadi raja.

Di Kitab II Samuel 22:20-24 Daud mengatakan “Mereka menghadang aku pada hari sialku, tetapi TUHAN adalah sandaran bagiku; Ia membawa aku keluar ke tempat lapang, Ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan kepadaku. TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku; Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku, sebab aku tetap mengikuti jalan TUHAN dan tidak menjauhkan diri dari Allahku sebagai orang fasik.  Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan dari ketetapan-Nya aku tidak menyimpang; aku berlaku tidak bercela kepada-Nya dan menjaga diri terhadap kesalahan.

He stood me up on a wide-open field; I stood there saved–surprised to be loved! GOD made my life complete when I placed all the pieces before him. When I cleaned up my act, he gave me a fresh start. Indeed, I’ve kept alert to GOD’s ways; I haven’t taken God for granted. Every day I review the ways he works, I try not to miss a trick. I feel put back together, and I’m watching my step.

Daud memberi kita gambaran bagaimana hidup yang berkenan kepada Allah dalam kemudaaan kita dan kekurang pengalaman kita. Dalam kemudaannya Daud tetap mengikuti jalan TUHAN, hidup dekat pada TUHAN, hidup benar, memperhatikan segala hukum TUHAN, tidak menyimpang dari ketetapan TUHAN, berlaku tidak bercela, dan menjaga diri dari kesalahan

Amsal 127:4  Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.

Janganlah kita menyerah pada kemudaan dan kurang pengalaman kita sehingga menjadi mangsa empuk bagi iblis dan kehilangan berkat kita sebagai anak TUHAN.

Ada celah bagi iblis mencuri berkat anak-anak muda yakni kemudaan dan kekurang pengalaman kita. Namun jika kita meletakkannya kepada TUHAN kelemahan kita itu menjadi sebuah kekuatan yang mempermuliakan TUHAN.

Komitmenku hari ini

Aku mau selalu menjaga hidupku untuk terus mengejar dan melakukan apa yang benar sesuai dengan Firman karena ada banyak celah yang dicari iblis untuk menjatuhkanku dalam dosa.

DDO – AC