Renungan Harian, Senin 20 April 2020

Pandangan secara umum, dunia ini memandang rendah orang yang suka menangis. Air mata seringkali diidentikkan sebagai tanda kelemahan. Itu sebabnya, banyak pria bertumbuh besar dengan indoktrinasi, “Seorang pria sejati tidak pernah menangis!”
Akan tetapi, Tuhan yang memiliki sudut pandang yang lebih dalam dan sempurna justru mengajarkan, “Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihibur” (Mat 5:4). Dengan kata lain, Tuhan mengajarkan, ada dukacita didalam kebenaran.

Pagi hari ini kita akan belajar dari seorang Nabi yang bisa dikatakan tulisannya menggambarakan banyak dukacita dan tangisan, dalam kitabnya Yeremia dan Ratapan. Dari Yeremia kita belajar bersama bahwa :

Dukacita dalam Kebenaran, bukanlah tanda kelemahan, melainkan justru tanda kekuatan seorang manusia yang berlutut dihadapan Allah.

Ada beberapa nilai dari Dukacita Ilahi dalam pelayanan Nabi Yeremia :

1. Dukacita ilahi mengungkapkan KESADARAN bahwa dirinya lemah dan selalu membutuhkan Tuhan

Dalam Yeremia 1:5, Panggilan Tuhan kepada Yeremia sangatlah luar biasa!

“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu,  Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (ay 5)

Apakah Yeremia melompat dengan bangga dan girang? Tidak! Dengan meratap dia menjawab,

“Ah Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda” (ay 6)

Perhatikanlah bahwa Allah tidaklah marah ketika berkata, “Janganlah katakan, ‘Aku ini masih muda . . . dst (ay 7-8)’ Allah tahu bahwa Yeremia bukan sedang berdalih! Akan tetapi, sedang berlutut dalam kesadaran bahwa dirinya lemah dan membutuhkan Tuhan. Hati yang seperti inilah yang justru dicari Tuhan karena dengan bebas Tuhan dapat mengalirkan Kebenaran dan Kuasa-Nya!

2. Dukacita yang sejati mengungkapkan Rasa Empati dengan keadaan sekitarnya (bangsanya)

Tanpa malu, Yeremia bersaksi,

“Air mataku bercucuran siang dan malam dengan tiadaberhenti-henti, Sebab anak dara, putri bangsaku, dilukai dengan luka parah, luka yang sama sekali tidaktersembuhkan!” (14:17)

Ya, Yeremia sebagaimana kelak Tuhan Yesus, sangat berempati dengan bangsanya. Itulah yang menggerakan mereka untuk menangisi Yerusalem dan penduduknya yang dibelenggu oleh dosa dan kedegilan hati.

Bapak Ibu Bangsa ini tidak akan pernah berubah jika kita tertawakan terus menerus! Bangsa ini hanya akan berubah jika saya dan Saudara mulai menangisi dan berdoa bagi bangsa ini.

Ditengah situasi seperti ini, ada panggilan Tuhan buat setiap umatNya di Indonesia, mari kita bergabung bersama para pendoa yang lain untuk mau berdoa dan Bersyafaat untuk pemulihan dan keselamatan bangsa kita. Bukan saja karena pengaruh virus COVID-19 tetapi pemulihan seluruh aspek bangsa kita.

INDONESIA UNTUK KEMULIAAN-NYA

YNP