Renungan Harian Youth, Jumat 14 Agustus 2020

“… agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.”

Ibrani 6:12

Influencer, kata ini pasti tidak asing lagi di kalangan anak muda yang aktif di medsos. Mereka yang berkiprah di bidangnya masing-masing dan memiliki ribuan bahkan jutaan followers. Tentu saja menjadi seorang influencer merupakan kebanggaan tersendiri, oleh karena itu jasa penyedia jasa follower untuk akun instagram dan juga tips dan trik-trik untuk menambah jumlah follower secara instan sangat marak. 

Influencer ini memiliki kiprah di media sosial yang memberikan manfaat bagi followersnya, memiliki kekuatan untuk menggerakkan followersnya untuk mengikuti jejaknya.

Alkitab yang kita miliki sesungguhnya juga banyak sekali mengangkat kisah influencers pada masanya dan pengikutnya. Jika kita cermati, bahwa beberapa follower pada akhirnya menjadi juga menjadi influencer bagi generasinya, melakukan hal-hal yang besar seperti tokoh yang diikutinya, dan menikmati berkat/ janji yang sama ataupun lebih besar dari pendahulunya. Sebut saja pasangan Musa dan Yosua, Elia dan Elisa, Tuhan Yesus dan 12 rasul, Paulus dan Timotius dan masih banyak lagi lainnya. 

Alkitab mengungkap bagaimana seharusnya kita menjadi seorang pengikut-pengikut. Dalam

Ibrani 6:12 “… agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.”

Ketika dunia berlomba-lomba menjadi influencer atau pemimpin, Alkitab mengingatkan kita untuk menjadi penurut-penurut “mereka” siapakah “mereka” yaitu orang-orang yang telah mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Tuhan yaitu anugerah keselamatan dalam Kristus Yesus. 

Mengapa kita menjadi follower influencer tertentu? Beberapa penyebabnya mungkin karena kekaguman kita pada mereka, keingintahuan yang besar tentang kehidupan mereka, dan mungkin karena kita ingin menikmati dan mengalami apa yang mereka alami. Dalam hidup kita, pernahkah kita memiliki dorongan, niat, motivasi yang kuat untuk menjadi penurut-penurut dalam Tuhan supaya kita beroleh bagian dalam apa yang telah dijanjikan Allah dalam hidup kita?

Bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai penurut-penurut/ pengikut/ “followers”?

1. Janganlah menjadi lamban/ bermalas-malasan/ ogah-ogahan.

Orang-orang yang lamban mengindikasikan kehidupan tanpa visi dan tujuan, hidup ala kadarnya dan asal-asalan. Tuhan merindukan setiap kita menjadi anak muda yang tahu apa yang harus dilakukan dengan hidupnya, dalam hidupnya. 

Yosua menjadi contoh bagaimana dia melekat pada Musa sampai pada batas yang ditetapkan Allah. Yosua menjadi seorang yang rajin, tidak lamban dalam melaksanakan tugasnya. Yosua mengikuti Musa saat Musa menerima 10 perintah Allah, saat Allah berbicara kepada Musa di Kemah Pertemuan, saat dia menjadi salah satu pengintai Kanaan, memimpin peperangan dan masih banyak hal lagi.

2. ikuti teladan pemimpin-pemimpin kita,

Bukan sekedar peniru. Seorang imitator atau peniru mengesampingkan logika/ pemikiran/ atau pertimbangan. Dia akan mengikuti apa yang dilakukan pemimpinnya walaupun itu sesuatu yang salah. Betapa banyak orang yang menjadi sesat karena pemimpin yang sesat. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 11:1 menasehati “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” Menjadi taat dalam iman dan kebenaran.

3. kembangkan nilai-nilai positif yang dimiliki pemimpin kita,

jadikan hal-hal negatif yang kita mungkin temui sebagai pengingat untuk tidak kita lakukan. Ketika Daud menjadi pembawa senjata Saul, dia berkesempatan menjadi bawahan saul. Namun Daud tidak jatuh pada kesalahan yang dilakukan oleh Saul. Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang diijinkan Tuhan berada di bawah kuasa raja-raja yang tidak mengenal Allah namun tetap memiliki kualitas anak Tuhan yang luar biasa.

4. Miliki kesabaran dan kerendahan hati,

terbuka terhadap tuntunan dan teguran pemimpin kita. Mungkin kita merasa bahwa kita lebih berbakat dan berprestasi, namun kita diletakkan di bawah pimpinan seseorang maka terimalah itu sebagai kesempatan untuk belajar. Seperti Yusuf yang melakukan segala sesuatu dengan sebaik mungkin tanpa ada niatan untuk menyombongkan diri.

Rekan-rekan pemuda remaja, mari bertumbuh menjadi penurut-penurut dalam Tuhan. Akan tiba masanya kita akan menikmati bagian yang telah disediakan bagi kita. Ishak dan Yakub menikmati janji Allah bagi Abraham, Yosua menikmati janji Allah yang diberikan kepada Musa, Elisa memiliki pengurapan 2x ganda seperti Elisa, Daud menjadi Raja yang lebih besar dari Saul, Petrus memberitakan Injil dan melakukan mujizat seperti yang dilakukan Tuhan Yesus sendiri, Timotius menggembalakan jemaat seperti Pualus dan masih banyak lainnya.

Jangan sibuk mengejar eksistensi menjadi influencer, teruslah menjadi “Followers”nya Kristus untuk menggenapi rencana dan kehendakNya.

Mengutip perkataan Jack Welch sebelum seseorang menjadi pemimpin kesuksesan kita terletak pada bagaimana kita mengembangkan kehidupan kita dan menumbuhkan karakter kita.

Mari kita berkomitmen untuk menjadi penurut-penurut dalam Tuhan.

Aku mau menjadi pengikut Tuhan yang Taat dan Setia, menjadi penurut Kristus untuk hidup dalam kebenaran dan kehendak Tuhan.

DDO – AC