Renungan Harian, Jumat 05 Juni 2020

“Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.” Matius 5:41

Latar belakang dari ayat ini yaitu …

Saat itu Palestina sedang dijajah dan dikuasai oleh kekaisaran Roma. Ada aturan yang dibuat saat itu, Orang Romawi di Palestina ketika hendak berpergian dan membawa beban yang banyak, setiap saat bisa menangkap orang Yahudi dan memaksanya mengangkat beban itu sejauh 1 mil tidak peduli rela atau tidak. Hal ini diijinkan pemerintah, bahkan ada hukumannya jika orang Yahudi itu tidak mau. Setelah 1 mil (1.500 m), orang itu boleh meletakkannya dan orang Romawi akan mengambil orang lain untuk mengangkat lagi, begitu seterusnya sampai orang Romawi tersebut sampai di tujuannya.

Karena itu para serdadu Romawi berhak memaksa orang-orang Yahudi untuk memikul barang-barang bawaan mereka sejauh kurang lebih 1.500 m. Jadi, dengan perkataan-Nya itu Yesus mau mengajak, bila kita dipaksa menemani dan membawa barang-barang penguasa sejauh 1500 m, maka kita harus berjalan bersamanya bukan hanya 1.500 m dengan hati jengkel dan dendam, tetapi berjalan 3.000 m dengan hati sukacita.

Tuhan menginginkan kita untuk melakukan lebih dari standart atau aturan yang ada pada saat itu, Tuhan Yesus mau supaya semua pengikutnya melakukan yang lebih dari standart yang ada, menambah satu mil extra lagi. 

Mengapa kita harus berjalan lebih dari yang diharuskan?

Ayat 48 memberikan alasannya.

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”.

Lukas 6: 32-34. “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.”.

Kalau kita puas dan berhenti sampai disitu saja, lantas apa bedanya kita dengan orang lain?

Efesus 6:5-7.“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.”.

Ketika mil pertama mengacu kepada kewajiban, mil kedua itu mengacu kepada kasih. 

Aplikasi :

Misalnya jika dahulu mencuri, setelah menerima Yesus bukan saja berhenti mencuri, tetapi tingkatkan hingga menjadi orang yang suka memberi. Jika dahulu mudah marah dan membenci, sekarang bukan saja berhenti membenci dan mengurangi emosi, tetapi tingkatkan hingga bisa menjadi orang yang mengasihi semua orang. Ini baru dua contoh dari sekian banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai aplikasi nyata dari going extra mile dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dari perkataan Yesus ini, Tuhan mau kita jangan hanya memikirkan diri sendiri dan melakukan yang kita sukai, tetapi pikirkan dan utamakan tugas dan kewajiban untuk membantu dan melayani orang lain.

Meski tugas itu tidak menyenangkan, kita jangan menjalankannya dengan maksud jahat dan rasa dendam, tetapi mengerjakannya dengan senang hati sebagai wujud pelayanan. Bisa jadi lewat apa yang kita buat saat menjalankan prinsip going extra mile ini membuat orang yang belum mengenal Tuhan terberkati dan mau untuk mengenal Yesus.

CM