Renungan harian Youth, Rabu 03 Februari 2021

Salam semangat buat rekan-rekan Elohim Youth semuanya ….

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel yang membahas tentang Laut Mati, judul artikelnya “Mengapa Laut Mati Disebut Laut Mati?” ditulis oleh Kompas.com. Kalau ada yang belum tau, Laut Mati adalah sebuah danau/perairan yang berbatasan dengan Yordania disebelah timur dan Israel dan Palestina disebelah barat. Merupakan titik terendah di bumi yaitu sekitar 430,5 meter dibawah permukaan laut. Yang menarik perhatian saya adalah saat dijelaskan mengapa danau ini disebut Laut Mati, yaitu karena kandungan garam didalam airnya 10x lebih tinggi dari air laut biasa makanya disebut juga Laut Asin, hal inilah yang membuat tidak ada satupun tanaman maupun mahluk hidup yang bisa hidup didalamnya. Dan dalam penjelasannya ternyata penyebab tingginya kadar garam adalah karena Laut Mati adalah terminal untuk aliran hujan dan air permukaan, artinya sejumlah besar air mengalir kedalam Laut Mati tetapi tidak ada yang mengalir keluar.

Nah bagaimana bila seandainya kondisi laut mati itu adalah anak-anak Tuhan? 

Apa jadinya bila kita banyak menampung makanan tetapi tidak kita salurkan keluar?  Pasti mirip tanaman bonsai, bukan?  Bukannya malah bertumbuh, tapi malah semakin kerdil.  Kondisi laut mati adalah gambaran mengapa banyak anak Tuhan tidak berbuah dan kehilangan semangat secara rohani. Mungkin saja kita hadir di setiap kebaktian, mendengarkan renungan harian, mempelajari dan menerima firman Allah setiap hari, namun hidup kekristenan kita tidak produktif.  Orang-orang seperti itu tak berbeda dengan Laut Mati. Mereka memiliki banyak penerimaan tetapi tidak memiliki pengeluaran.  Padahal untuk menjadi umat percaya yang bersemangat dan berbuah, kita tidak seharusnya hanya “menerima” apa saja yang dapat kita peroleh, tetapi kita juga harus “memberi” pelayanan kepada orang lain!

Hal ini pula lah yang diingatkan rasul Petrus didalam 1 Petrus 4:7-11 tentang bagaimana seharusnya Hidup Orang Kristen:

Pertama, Dalam ayat 7 dikatakan Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa”

Hal ini berbicara bagaimana kita harus membangun hubungan kita dengan Tuhan. Ya hal ini sudah pasti harus kita kerjakan sebagai umat Allah.

Kedua, selain itu dalam ayat 8-10 dikatakan “ Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”

Hal ini berbicara bagaimana kita tidak hanya menerima saja dari Tuhan tetapi juga menyalurkannya kepada orang lain. Tidak hanya membangun hubungan dengan Tuhan tetapi juga membangun hubungan dengan sesama.

Sobat Youth, bagaimana dengan kita?  Apakah kita saat ini seperti Laut Mati yang hanya menampung masukan tapi tidak menyalurkannya?  Asal kita tahu, jika kehidupan rohani kita seperti itu, maka kita tak ubahnya seperti bonsai yang kerdil melulu. Kita seharusnya tidak bisa merasa sudah cukup menerima firman Allah saja tanpa produktif melayaniNya.

Allah tidak suka bila kita selalu bersikap manja tanpa mau melayani.  Allah justru ingin kita menjadi aliran air yang menyegarkan sehingga jiwa-jiwa yang haus dapat meminumnya.  Dengan dipenuhi Roh Kudus, kita memiliki “air kehidupan” dan dapat menjadi saluran berkat bagi mereka yang membutuhkan.  Ingatlah, Allah tidak ingin kita menjadi orang Kristen Laut Mati!  Karenanya, berikan hidupmu untuk melayani dan menjadi berkat buat orang lain untuk melayani Tuhan!

Hidup Orang Kristen adalah hidup yang tidak hanya menerima saja dari Tuhan tetapi yang juga mau menyalurkan kebaikan Tuhan itu untuk orang lain.

SAM – YDK