Renungan Harian Selasa, 07 Juli 2020

Yakobus 3:13-18

Jika kita membaca perikop diatas, Rasul Yakobus memberikan pengajaran bagi kita semua bahwa ada 2 macam hikmat, yaitu  hikmat dunia dan hikmat Allah.

HIKMAT DUNIA berasal dari Dunia ini dan dari setan .

Yakobus 3:14-15  Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!, Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.

Ciri-ciri dari hikmat duniawi ini mudah dikenali, yaitu menuruti keinginan daging.

Hikmat dunia berpusat pada kepentingan diri sendiri. Hikmat dunia terekspresikan dalam dunia berpusat pada kepentingan diri sendiri. Hikmat dunia terekspresikan dalam perbuatan jahat seperti memegahkan diri, iri hati, permusuhan, pertengkaran, yang ujungnya kegaduhan dan kekacauan. Dusta ada senjata yang digunakan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka memiliki hikmat yang hebat tetapi bukan untuk kebaikan bersama, hanya untuk kepuasan diri dan kesenangan duniawi belaka.

Yakobus  3:16  Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

Contohnya jika kita melihat dan membaca di media sosial dipenuhi dengan postingan yang berisi kebencian, kesombongan yang dapat menimbulkan “suasana panas” bahkan dapat merusak kesatuan bangsa kita. Kelompok yang satu bersaing dengan kelompok yang lain dengan saling menjatuhkan, jika kita melihat lebih mendalam bersumber dari keinginan untuk kepuasan diri pihak-pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan bagi diri sendiri.

Akhir hidup orang yang dikuasai hikmat dunia adalah kebinasaan, kita akan melihat bahwa Hikmat dunia bertentangan dengan hikmat Allah.

Hikmat Allah adalah kebenaran cirinya: adalah murni artinya jujur.

Yakobus 3:17-18  Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.

Kemurnian hati, penuh dengan kelemahlembutan (ayat 13) selalu melahirkan buah-buah kebenaran. Yang mendatangkan kebaikan bagi sesama, yang mempergunakan hikmat untuk menjadi berkat dan memuliakan nama Tuhan.

Jika kita kembali kepada medsos, sebagai anak-anak Tuhan mari kita mempergunakan hikmat dalam kebenaran yang menghadirkan “suasana yang sejuk dan penuh dengan kedamaian”. 
Hikmat Allah terekspesikan dalam kehidupan yang menghasilkan buah roh. Salah satunya adalah penguasaan diri, khususnya mampu mengendalikan lidah. (jika memakai media sosial, bagaimana dengan postingan kita)

Hikmat Allah mendatangkan damai sejahtera, ketentraman, sukacita, kebaikan. Hikmat Allah tercermin melalui perkataan yang lemah lembut, bukan berarti lemah atau tidak berdaya. Justru lemah lembut itu menyampaikan kebenaran dengan tegas dan tidaek kompromi dengan dosa.
Perkataan lemah lembut berasal dari hati penuh kasih, yang akan menuntun orang yang salah berbalik kepada kebenaran . Perkataan lemah lembut menghasilkan pemulihan dari keduniawian. 

Amsal 15 : 1-2, Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan.

Saudara yang terkasih orang yang dipimpin oleh hikmat Allah menghasilkan buah-buah kebenaran sehingga hidupnya memuliakan Allah dan membawa keadamaian.

Tuhan Yesus memberkati.

EW