“IBADAH yang SEJATI”

Renungan Harian, Selasa 23 Februari 2021

Roma 12:1, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

 Selamat pagi bapak, ibu dan saudara yang dikasihi Tuhan.  

Teks dalam Roma 12:1 ini dimulai dengan sebuah frasa “Karena itu...”  ini menunjukkan bahwa apa yg dibahas berikut memiliki kaitan dengan apa yang telah Rasul Paulus bahas di fasal sebelumnya.  Dimana di fasal 11 Rasul Paulus menjelaskan tentang Anugerah Allah atas orang-orang non yahudi atau bangsa di luar Israel, dan memberikan sebuah nasehat keras untuk tidak menjadi sombong karena semua hanya Anugerah Tuhan saja.   Karena Anugerah yang besar yang Tuhan sudah berikan kepada kita (orang non yahudi), maka “demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu,…” dalam kata “Menasehatkan” ini terdapat beberapa makna yang tersirat, dimana di dalamnya terdapat unsur permohonan dengan desakan karena ini merupakan sesuatu yang sangat penting yang harus diketahui dan dilakukan oleh jemaat yang ada di Roma (orang non yahudi).

Apakah nasehat penting tersebut???

“supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai  persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”  Jadi yang menjadi nasehat penting Rasul Paulus adalah bahwa ibadah yang sejati adalah Hidup yang diserahkan seluruhnya kepada Allah yang terlihat dari kesediaan diri untuk dipergunakan atau dipakai oleh Allah sesuai tujuan-NYA bagi kita.  

Kata “Ibadah” dalam bahasa Ibrani memakai kata “Abodah”.   Kata ini pertama kali muncul dalam Alkitab di Kejadian 29:27, yaitu saat dimana Yakub bekerja tanpa upah pada keluarga Laban.  Arti dari kata Abodah ini adalah bekerja tanpa upah atau suatu pengabdian.  Bisa juga diartikan sebagai tugas yang dilakukan oleh seorang budak buat majikannya seperti yang dilakukan orang Israel ketika mereka diperbudak oleh Firaun di Mesir.  Lalu kata yang sama dipakai bagi pekerjaan yang dilakukan orang Israel bagi Tuhan selama mereka di padang gurun dalam perjalanan dari Mesir menuju tanah perjanjian. Namun sayangnya, karena pemberontakan orang Israel, oleh Tuhan ditetapkan bahwa hanya suku Lewi saja yang diperkenankan untuk melakukan abodah (ibadah).

Dalam perkembangan selanjutnya, Ibadah” menjadi  kegiatan atau upacara yang dilakukan di Bait Allah atau Sinagoga pada hari sabbat yang melibatkan kaum awam di mana ada imam yang memimpin atau mengajar Firman Tuhan.  Orang-orang datang dengan tujuan untuk berkumpul bersama melaksanakan ritual keagamaan dengan harapan “mendapatkan sesuatu yang baik” entah itu berupa pengajaran, nasihat, teguran ataupun manfaat atau berkat lainnya, dan hal ini kemudian berlangsung terus sampai hari di mana kegiatan “Ibadah” menjadi kebaktian yang dilakukan pada hari minggu di gedung-gedung gereja dengan tujuan yang sama, “mendapatkan sesuatu”.  Di era modern seperti sekarang, “Ibadah” dikemas sedemikian rupa supaya menjadi sesuatu menarik.  Sarana dan prasarana yang ada dilengkapi dengan fasilitas dan teknologi yang canggih tujuannya adalah supaya jemaat yang hadir di ibadah menjadi nyaman sehingga dengan demikian jemaat dapat beribadah dengan baik kepada Tuhan.  Tentunya hal ini tidaklah salah selama makna dari “Ibadah” yang sejak dari mulanya ditetapkan oleh Allah tidak berubah dan tidak menyimpang, yaitu pengabdian atau berkorban bagi Tuhan.  

Amsal 4:23 disana tertulis demikian; “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”   [Terjemahan Firman Allah Yang Hidup; “Yang terutama sekali, jagalah hatimu karena hatimu mempengaruhi segala sesuatu dalam hidupmu.

Firman Tuhan berkata; Jagalah hatimu!!!.  Marilah kita bersama menjaga hati kita, hendaklah pertemuan-pertemuan rutin setiap hari minggu kita, kita jadikan sebagai sebuah moment dimana ini merupakan kesempatan dan Anugerah yang Tuhan berikan bagi kita untuk mengabdi, menyemabah kepada-NYA dan melayani DIA. 

Fokus kita adalah menyenangkan hati-NYA.  Kebenaran-NYA, petunjuk-NYA dan berkat-NYA adalah bonus saja.  Ingatlah bahwa pribadi Yesus lebih dari cukup bagi kita.  Jika kita memiliki kesadaran dan pemahaman yang demikian, hidup kita di luar gedung gereja pun menjadi Ibadah Sejati juga dimana kehidupan kita menjadi berkat bagi orang lain yang ada disekitar kita.

Dengan adanya pandemi covid-19, terjadi pembatasan dimana-mana.  Work From Home (WFH) kemudian School From home,  setiap kita kemudian akrab dengan hal-hal yang serba online. Tidak terkecuali, gereja juga mengalami dampak dari pandemi  covid-19 sehingga beberapa waktu yang lalu kita sesaat harus beribadah di rumah saja.  Akan tetapi melalui pandemi ini juga kita disadarkan untuk menemukan  kembali ibadah yang benar.  Mengingatkan kembali dengan teks pokok kita Roma 12:1

ibadah yang sejati adalah pengabdian dan penyerahan hidup sepenuhnya untuk Tuhan yang terekspresi melalui kesediaan diri untuk dipakai oleh Allah sesuai dengan tujuan-NYA bagi kita. 

Dan ini bukan hanya berlaku ketika kita ada di dalam gedung gereja saja, tetapi dalam hidup sehari-hari kita juga.  Ibadah adalah pengorbanan, pengabdian dan kemuliaan bagi Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus.  Amin. Selamat Pagi, semangat selalu, selamat beribadah dimanapun kita berada untuk memuliakan nama Tuhan.

Tuhan Yesus Memberkati.

DS