Renungan Harian, Kamis 11 Juni 2020

“Dan ketika YESUS sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu SIMON yang disebut PETRUS, dan ANDREAS, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka PENJALA IKAN. YESUS berkata kepada mereka: “MARI, IKUTLAH AKU, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun SEGERA MENINGGALKAN JALANYA dan MENGIKUTI DIA. Dan setelah YESUS pergi dari sana, dilihat-NYA pula dua orang bersaudara, yaitu YAKOBUS anak Zebedeus dan YOHANES saudaranya, bersama ayah mereka, ZEBEDEUS, sedang membereskan jala di dalam perahu. YESUS memanggil mereka dan mereka SEGERA MENINGGALKAN PERAHU serta AYAHNYA, lalu MENGIKUTI DIA.” (Matius. 4:18-22 )

Mengapa Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes langsung SEGERA meninggalkan pekerjaannya dan keluarganya ketika Rabi Yesus memanggil mereka? Sebagai dasarnya kita perlu memahami pola pendidikan Yahudi pada waktu itu…

POLA PENDIDIKAN YAHUDI

Mari kita mempelajari POLA PENDIDIKAN YAHUDI terlebih lagi di daerah Galilea yang sangat agamawi. seorang rabi adalah guru terhormat di kalangan masyarakat Yahudi. Semua pemuda Yahudi memiliki cita-cita suatu hari kelak dapat dipilih dan dipanggil menjadi Murid Rabi. Kalau murid pada umumnya belajar untuk MENGETAHUI (to know) seperti gurunya tetapi MURID RABI ingin MENJADI (to be) seperti RABInya.

Tingkat dasar (usia 5-10 tahun) BETH-SEFER. Menghafal 5 Kitab Taurat
Tingkat lanjutan (usia 10-15 tahun)  BETH MIDRASH à Menguasai interpretasi dan aplikasi Taurat bahkan seluruh kitab Perjanjian Lama.
Tingkat terakhir (usia 15-30 tahun) BETH TALMUD/ TALMID à Hanya murid yang terbaik dari yang terbaiklah yang berani memilih rabi tertentu dan memohon apakah mereka dapat dipercaya menjadi TALMIDIM. Bila terpilih, maka seorang Talmidim akan hidup bersama rabi dan mengikuti dari dekat kemanapun rabi pergi. Ini adalah suatu kehormatan dan panggilan mulia bila seorang pemuda dapat terpilih menjadi Talmidim. Dan suatu hari kelak dapat menjadi seperti rabi (pada usia 30 tahun).

MENGAPA KITA HARUS MEMILIKI KOMITMEN MENGIKUT YESUS?

Pertama, panggilan ini datang dari Yesus.

Intinya, panggilan itu inisiatinya berasal dari Tuhan. Jelas sekali bukan kita yang mencari Tuhan, buka kita yang mendatangi Dia tetapi Yesuslah yang mencari kita, Dialah yang mendatangi kita dan berkata,”Datanglah, Ikutlah Aku”.

Simon tidak mengundang atau memanggil Yesus tetapi Yesus berinisiati datang di tengah kesibukannya untuk memanggil dia dan saudaranya Andreas. Mat 4:18-19. Dalam pemuridan orang Yahudi, muridlah yang mencari Rabi atau guru bukan Rabi atau guru yang mencari murid. Tidak ada catatan Rabi mencari murid dalam literature Rabi Yahudi. Tapi Yesus berbeda, Dia sendiri yang berinisiatif dan secara pribadi memanggil murid-Nya. Ini pula yang terjadi pada kita. Yesuslah yang mencari kita bukan kita yang mencari Dia. Yesuslah yang memilih kita bukan kita yang memilih Dia. Dia mencari kita dan menemukan kita. Dia melihat kita dan memanggil nama kita. (Yohanes 15:16)

Kedua, panggilan Tuhan Sederhana dan jelas.

“Ikutlah Aku” Tuhan tidak memberikan suatu petunjuk yang rumit bagi Petrus tapi panggilan-Nya singkat, jelas dan padat. Tuhan tidak mempersulit murid-Nya, Dia menyampaikan suatu panggilan yang sederhana yang untuk seorang nelayan Galileapun sangat mengerti. Panggilan Tuhan ini sederhana dan ditujukan buat semua kalangan dari muda sampai lansia, besar kecil dan dari berbagai latar belakang. Ini suatu perintah dan sekaligus bahasa yang bisa dimengerti oleh semua orang.

Ketiga, ikutlah Aku berarti suatu usaha untuk melangkah mengikuti Yesus, dekat dengan Yesus, berjalan bersama Yesus. (Matius 4:20)

Ikut Tuhan berarti kita tidak mendahului langkah Tuhan atau mengikut Tuhan dari jauh tapi mengikut dari dekat, bersama Tuhan. Ada suatu kata dalam bahasa Jawa yaitu ‘ngintil’. Ngintil adalah gambaran anak kecil yang terus memegang baju ibunya, tidak mau lepas tetapi terus mengikuti kemana ibunya pergi. Gambaran inilah yang harusnya kita miliki, berpegang pada Tuhan dan tidak mau lepas sedikitpun dari Tuhan. Bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan tidak meninggalkan Tuhan, itulah makna “Ikut Yesus” yang sesungguhnya.

Keempat, ikut Tuhan berarti ada perubahan. 

Petrus dan Andreas secara spontan meninggalkan jala dan perahu mereka. Inilah perubahan.  Ikut Tuhan berarti mengambil langkah, mengambil tindakan. Merespon panggilan Tuhan dengan sikap dan tindakan inilah yang menjadikan kita murid. Mendengar saja tidak cukup tapi respon itulah yang diinginkan Tuhan. (Mat 19:21)

Perubahan selanjutnya adalah mereka meninggalkan jala dan perahu mereka. Ikutlah Aku menunjukkan suatu perubahan yaitu pemisahan, ada hal yang harus kita lepaskan untuk mengikut Dia. Ada kebiasaan lama, ada sifat lama kita yang harus kita tinggalkan agar kita bisa melangkah tanpa hambatan, tanpa menoleh terus kepada hidup dan keinginan kita yang lama.

Ikut Tuhan berarti ada perubahan yaitu kita dipanggil menjadi penjala manusia.  Artinya menjadi murid untuk memuridkan orang lain agar mereka juga nantinya mengikut Tuhan, bukan mengikuti kita. Tuhan mengubah atau mentansformasi Petrus dan Andreas sehingga mereka bisa menjadi pemberita Injil, menjadi saksi Tuhan.

Pastinya kita semua dipanggil untuk menjadi murid yang bisa membawa orang lain datang dan mengenal Tuhan. Sudahkah kita merespon panggilan Tuhan Yesus,”Follow Me”? Apakah kita sudah menjalani panggilan itu dengan setia?

CM