Iman dan kesabaran

Renungan Harian Sabtu, 01 Agustus 2020

Selain Kasih dan Hati Nurani yang murni, penopang Iman agar tetap kokoh adalah Kesabaran

“…agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” – Ibr 6:12

Banyak anak Tuhan tidak mendapat apa yang mereka percaya bukan karena kurang iman tetapi kurang sabar menantikan waktu Tuhan.

Lihatlah orang-orang yang berhasil dalam hidupnya. Apa yang seringkali menjadi rahasianya? Yaitu kesabaran, mereka setia dalam hal yang kecil dan akhirnya mereka dipercayai untuk mengelola hal yang besar. Mereka tidak langsung menjadi besar.

Kesabaran, Keuletan dan Kerja Keras merupakan kombinasi yang tidak dapat dikalahkan dalam mencapai sukses.

– Napoleon Hill

Memang menunggu dengan sabar itu seringkali menyebalkan. Dalam bahasa Inggris, kesabaran disebut bukan hanya dengan kata “patience” tetapi juga “long suffering” yang berarti penderitaan yang lama. Memang dalam menantikan janji Tuhan, kita mengalami banyak hal-hal yang tidak menyenangkan. Tetapi sebenarnya justru pada waktu seperti itulah Tuhan sedang mempersiapkan kita sehingga pada waktunya janji itu dinyatakan, kita menerimanya dengan sikap hati yang benar.

Iman itu bertumbuh dan pertumbuhan adalah sebuah proses yang memerlukan waktu. Menanti pertumbuhan memerlukan kesabaran. Seperti seorang anak bayi yang bertumbuh menjadi besar, anak kecil – remaja – pemuda – dewasa. Kita dapat memberikan vitamin dan makanan yang bergizi tetapi kita tidak dapat memperpendek masa pertumbuhan. Iman juga bertumbuh,  Tuhan Yesus menjelaskan bahwa iman itu seperti biji sesawi:

Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu” – Matius 17:20

Di dalam ayat di atas, Tuhan Yesus mengatakan bahwa jika kita mempunyai iman sebesar biji sesawi, kita dapat memindahkan gunung. Apakah benar ungkapan ini? Pertanyaannya: Bagaimana iman yang kecil seperti biji sesawi dapat memindahkan gunung yang besar? Sebenarnya yang dikatakan oleh Tuhan Yesus bukan hal yang berkontradiksi, melainkan Dia ingin menjelaskan bahwa bukanlah masalah mempunyai iman yang kecil. Yang penting kita membiarkannya bertumbuh, jika iman kita bertumbuh seperti biji sesawi, maka hal-hal yang besar dapat terjadi.

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersa¬rang pada cabang-cabangnya.” – Mat 13:31-32

Iman bukanlah ukuran secara kuantitas tetapi kualitas, inilah yang Tuhan harapkan … IMAN YANG TERUS BERTUMBUH, iman yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan secara utuh dalam cara dan waktu penggenapannya.

… kata-Nya (kepada Abraham): “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.”Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. Ibrani 6:14-15

Rentang waktu antara diberikannya janji Tuhan dan kelahiran Ishak itu adalah puluhan tahun. Tetapi Abraham menanti dengan sabar. Bukan hanya itu, bahkan pada waktu dia tahu bahwa secara fisik dia tidak mampu untuk mempunyai keturunan namun dia tetap menanti dengan sabar dan percaya.

Masalahnya adalah banyaknya orang yang “beriman” bahwa Tuhan dapat melakukan perkara yang besar tetapi tidak mengikuti cara dan waktu Tuhan. Mereka “memaksa” Tuhan melakukan kehendak mereka. Kepercayaan akan terbukti, dalam kurun waktu tertentu. Seperti halnya Jika kita bertemu seseorang, kita tidak langsung percaya kepada orang itu, dia harus membuktikan dirinya bahwa dia adalah orang yang dapat diandalkan dan setia.

Orang yang menguasai kesabaran, dia akan men jadi penguasa atas segala hal.

— George Savile

Iman tidak bisa dilepaskan dari Kesabaran, karena Iman yang didasari oleh kesabaranlah yang akhirnya menang.

Dalam banyak perkara, melalui kesabaran maka akan teruji kualitas iman kita. Mari kita teruskan perjalanan iman kita dengan penuh kesabaran dan kepercayaan kepada Allah.

PPI_3