Iman_yang_tidak_egois

Renungan Harian Sabtu, 15 Agustus 2020

Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. – Kisah Rasul 20:35

Dasar dari iman bukanlah keegoisan atau mementingkan diri sendiri. Jika dasar dari iman Kristen adalah keegoisan, maka seberapa banyak kita mendapat berkat bahkan jika seluruh berkat sorga dicurahkan kepada kita maka kita tidak akan pernah puas. Dasar dari iman kita adalah rasa cukup. Jika kita berani mengatakan cukup kepada diri kita sendiri maka selebihnya kita akan mengimani hal-hal yang berkaitan dengan orang lain, pekerjaan dan kemuliaan nama Tuhan.

Pencapaian yang besar seringkah lahir karena adanya pengorbanan dan hal itu bukanlah hasil dari keegoisan.

Napoleon Hill

Sebagai anak-anak Tuhan, iman kita akan lebih bertumbuh jika kita membuat hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Di dalam Alkitab ada sebuah kisah yang menarik yaitu kisah tentang seorang yang lumpuh yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus karena ada empat orang yang sehati yang membawanya kepada Yesus. Keempat orang yang membawa si sakit adalah orang-orang yang tidak egois. Mereka mendengar tentang keberadaan Yesus, dan mereka mencari orang yang memerlukan pertolongan Nya. Sesampai di depan rumah, mereka- pun harus berpikir keras bagaimana mempertemukan Tuhan Yesus karena rumah itu sudah penuh sesak den- gan orang lain. Mereka tidak putus asa, mereka mem¬bongkar atap rumah itu dan menurunkan si sakit per¬sis di depan Yesus. Melihat akan hal itu, Firman Tuhan mengatakan:

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” – Markus 2:5

Yang Yesus lihat adalah iman mereka. Iman yang bagaimana? Iman yang berkorban. Iman yang tidak memikirkan diri sendiri melainkan iman yang memperhatikan keperluan orang lain juga. Semakin kita berani berkorban, iman kita akan semakin kuat. Walau¬pun memberi persembahan persepuluhan kurang tepat jika kita mengatakan itu sebagai pengorbanan, tetapi setiap orang percaya yang melatih diri dalam memberi, imannya akan dikuatkan dari waktu ke waktu. Pada waktu kita memberi kepada Tuhan persembahan kita, pada waktu yang sama kita juga beriman bahwa Tuhan sanggup mencukupi kita dengan berkatNya.

IMAN yang BESAR

Matius 8:5-10, Matius 15:21-28. Kisah tentang mujizat penyembuhan dari Yesus. Perwira Romawi dan Perempuan Siro Fenesia. Ada kesamaan dari kedua kisah ini yaitu Yesus memberikan sebuah pujian “Iman yang Besar” ~ The Great Faith. Bahkan sepanjang kisah di Injil hanya dua orang ini yang mendapatkan pujian dari Yesus secara langsung.

Dan yang menarik adalah kedua orang ini bukanlah orang Israel dengan kata lain Iman tidak memandang status tetapi murni sikap hati.

Dan hal penting yang bisa kita lihat adalah keduanya sedang bergumul untuk kebutuhan/keselamatan  orang lain.

IMAN YANG BESAR ADALAH IMAN YANG TIDAK EGOIS Iman yang tidak hanya bersentuhan dengan kebutuhan kita secara pribadi, tetapi mau berkorban demi orang lain

Ingatlah bahwa salah satu tugas dan tanggung jawab orang percaya adalah – I Petrus 2:9 – Kamulah bangsa yang terpilih, IMAMAT yang RAJANI. – yang memberitakan perbuatan-perbuatanNya yang besar. Barangsiapa mengasihi Allah akan melakukan kehendakNya – Apakah kehendakNya ??? “Jiwa-jiwa yang diselamatkan”.

DALAM SEJARAH KEGERAKAN GEREJA, SEBUAH LAWATAN DAN PERUBAHAN TIDAKLAH DIMULAI DAN DIAWALI DARI HADIRNYA PEKERJAAN PENGINJILAN TETAPI SELALU DIAWALI DARI ORANG-ORANG YANG BERLUTUT DAN BERDOA DENGAN IMAN YANG TIDAK EGOIS UNTUK SEBUAH LAWATAN DAN MAU UNTUK BERKORBAN.

Mari menjadi anak-anak Tuhan yang memiliki Iman yang tidak egois, iman yang mau bergumul bagi keselamatan orang lain. Ada keluarga Anda, Kota dan Bangsa Indonesia yang membutuhkan doa-doa anda. Jadikanlah doa-doa kita sebagai pengorbanan diatas mezbah dihadapan Tuhan.

Ketika anda berdoa, jangan mengarahkan pandangan anda kepada diri anda sendiri tetapi arahkanlah pandangan anda kepada siapa anda berdoa – allah yang besar karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

PPI 7