Belajar_Menerima_kenyataan

Renungan Harian Senin, 03 Agustus 2020

Bahan bacaan: Kejadian 3: 7-10 ; Matius 26: 36-39

Syalom … salam sejahtera dan sukacita buat kita semuanya .. sudah semangat memasuki hari yang baru dalam minggu ini kan … ok kita akan merenungkan Firman Tuhan terlebih dahulu.

Dalam kisah taman eden, dimana manusia bersembunyi dari Allah setelah makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, Tuhan Allah bertanya, “dimanakah engkau?” Tuhan bertanya bukan berarti Tuhan tidak tahu, atau Tuhan kehilangan adam dan hawa, Namun Tuhan bertanya untuk menyadarkan manusia akan keadaan mereka sendiri. Tuhan tahu manusia sedang bersembunyi diantara pepohonan. Tuhan tidak bertanya lokasi nya dimana, karena adam dan hawa masih ada di taman eden, tetapi Tuhan sedang bertanya untuk menyadarkan keberadaan hubungan mereka dengan-Nya yang berubah akibat dosa.

Bagaimana aplikasinya dalam hidup kita, jika pertanyaan yang sama diajukan kepada kita? Yang diharapkan Tuhan dari pertanyaan “Dimanakah engkau?” adalah sebuah kesadaran, sebuah kejujuran, sebuah pengakuan tentang kondisi hari ini, berani menerima kenyataan hari ini. Berani mengaku, berani jujur kalau kita memang sedang tidak dalam kondisi yang terbaik.

It’s okay to confess your reality.

Saya rasa kita pernah tidak berani mengaku keadaan kita yang sesungguhnya karena takut dicap tidak beriman, sehingga pada saat kita sedang sakit kita bilang “nggak kok, aku nggak sakit”. Saat sedang lemah kita bilang “ Aku baik baik saja kok” … Menerima kenyataan itu penting. Tuhan ingin kita juga mengaku keberadaan kita. It’s okay untuk mengakui keberadaan kita di hadapan Tuhan.

Kita boleh mengaku kita capek, bukan berarti kita menyerah, tapi kita memang sedang memberitahu bahwa kita lelah, bukan hanya fisik, tapi juga batin. Kita sadar kondisi, dan kita tahu kita membutuhkan pertolongan. Kita tidak bisa “stuck” (berhenti), itu sebabnya kita mengaku keadaan kita supaya bisa dituntun ke tempat yang lebih baik. Dan hal itu tidak mengapa, sebab Tuhan tidak akan kecewa , Tuhan tidak akan menganggap kita tidak beriman.

Tidak mengapa saat harus mengaku bahwa kita kecewa ,kita takut, kita bimbang, kita khawatir, kita sangat kesal, kita sedang sulit untuk percaya, dan Tuhan tidak akan tersinggung. Justru saat kita berani mengaku keadaan kita, artinya kita memberitahu persis keberadaan kita ada dimana dan kita bisa dituntun menuju tempat yang lebih baik.

Sesulit apapun kenyataan kita, masih jauh lebih mudah dituntun saat kita mengakui kelemhan dan kegagalan daripada sama sekali kita tidak menyadari dimana kita sedang berada. Dalam bacaan firman kita,

Matius 26:39 kata Yesus pada murid muridNya: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

Dalam ayat ini menyatakan bahwa Yesus juga merasa sedih dan gentar, namun Ia tidak menyimpan perasaanNya itu. Tuhan Yesus tidak menyembunyikan perasaanNya dan berpikir bahwa Ia adalah seorang guru, seorang pemimpin yang harus selalu terlihat kuat, penuh iman, tidak boleh lemah. Tidak, akan tetapi Tuhan Yesus menunjukkan sisi kemanusiaanNya disini. Tuhan meneladankan sandaran kekuatan ada didalam doa dan Dia meneladankan bagi kita.

Sebagai orang kristen kita memang harus selalu dipenuhi sukacita, beriman,penuh dengan damai, namun disini Tuhan Yesus sebagai manusia juga dengan berani menunjukkan kesedihan Nya, yang bahkan sampai mau mati rasanya, Sebagai pemimpin Ia tidak takut menunjukkan kerentanannya, Ia tidak takut menunjukkan bahwa Ia dianggap lemah. Bahkan Ia berani berbagi kesedihanNya bukan hanya pada Bapa di surga, tetapi juga pada murid-muridNya.

Entah kita sebagai orang biasa ,ataukah dalam peran kita sebagai pemimpin dalam sebuah komunitas atau pemimpin dalam sebuah pelayanan, saat kita menunjukkan bahwa kita hebat, kita selalu penuh iman, terlihat kuat,maka tanpa kita sadari kita sedang memberi kesan bahwa kita ini manusia super dan seolah memisahkan diri dengan orang lain sebab mereka tidak seperti kita. Akibatnya bisa saja orang lain enggan mengutarakan perasaan , kekhawatiran, atau kelemahan mereka sebab mereka menganggap bahwa kita tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan.

Saya yakin ayat ini ditulis supaya kita semua tahu bahwa Yesus mengerti dan bisa merasakan saat kita sedih, saat kita lelah, saat beban kita sedang berat, Ia mengerti karena Ia pernah merasakannya, bahkandi titik ‘sampai mau mati rasanya’ ~ Ia tidak takut berbagi.

Sebab kalau kita terus menunjukkan kesan bahwa kita selalu kuat, kita sedang menyangkali keadaan kita sendiri. Adalah hal berbeda antara menerima kenyataan dengan iman.

Menerima kenyataan bukan tanda kita tidak hidup beriman. Menerima kenyataan berarti kita sadar dimana kita berada, memutuskan tidak menyerah dan supaya Allah membawa kita ke tempat yang lebih baik sesuai dengan kehendak-Nya.

Mengakui keterbatasan, adalah salah satu tanda kerendahan hati, dan Tuhan memberikan kasih karuniaNya pada orang yang rendah hati. Saat kita jujur dengan diri sendiri, tidak menyangkali yang terjadi, maka proses pemulihan bisa segera dimulai. Tepat seperti kesaksian dari Paulus :

2 Korintus 12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Komitmenku :

Aku mau mengakui keterbatasanku, kelemahanku, dan aku mau berdoa meminta Tuhan, menuntunku supaya aku dipulihkan.

NV – KPH