Renungan Harian Rabu, 09 September 2020

Sadar atau tidak sadara Manusia banyak disodori oleh iklan-iklan diberbagai media dengan tujuan untuk membawa kita untuk memilikinya agar hidup semakin berbahagia. Tetapi Alkitab menyatakan sisi kehidupan lain yaitu bagaimana hidup yang berkecukupan yang benar

Alkitab menyatakan Kehidupan yang cukup bukanlah sekedar rasa Puas diri, malas dan apatis atau merasa kehilangan ambisi untuk hidup lebih maju lagi. Hidup cukup bukanlah seberapa banyak uang atau kekayaan kita,  tetapi hidup cukup adalah Puas dalam BATINIAH dan Tidak bergantung pada SITUASI sehingga dapat dinikmati dalam segala keadaan.

KUNCI untuk bisa hidup dalam kecukupan adalah BELAJAR … Belajar untuk hidup berpadanan dengan apa yang ada dan menikmatinya.

Apakah yang perlu kita Pelajari untuk menuju hidup yang berkecukupan

Belajar dari pengajaran Rasul Paulus dalam Filipi 4:11-13

BELAJAR UNTUK TIDAK MEMBANDINGKAN DIRI DENGAN ORANG LAIN

“AKU telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan” (ay. 11b) ~

kata “aku”, menyatakan bahwa hal itu bersumber dari dalam dirinya sendiri. Paulus meskipun ada dalam penjara, dia tidak kecewa tetapi sebaliknya Paulus belajar untuk puas dengan keadaannya. Membandingkan diri dengan orang lain selalu mendatangkan KETIDAKPUASAN

SALAH PAHAM yang seringkali kita alami

Jika aku ingin bahagia, AKU HARUS PUNYA APA YANG ORANG LAIN PUNYA! – kebahagian sumbernya bukan dari luar tetapi dari dalam hati kita.
Jika aku ingin bahagia, AKU HARUS PUNYA LEBIH BANYAK! – lebih banyak bukanlah sumber kebahagiaan, tetapi kebahagiaan adalah masalah hati (dida.

Bersyukurlah atas apa yang Anda PUNYA, Anda akan merasa punya LEBIH BANYAK. Tapi jika Anda fokus pada apa yang ANDA TIDAK PUNYA, Anda tidak akan pernah merasa cukup!

(Oprah Winfrey)

Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2 Korintus 4:18).

Rasul Paulus mengingatkan kepada kita semua sebuah kebenaran, kehidupan ini memiliki nilai-nilai yang kekal. Kepuasan diri dalam dunia ini seringkali mengarah kepada hal-hal yang duniawi dan yang kelihatan. Ironisnya banyak manusia yang mengutamakan apa yang kelihatan dibanding denga apa yang tidak kelihatan.

Adakah kepuasan kita terletak didalam Tuhan Yesus, ketika kita meletakkan kepuasan kita hanya kepada Tuhan Yesus, maka tidak aka nada kepuasan sejati yang lain diluar Kristus. (seperti renungan kemarin).

Sebagai orang percaya mari kita belajar untuk mencukupkan diri, jangan membandingkan diri dengan orang lain. Membandingkan diri dengan orang lain tidak akan pernah ada ujungnya, karena selalu ada yang belum kita miliki.

Jangan melihat apa yang belum kita miliki tetapi sebaliknya lihatlah apa yang sudah Tuhan anugerahkan, nikmatilah dan cukupkanlah dengan apa yang menjadi berkat Tuhan bagi kehidupan kita.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk kita terus belajar memiliki mental kehidupan anak Tuhan yang sejati “HIDUP BERKELIMPAHAN” didalam KRISTUS.

ST