Renungan Harian Anak_Selasa 12 Januari 2021

Bacaan: 1 Raja-raja 21:1-16

Hari ini adalah hari yang cerah dan sejuk, sangat cocok untuk keluar bermain bersama di lapangan. Seperti itulah yang dipikirkan oleh 4 orang sahabat ini : Sara, Clara, Heri dan Jeri. Mereka sangat senang bisa menghabiskan waktu liburan sekolah mereka untuk bermain bersama. Kebetulan hari ini Heri mendapat mainan mobil-mobilan baru dari ayahnya. Mobil itu sangat bagus karena bisa di kendalikan dengan remote control. Heri pun memberi kesempatan kepada teman-temannya untuk bisa merasakan bermain dengan mobil remote controlnya

“Wah ! Keren banget yah mobilnya. Gimana caranya kamu bisa mendapatkan mobil ini dari ayahmu?” Kata Sara yang pertama kali mencoba mobilnya Heri.
“Hehehe…. jelas saja bagus. Lahian kan kemaren nilai ulanganku bagus semua dan ayah udah janji untuk beliin yang kumau asalkan nilaiku bagus semua. Jadi aku minta beli mobil ini deh.” Jawab Heri.
“oh jadi begitu ….” ujar Sara yang telah mendengar penjelasan Heri sambil terus fokus mengendalikan mobil itu.
Sara, gantian dong ! Aku juga mau coba nih…..” Kata Clara yang juga penasaran ingin mencobanya. “ Oke…..nih gantian. Jangan lama-lama ya, nanti baterenya abis lagi” kata Sara sambil menggoda Clara biar mainnya ga lama-lama. “Iya-iya…… Namanya juga pengen nyoba. Kalau bagus aku tinggal minta dibeliin aja persis kayak mobil ini ke papa.” Jawab Clara.
Selang beberapa lama, Jeri pun langsung merebut kontrol mobil itu dari Clara…… “Gantian dong, sekarang giliranku” kata Jeri sambil merebut dengan kasar remot kontrol itu dari tangan Clara.
“Iya-iya, jangan main kasar gitu,dong” kata Clara sambil menahan kesal karena perlakuan Jeri.
Jeri pun terus bermain dan tidak ingin gantian dengan temannya. Heripun meminta agar mainannya dikembalikan.
“Sudah, Jer, sini kembalikan remot kontrolnya.  Kami main permainan lainnya bersama.” Kata heri sambil meminta Jeri untuk mengembalikan mainannya.
“Ah…..gamau…..lagi asik nih, jangan ganggu aku…” jawab Jeri. Lalu Jeri membawa kabur mobol dan remot kontrol itu menjauh dari teman-temannya.
Melihat hal itu, Sara, Clara dan Heri berusaha mengejar Jeri dan merebut kembali mainan yang dipegang Jeri. Namun saking asiknya melihat mobil mainan ini melaju kencang, secara tak sadar Jeri menabrak pohon dengan kerasnya.
“Druak……..” bunyi tabrakan Jeri yang sangat keras hingga kepalanya benjol besar
“Tuh,kan … kena batunya kan kamu,Jer” kata Sara lalu membantu Jeri untuk berdiri.
“Makanya jadi orang jangan egois dong. Sini kembaliin remote controlnya. Untung gak kenapa-kenapa mainan baruku” ujar Heri
“aduh…. Maaf ya, teman-teman. Sikapku tadi terlalu egois. Soalnya aku terlalu senang dengan mobil itu” kata Jeri sambil mengungkapkan penyesalannya.
yaudah, gapapa kok. Yang penting kamu sadar akan perbuatanmu dan kamu menyesal.” Kata Clara sambil menenangkan Jeri
“udah ayo kerumahku dulu. Biar kita obati dulu kamu” kata Clara.
Akhirnya merekapun pergi bersama-sama untuk menolong Jeri yang terluka.

Adik-adik, apa yang bisa kita pelajari dari kisah diatas? Kita jadi orang khususnya sebagai anak Tuhan jangan sampai jadi orang yang egois ya. Dari kisah diatas tadi terlihat bahwa Jeri sedang merebut hal-hal yang bukan punyanya dan hal itu termasuk sikap egois. Jeri merebut hak teman-temannya untuk mencoba mainan baru itu serta merebut hak milik dari Heri selaku yang punya mobil. Dan akhirnya, Jeripun menerima akibat dari keegoisannya tersebut.

Di Alkitab juga ada sebuah kisah tentang seseorang yang egois.
Bukan hanya merebut hak milik orang lain, bahkan dia bersama istrinya tega untuk “merebut nyawa” atau membunuh orang tersebut agar apa yang dia mau dapat tercapai. Orang itu adalah Raja Ahab yang ingin merebut kebun anggur Nabot.

Raja Ahab adalah salah satu orang yang hidupnya dijajah dan dirusak oleh egoismenya. Kedudukan sebagai Raja tidak membuatnya menjadi orang yang menjaga kehormatan diri, tapi justru egoismenya makin besar. Apa saja yang menjadi kesukaannya harus didapatkan. Ketika keinginannya ditolak oleh Nabot, hal itu menjadi masalah besar baginya, bukan karena dia dirugikan kalau tidak mendapatkan kebun tersebut, tetapi karena egonya tidak bisa menerima penolakan Nabot. Sifat egoisnya menuntut kematian Nabot, dengan begitu tercapailah keinginannya.

Sejenak, adik-adik mari kita mengingat kembali apa yang pernah dikatakan Yesus tentang syarat-syarat seseorang yang mau mengikut Dia. Ia harus mampu menyangkal dirinya, memikul salibnya, lalu mengikut Dia! Dan salah satu bentuk penyangkalan diri ini adalah kebersediaan diri kita untuk menaklukkan sifat egois dalam diri kita. Egois adalah sikap yang hanya mementingkan diri sendiri dan untuk kesenangan diri.

Ketika kita mampu menaklukkan egoisme, maka segala bentuk perselisihan pun akan mudah diselesaikan. Bukankah hubungan dengan sesama kita seperti teman-teman, orang tua, saudara,dll akan terjaga baik ketika masing-masing bersedia mengalahkan egonya? Ketika egoisme ditaklukkan, maka roh iri hati dan kecemburuan tidak lagi mendapat tempat di hati kita.

KETIDAKMAMPUAN KITA MENGALAHKAN SIFAT EGOIS AKAN BERAKIBAT HAL YANG MERUSAK.

Ayat hafalan hari ini

Yakobus 3:16 (TB)  Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

Komitmenku Hari ini :

Aku mau belajar untuk peduli dengan sesama karena sifat egois atau mementingkan diri sendiri akan banyak merusak hubunganku dengan orang lain.

MEK – IFM