Renungan harian Youth, Jumat 15 Januari 2021

Syalom sobat Youth, semoga semua dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Tuhan.

Pernah nggak sih merasa salah kostum waktu menghadiri sebuah acara? Nggak nyaman pastinya. Semua kita pasti pernah diundang dalam pesta pernikahan. Waktu kita menerima undangan pastinya kita akan mempersiapkan diri termasuk pakaian yang akan kita kenakan untuk menghadiri acara tersebut. Bahkan ada yang mencocokkan dengan tema acaranya, misal acaranya pakai adat jawa maka batik atau kebaya akan lebih cocok, atau jika acaranya pakai model eropa maka gaun akan lebih cocok. Karena sengefans-ngefansnya kita dengan spiderman nggak mungkin juga kita datang ke pesta pernikahan pakai kostum spiderman, ya kan? Kecuali yang nikah superman.. hahaha.. Atau kita nggak mungkin dateng ke pesta pernikahan pakai babydoll spongebob, meskipun kita ngefans sekali sama spongebob. Karena pasti kita akan langsung diusir sama EO acara tersebut jika kita tidak mengenakan pakaian yang pantas untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan. Begitu pentingnya sebuah pakaian pesta dalam kita menghadiri sebuah undangan.

Yesus pun sangat setuju dengan pentingnya hal tersebut sehingga Dia mengatakan sebuah perumpamaan dalam Matius 22:1-14

“Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Dari perumpamaan tersebut kita bisa lihat ada tiga kelompok orang:

  1. Orang yang diuandang tetapi tidak mau datang, yaitu orang yahudi yang menolak Yesus.
  2. Orang yang sebetulnya tidak diundang (non yahudi) tetapi mendapat kasih karunia sehingga akhirnya diundang tetapi dia tidak mengenakan pakaian pesta sehingga diusir
  3. Orang yang sebetulnya tidak diundang (non yahudi) tetapi mendapat kasih karunia sehingga boleh turut dalam ruang perjamuan dan dia mengenakan pakaian pesta sehingga tidak diusir.

Dengan menimbang bahwa orang yang tidak mengenakan pakaian pesta itu diusir dan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap (bahasa metaforis untuk “neraka”) yaitu kematian kekal. Maka pakaian pesta adalah merujuk kepada syarat bagi kehidupan kekal, yaitu: Percaya/Beriman kepada Tuhan Yesus dan Pertobatan.

Dan hal ini dapat kita lihat dalam perjanjian lama dalam

Yesaya 61:10 “Aku bersukaria dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan Pakaian Keselamatan dan menyelubungi aku dengan Jubah Kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya.”

Dikatakan bahwa kita dikenakan Pakaian Keselamatan yaitu Percaya/Beriman kepada Tuhan Yesus, dan Jubah Kebenaran yaitu Pertobatan.

Jadi marilah kita menjadi golongan orang yang menerima anugerah kasih karunia karena meskipun kita sebenarnya tidak layak karena dosa-dosa kita tetapi Tuhan Yesus mau menebus kita sehingga kita beroleh keselamatan dan mendapat undangan untuk masuk ruang perjamuan, oleh karena itu marilah kita mengenakan pakaian pesta kita yaitu iman percaya kita kepada Tuhan dan pertobatan serta perbuatan baik yang memuliakan Allah.

Marilah kita menghargai kasih karunia yang Tuhan beri dengan hidup benar dihadapan Allah seperti seorang yang mengenakan pakaian pesta yang putih bersih.

SAM – AdS