Renungan Harian Youth, Kamis 09 Juli 2020

Syalom selamat pagi rekan-rekan Elohim Youth, saya harap kalian semua dalam keadaan baik-baik saja dan kita siap untuk menikmati berkat yang sudah Tuhan sediakan bagi kita hari ini.

Rekan-rekan, pernah kah teman-teman mengalami situasi dimana mimpi, cita-cita,harapan,atau bahkan tujuan hidup kalian berbeda dan sangat bertolak belakang dengan realita hidup yang kalian alami? Terbentang jarak yang lebar di antara keduanya. Seperti pembahasan di el-rei minggu lalu tentang “salah jurusan”, kalo ada yang belum dengerin ayo buka di Youtube channel Elohim Ministry, ada banyak hal yang bisa kita pelajari Bersama.

Kali ini saya ingin menceritakan sebuah kisah yang pernah saya alami.

Pada waktu memilih sekolah SMA, saya punya keinginan dan berharap masuk di sekolah swasta favorit di Malang, pada waktu itu nilai kelulusan SMP saya sangat memuaskan dan memenuhi syarat. Bisa dibayangkan saya menceritakan pencapaian saya kepada teman-teman saya dan saya sangat bersemangat untuk masuk di sekolah yang saya dambakan. Namun ….  kenyataan berbeda jauh saat orangtua saya, mmm pakai tanda kutip ya “memaksa” saya masuk sekolah kejuruan yang sejujurnya saya tidak suka dan sama sekali tidak masuk wishlist saya. Terkadang saya masih ingat perasaan pada waktu itu, betapa kesal dan malunya waktu itu.

Saya rasa teman teman juga pernah mengalami dengan kisah yang berbeda-beda, namun pengalamannya sama ketika kita bermimpi ada di atas, tapi kenyataan nya kita sedang terpuruk di bawah. Atau “seolah-olah” tidak ada dijalur harapan yang kita impikan. Kita berharap menjadi kepala, tapi hari ini kita masih menjadi ekor. Kita memiliki cita cita yang besar, tapi kenyataan nya kita sedang melakukan hal-hal kecil dan remeh. Begitu lebar jarak antara mimpi dan kenyataan, sehingga janji berkat seperti yang tertulis dalam ulangan 28: 11-14 tentang “ Menjadi kepala dan bukan ekor, makin naik dan bukan turun, menghutangi dan bukan yang berhutang” seolah-olah menjadi tidak realistis dalam pengalaman kehidupan kita.

Dan pada fase ini, bisa jadi dan sangat mungkin kita mulai meragukan janji Tuhan, atau mungkin juga kita berpikir bahwa janji itu terlalu muluk-muluk bagi kita. Sebelum kita melangkah jauh dalam pemikiran diatas, ayo kita mau belajar bersama-sama dari Abraham dan Yusuf.

Abraham mengalami jarak yang sangat lebar antara mimpi dan kenyataan. Tuhan menjanjikan ia menjadi bangsa yang besar, sedangkan kenyataan nya Abraham tidak memiliki keturunan. Fakta itu masih diperburuk dengan kenyataan bahwa ia sudah tua dan sara, istrinya sudah mati haid.

Kemudian juga dalam kehidupan Yusuf yang juga mengalami jarak yang begitu lebar antara mimpi dan kenyataan. Dalam Kejadian 37 ayat ke 7-9, diceritakan bahwa Yusuf mendapatkan mimpi untuk menjadi seorang pemimpin. Dalam mimpinya Matahari, bulan,dan 11 bintang, tunduk dan sujud menyembah dia. Namun kenyataannya tidak ada tanda tanda bahwa mimpi nya akan terjadi, jangankan ada satu bintang menyembahnya, kenyataannya justru menyedihkan. Yusuf dijual sebagai budak, lalu difitnah, dan dijebloskan dalam penjara. Siapa yang akan percaya bahwa seorang budak bisa menjadi seorang raja muda?

Rekan-rekan jika memang jarak antara mimpi dan kenyataan begitu lebar seolah-olah tidak terjangkau, disanalah kesempatan untuk kita menaruh Iman dan percaya kita kepada Tuhan, membangun sebuah kesadaran untuk kita berharap sepenuhnya kepada Tuhan, bukan pada kemampuan diri kita sendiri.

Percayalah, bahwa hanya Tuhanlah yang mampu untuk menutup jarak lebar antara mimpi dan kenyataan. Bagi Tuhan tidak sukar untuk menjadikan impian kita, tetapi Tuhan mau membentuk kehidupan kita menjadi anak-anakNya yang terus mau berjalan dengan pertolonganNya, memiliki karakter yang sesuai dengan kehendak-Nya. Karena pencapaian kita yang sejati bukanlah mencapai impian kiita saja tetapi menjadi pribadi yang terus bertumbuh sesuai dengan kehendak Allah.

Terbukti, Alkitab mencatat Abraham menjadi bapa banyak bangsa, Yusuf menjadi pemimpin yang sangat dihormati di mesir. Lalu bagaimana dengan kita? Jangan ragu, Tetaplah bermimpi, dan serahkanlah mimpi kita pada Tuhan. Kita kita menyerahkan kehidupan kita, percayalah tidak ada yang salah dengan apa yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita … segala sesuatu didesain Tuhan untuk mendatangkan kebaikan.

Roma 8:28  Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Allah yang berkerja dalam hidup Abraham dan Yusuf adalah Allah yang sama yang bekerja untuk saya dan juga rekan-rekan semua. Andalkan Tuhan dan izinkan Ia menolong kita merealisasikan mimpi mimpi yang Tuhan berikan bagi kita, percayalah bahwa suatu saat nanti hal itu akan menjadi kenyataan.

Tetaplah bermimpi, walau jarak diantara mimpi dengan kenyataan terlalu lebar … selalu andalkan Tuhan dan jalanilah Proses yang harus dijalani dengan Benar

Mari kita baca bersama-sama dalam

Yeremia 29:11, Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Komitmenku hari ini:

Sekalipun saat ini kenyataan tidak sesuai dengan apa yang aku cita-citakan, aku mau menyerahkan nya pada Tuhan karena aku percaya Tuhanlah yang merancangkan hal hal baik untuk masa depanku

NV – AC