Renungan Harian, Rabu 29 April 2020

Salah satu tanda akhir jaman yang tercatat dalam Firman Tuhan adalah

“Kasih yang bertambah dingin” (Matius 24:12)

Kita sadari bahwa ada banyak kebencian yang melanda dunia di dunia. Suami membenci istri mereka, dan istri membenci suami mereka. Ada Orang tua yang membenci anak-anak mereka, dan anak-anak membenci orang tua mereka. Kakak dan adik saling membenci. Yang membuat hati miris adalah adanya permusuhan di dalam hati mereka terhadap orang orang yang seharusnya dekat dengan mereka yaitu keluarga. Kebencian tampaknya telah memenuhi dunia, sehingga perang dan kekejaman telah menyebar ke mana-mana.

Apakah kita memiliki masalah dengan kebencian?
Apakah kesulitan untuk mempraktikkan kebaikan dan pengampunan kepada orang lain? Orang-orang di antara kita yang jujur akan mengakui bahwa kita sering kali merasa lebih mudah untuk benci terhadap orang lain daripada mengasihi berbuat baik. Bagaimanapun juga,

kita harus mengatasi masalah kebencian dan menggantikan permusuhan dengan kasih sebagai obat penawar, atau kebencian akan runtuh dan menimbun kita.

Inti Kekristenan dibangun di atas kasih. Inti dari kekristenan adalah penegasan bahwa Allah mengasihi manusia. Allah meminta anak-anak- Nya mengasihi Dia dengan sepenuh hati dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri.

Tuhan Yesus meringkas pengajaran Musa dan para nabi ke dalam dua perintah yang luar biasa (Matius 22:35-40). Dari pemurnian semua ajaran di dalam Perjanjian Lama ini, kita mempelajari tiga kebenaran yang luar biasa:

1. Kewajiban utama kita adalah mengasihi Allah dengan segenap hati dan kekuatan.
2. Kewajiban kedua adalah mengasihi diri sendiri secara tepat sehingga kita memiliki ukuran yang tepat untuk mengasihi sesama kita.
3. Kewajiban ketiga adalah mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri sendiri.

Perintah untuk mempraktikkan kasih di dalam dunia yang penuh kebencian ini jelas sekali. Kita harus mengasihi Allah, diri sendiri, dan orang lain. Kita harus mengasihi orang lain sekalipun mereka tidak menyenangkan. Kita bahkan harus mengasihi orang-orang yang tidak kita sukai.

Bagaimana mewujudkannya?

Firman Tuhan menyatakan bahwa Allah tidak hanya menuntut kita untuk mengasihi, tetapi Ia juga memberikan kesanggupan dan kecenderungan hati untuk mengasihi.

“Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). Allah telah menunjukkan kasih-Nya terhadap orang-orang yang tidak layak dikasihi melalui pemberian Putra-Nya, Yesus Kristus (ayat 9-10). Karena Allah mengasihi kita, Rasul Yohanes menyatakan bahwa kita diwajibkan dan dimampukan untuk saling mengasihi (ayat 10).

Allah tidak berharap kita mengasihi dengan kekuatan manusia saja, karena kasih manusia semu dan tidak murni, selalu memiliki kecenderungan untuk memenuhi keinginannya. Ia menempatkan Roh Kudus di dalam kehidupan orang percaya untuk memampukan kita mengasihi Allah dengan segenap hati, mengasihi diri kita sendiri dengan tepat, dan mengasihi satu sama lain seperti terhadap diri sendiri.

Kolose 3:14
Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

PA -1a