Renungan Harian Umum, Sabtu 10 Oktober 2020

 “Karena kami adalah kawan sekerja Allah” (1 Korintus 3:9)

Latar belakang dari ayat diatas adalah Ketidakdewasaan rohani melanda gereja di Korintus. Anggota gerejanya terdiri atas para petobat baru yang membawa serta ke dalam persekutuan gereja dan disana banyak sikap, ambisi, dan aktivitas yang mereka telah kenal dalam kehidupan penyembahan berhala mereka dan mereka tetap lakukan. Jadi, tak mengherankan apabila gereja ini jauh sekali dari kata ideal yang seharusnya untuk memuliakan Allah tetapi mengarah kepada saling menonjolkan diri satu dengan yang lain.

Semangat lama yang terbawa-bawa tersebut akhirnya menunjukkan dirinya dalam perpecahan dan perselisihan ketika sebagian orang memandang pekerjaan Allah semata-mata adalah memimpin orang lain dengan terpecah-pecah menjadi golongan Paulus, Apolos dll (1 Korintus 3:3-6). Paulus berusaha memperbaiki persoalan ini dengan menekankan bahwa kita semua adalah rekan sekerja yang bersama-sama bekerja bagi Allah dan Kerajaan-Nya.

Bekerja bersama bagi Allah adalah bagian dalam Anugerah Tuhan

Allah adalah Tuhan yang empunya tuaian, dan kita hanyalah pekerja yang bersama-sama bekerja di ladang anggur-Nya. Sebenarnya dalam kemahakuasaan-Nya, Allah tidak membutuhkan mitra. Karena Allah sendiri adalah Pencipta alam semesta dan sumber dari kehidupan.           Allah, dalam Kristus Yesus, telah menyediakan keselamatan secara cuma-cuma bagi kita tanpa manusia harus berusaha.

Namun pada kenyataannya, Allah sejak dari semula melibatkan orang-orang pilihannya untuk mengerjakan kehendak dan rencananya.

Allah melibatkan orang-orang percaya yang “membantu-Nya” sebagai mitra dalam menyebarkan kabar sukacita tentang kasih-Nya kepada dunia ini. Allah bisa saja menuliskan pesan kasih-Nya di langit atau menyampaikannya melalui para malaikat, tetapi Ia memilih untuk melakukannya melalui manusia.

Manusia memiliki perannya masing-masing.
Seperti yang dinyatakan oleh Rasul Paulus yang memberikan contoh pelayanannya. Paulus bersukacita karena mendapatkan hak istimewa untuk menjadi penanam benih yang baik di dalam hati manusia. Ia menyatakan bahwa Apolos bertugas menyirami benih tersebut, tetapi Allah yang adalah sumber memberi pertumbuhan.

Sekalipun Allah yang memberi pertumbuhan, si penanam dan si penyiram dapat menjadi penolong yang dahsyat dalam membantu pekerjaan Allah agar berhasil karena MEREKA ADALAH KAWAN SEKERJA ALLAH.

Demikian pula sebaliknya. Apabila kita tidak setia dan melayani secara asal- asalan, kita akan menghalangi kegerakan dan pekerjaan Allah.

Bekerja bersama untuk Allah—posisi yang penting dan menonjol.

Sering kali seorang dokter yang terkemuka meminta salah seorang dokter muda untuk menjadi asistennya. Dokter muda tersebut belajar dari pengalaman seniornya. Acap kali seorang pelatih terkenal menyertakan pelatih-pelatih yang lebih muda setiap kali ia melatih, bukan hanya untuk memberikan pelayanan, tetapi juga untuk mempelajari apa saja yang bisa mereka petik dari sang pelatih kepala.

Di dalam pelayanan kepada Tuhan kita, kita mendapatkan hak istimewa untuk bekerja bersama satu dengan yang lain dan belajar dari satu sama lain supaya kita dapat semakin efektif melayani umat Allah. Kita seharusnya bersukacita karena memperoleh kehormatan dan hak istimewa untuk bekerja bagi Tuhan.

Di dalam pekerjaan Tuhan, keberhasilan pasti terjadi apabila kita percaya kepada-Nya dan dengan sungguh-sungguh berusaha dipakai oleh-Nya (1 Korintus 15:58). Tuhan kita akan membantu dan bekerja di dalam hati dan pikiran kita sehingga kita menjadi pengikut yang berarti bagi-Nya. Allah kita sedang bekerja di dalam kita dan akan bekerja melalui kita sementara kita bekeija bersama orang lain untuk memperlebar kerajaan-Nya.

Saudara yang terkasih, Allah sedang bekerja di dunia kita, dan Ia membutuhkan kerja sama aktif dari semua pelayan-Nya. Kita memperoleh hak istimewa untuk menjadi rekan sekerja Allah.

Tuhan Yesus Memberkati

PA_55