Renungan Harian, Sabtu 11 April 2020

Bacaan : Lukas 23:33-56

Mengampuni bukanlah merupakan hal yang mudah untuk dilakukan oleh manusia. Manusia sering menyimpan keegoisan yang sangat besar, ditunjukkan dengan sikap-sikap seperti tidak mau mengalah, dendam, tidak merasa bersalah. Itulah sebabnya manusia tidak dapat menyucikan dirinya sendiri, apalagi menyelamatkan dirinya. Jelaslah bahwa manusia membutuhkan penyelamatan dan pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus yang dapat menyelamatkan manusia dari hukuman dosa.

Pengampunan yang Yesus berikan adalah pengampunan yang tulus

Karena Yesus mengampuni orang-orang yang telah membuatnya menderita. Yesus meminta kepada Bapa untuk mengampuni,

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34a).

Yesus mau mengampuni orang- orang yang tidak menyadari bahwa perbuatannya itu salah. Itu berarti Yesus mengampuni orang-orang yang merasa tak butuh diampuni dan bersikeras dengan pendiriannya.

Tujuan dari seluruh penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus awalnya tidak dimengerti oleh manusia. Mereka memperolok Yesus dan menuliskan tulisan ‘Raja orang Yahudi’ untuk menunjukkan alasan mengapa Yesus disalibkan menurut pemahaman mereka. Padahal sesungguhnya Yesus disalib bukan karena la ingin menjadikan diri-Nya raja, namun

Yesus mau menyadarkan manusia untuk melihat bahwa seluruh rangkaian penderitaan yang la alami bertujuan untuk mengampuni dosa umat manusia.

Karya Kristus mendamaikan manusia dengan Allah.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus rela menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang, karena hanya kematian-Nya sebagai orang benar yang dapat membenarkan orang berdosa di hadapan Allah.

Pengorbanan terbesar yang la berikan dapat memberi pengampunan dan menyucikan manusia dari segala dosa. Jaminan akan kelepasan dari segala dosa ditunjukkan melalui perkataan Yesus pada penjahat yang di samping-Nya,

“Aku berkata kepadamu sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43)

Pengampunan yang Yesus berikan akan menjamin kehidupan kekal, dimana Yesus berada, disanalah orang yang percaya berada.

Belajar dari sikap Tuhan Yesus yang penuh kasih dan pengorbanan, sebagai anak-Nya kita didorong untuk meneladani-Nya dalam tindakan kita sehari-hari. Alangkah baiknya bila kita keluar dari zona aman kita. Zona aman kita dapat berupa sikap yang sulit untuk mengampuni sebab terkadang kita merasa rugi.

Tindakan mengampuni sesungguhnya tidak membuat kita rugi, melainkan membawa keuntungan yang besar bagi kita dan bagi orang yang kita ampuni.

Dengan mengampuni kita dapat membebaskan orang yang bersalah kepada kita dari hukuman yang harus ia tanggung. Kita juga tidak menyimpan rasa kesal atau dendam lagi kepadanya. Sedangkan bagi orang yang diampuni, ia akan merasa lega karena tidak menanggung beban hukuman yang harus diterimanya.

Relasi orang yang mengampuni dan orang yang diampuni pun terjalin kembali dan ada damai di antara mereka.

Pada awalnya sikap untuk mengampuni memang sulit dilakukan. Namun bila kita menghayati pengampunan yang diberikan Tuhan kepada kita di atas kayu salib yang disertai kasih dan pengorbanan, maka pengampunan yang kita berikan kepada sesama belumlah seberapa. Oleh karena itu kita harus terus bersyukur atas kasih dan pengampunan-Nya yang menyelamatkan.

Ampuni karena Anda sudah diampuni

SSM