Renungan Harian, Kamis 28 Januari 2021

Syalom . . . . semangat pagi Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan. Secara alamiah manusia memiliki sifat untuk menyembah pada “sesuatu atau idol”. Manusia memiliki kebutuhan untuk menyembah karena manusia sadar bahwa ada kuasa yang melebihi dirinya. Dalam dunia modern seperti sekarang, mungkin bukan berhala saja, melainkan seperti: patung, uang, individu, alam dan masiih banyak lagi.

Ibadah menjadi sarana untuk kita menyembah Tuhan kita.

Pertama kali kata “ibadah” dipakai pada Kejadian 3:12 “ . . . Maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini”. Dalam Perjanjian Lama ciri utama ibadah adalah persembahan korban ( Bil 28:1-29:40). Dalam Perjanjian Baru, korban Yesus Kristus di salib telah menggenapi seluruh bentuk ibadah dalam Perjanjian Lama. Sekarang kita mengingat korban Yesus Kristus melalui Perjamuan Kudus.

Pada pagi ini kita diingatkan Rasul Paulus bahwa kehidupan ini juga merupakan bentuk ibadah dalam

Roma 12:1 dan 2 “ Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah  oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan  kepada Allah dan yang sempurna.

Sebagai orang percaya kita diminta untuk memperhatikan bahwa tubuh ini sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah karena itu adalah ibadah yang sejati. Lalu dengan apa kita bisa menjaga tubuh ini supaya tetap kudus sesuai FirmanNya, yaa … dengan memiliki kehidupan yang sesuai pembaharuhan pikiran yang kita dapat selama saat teduh kita, saat beribadah di gereja atau ditempat lain yang dikerjakan Roh Kudus bagi kita.

Mari kita mengingatkan diri ini supaya jangan saat di ibadah di gereja saja kita tampak oke tapi saat di rumah, di tempat kerja semau tampak sebaliknya. Orang mungkin dapat menutup telinga dari perkataan kita tapi kehidupan kita itulah yang perkataan yang nyata. Saat kita meninggal orang akan mengingat bagaimana kita menjalani kehidupan ini.

Beberapa waktu lalu saya mendengar sebuah kesaksian. Bahwa benar melayani itu bukan hanya ditampil digereja saja melainkan orang ini akhirnya benar-benar menyadari bahwa ditempat kerja dia juga sedang melayani teman-temannya yang berlaku tidak adil. Itulah salah satu bentuk menjaga kehidupan yang kudus dan akan menjadi ibadah yang sejati.

“Jagalah Kehidupan karena itu adalah persembahan yang hidup dan  Ibadah yang sejati, baik dalam kondisi menyenangkan atau terpuruk karena itu akan menjadi teladan juga bagi orang disekitar kita”

TC