Renungan Harian Jumat 23 Oktober 2020

Setiap Manusia tidak hanya sebatas apa yang dilihat secara kasat mata ~ tetapi jauh lebih dalam kedalam hatinya setiap anak-anak Tuhan ada pergumulan masing-masing. Dalam Bahasa jawanya “sawang-sinawang”, yang seorang melihat orang lain hidupnya lebih enak dibanding dengan keadaan hidupnya.

Namun pemikiran ini, sudah tertanam dalam pikiran kita, entah karena pergumulan kehidupan yang sudah lama dihadapi, atau tidak kunjung ada jawaban pemulihan dari Tuhan. Setiap kita seperti gambaran “kolam Bethesda” ~ yang artinya Rumah Pengharapan. Seperti orang-orang yang datang dengan pengharapan untuk mendapatkan pemulihan dan kesembuhan ketika Tuhan datang. Tetapi betapa banyak juga anak-anak Tuhan yang tidak mendapatkan pemulihan meskipun sudah lama menunggu. Dan akhirnya melahirkan sikap “apatis” kepada Tuhan, datang dengan rutinitas. Dan dengan konsep pikir “ya sudahlah”, sikap hati yang tidak beriman tetapi sebenarnya sudah menyerah dan kehilangan harapan untuk pemulihan.

Kisah seorang yang sakit di Bethesda dalam Yohanes 5:1-15.

Selama 38 tahun dia menantikan kesembuhan ~ jika kita bayangkan apakah orang ini masih memilki semangat atau harapan untuk sembuh. Ada sebuah cara pikir dari orang sakit ini adalah bahwa kesembuhan hanya datang dari kolam Bethesda, sehingga Yesus datang menawarkan kesembuhan (ayat 6) ~ jawabannya adalah tetap mengenai keadaannya di kolam Bethesda.

Yohanes 5:6-7 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”

Situasi yang berat  + durasi yang lama = Membentuk paradigma dalam pikiran kita.

(sehingga tidak ada keinginan dan pengharapan lagi) – terus kembali kepada situasinya terus, tanpa ada harapan lagi. Orang-orang yang ada dalam keadaan yang sakit ini menjadi  “tidak percaya” dan kemudian akan menyalahkan situasi dan orang lain yang ada disekitarnya.

Tuhan mau kita keluar dari konsep pikiran kita yang salah ~ kembali kepada kebenaran yang sebenarnya mengenai janji-janji Tuhan. Kuncinya adalah pertobatan dan melakukan bagian yang harus kita kerjakan <PERCAYA DAN LAKUKAN dalam KETAATAN>

Yesus memerintahkan “BANGUNLAH” ~ bukan Tuhan Yesus bangun tetapi bagian orang sakit itu untuk percaya dan bangun.

KUNCI utamanya adalah “PERCAYALAH” Tuhan tahu yang terbaik dan apa yang tepat bagi setiap kita.

Untuk mengalami Mujizat dari Tuhan, ada cara pikir lama yang harus diubahkan, ijinkan Tuhan mengerjakan rencana-Nya jangan batasi dengan cara pikir kita.

Bukan kolam Bethesda yang menyembuhkan pria ini, tetapi kehadiran Tuhan Yesus yang memberikan pemulihan dan kesembuhan yang sempurna.

Pekerjaan Allah tidak hanya terbatas kepada hal-hal yang duniawi saja tetapi lebih dari pada itu adalah untuk membawa kita semakin mengenal Allah. Inilah tujuan dari Mujizat. Mujizat bukan hanya untuk dipulihkan dan disembuhkan, tetapi membawa seseorang untuk semakin mengalami Tuhan dan mengenal Allah secara pribadi.

Percayalah bahwa Tuhan pasti menjawab doa kita, mungkin masalahnya adalah kita yang tidak memahami bentuk jawaban Tuhan terhadap doa-doa kita. Kenallah Tuhan dan kita akan semakin memahami kehendak dan jalan-jalanNya.

Tuhan Yesus memberkati

EB