Renungan Harian Anak, Senin 14 Desember 2020

Lukas 2: 1-7

Adik sebentar lagi kita akan merayakan Natal, walaupun situasi pandemi ini membuat kita ga bisa natalan bareng, adik-adik masih bisa membuat suasana natal dirumah masing-masing. Bisa bikin kue, menghias pohon natal dengan lampu yang gemerlap, dan memang selalu seru kalau kita membicarakan natal

Tetapi adik-adik seperti di Sunday funday kita kemarin, kakak ingin kita kembali diingatkan mengenai makna natal yang sejati. Supaya adik-adik semuanya tidak hanya menikmati suasana natal tetapi juga memahami makna natal bagi kehidupan kita.

Ayo kita mengingat kisah natal pada waktu Tuhan Yesus lahir kedunia ini, ternyata kelahiran sang bayi natal yang ada Raja segala Raja jauh dari kata pesta pora dan kemewahan. Ternyata yang dipilih Allah untuk kelahiran Tuhan Yesus adalah kandang domba, dilahirkan sebagai anak tukang kayu, dan tempat pembaringan adalah  sebuah palungan.

Saat Yesus lahir, saat itulah Natal yang pertama terjadi. Ketika Natal yang pertama terjadi, Maria hanya bisa menyambut kelahiran bayi Yesus di kandang domba.  Tidak ada pesta ataupun perayaan besar. Tidak ada baju bagus yang berwarna warni, Tidak ada tukar kado dan makan-makan yang enak. Yang ada hanya senyuman dan ucapan syukur dari Maria dan Yusuf atas lahirnya bayi Yesus ke tengah-tengah dunia ini. Malam itu, Natal yang pertama, Malam yang hening. Bahkan, saat para gembala datang untuk melihat bayi Yesus, mereka datang dalam kesederhanaan. Tak ada bingkisan tak ada kue-kue. Mereka datang hanya untuk menyembah Yesus saja. Mereka bersyukur atas lahirnya Yesus yang datang untuk menyelamatkan umat manusia.

Adik-adik, Natal harusnya disambut bukan dengan kemewahan, apalagi bila kemewahan itu dipaksakan. Natal seharusnya diperingati dengan sederhana dan penuh ucapan syukur. Terlebih disituasi sekarang ini, bukan kemewahan natal tetapi makna natal yang sejati dengan berbagi kepada sesama yang membutuhkan, mengucap syukur dengan apa yang dimiliki sekarang.

Saat Natal yang penting bukanlah gemerlap lampu-lampunya, melainkan gemerlap syukur di hati kita. Yang penting bukanlah pesta dan perayaannya, tetapi sukacita di hati kita atas lahirnya Juruselamat.

Yuk adik-adik marilah kita menghayati Natal dalam kesederhanaan. Jangan lagi Adik-adik menuntut baju baru dan hadiah-hadiah Natal pada mama dan papa. Sebab, yang harusnya baru bukanlah baju kita, melainkan hati kita. Yang seharusnya menerima hadiah Natal bukan kita, melainkan Yesus. Apa hadiah Natal kita untuk Yesus? Hati yang taat, penuh syukur dan sukacita, itulah hadiah terbaik untuk Yesus. Maukah Adik-adik memberikan hati dan hidup Adik-adik untuk menjadi hadiah Natal terindah bagi Yesus?

Apakah arti Natal dalam kesederhanaan?

Natal yang sejati bukan tentang pesta yang meriah tapi tentang lahirnya Juru Selamat dalam hati dan hidup kita peringati natal dengan penuh rasa ucapan syukur dan berbagi dengan sesama dalam situasi apapun  dan berikanlah hati yang taat, penuh syukur dan sukacita sebagai hadiah yang terbaik dari kita untuk kelahiran Tuhan

Ayat Hafalan

Yohanes 3:16a Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.

Komitmenku hari ini

Aku mau merayakan Natal tahun ini dengan ucapan syukur bahwa Tuhan Yesus sudah datang kedunia untuk menyelamatkan aku yang berdosa ini

SF131220 – KCP