Renungan Harian Youth, Kamis 24 Desember 2020

Bahan Bacaan : Matius 1:18-25

Syalooom… selamat pagi teman- teman remaja pemuda ELOHIM. Apa kabarnya hari ini? Semoga kita sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan.

Dalam kisah natal, selain Yesus yang kita kenal dengan ketulusan hati, ada seorang pria lagi yang punya ketulusan hati. Ia adalah Yusuf, ayah biologis Yesus. Ketulusan cinta Yusuf menjadikan natal bermakna. Kata ketulusan dalam bahasa Inggris adalah ‘sincerity’ yang berarti bebas dari ketidakjujuran, tidak munafik atau bermuka dua, bersih dalam niat hati dan motivasi, sikap yang tidak berlaku jahat terhadap sesama, tidak berbelat belit, serta keramahan yang tidak dibuat-buat. Yusuf dikenal memiliki “pure heart”. Yusuf memperlihatkan ketulusan hatinya ketika ia mendapati Maria hamil bukan dengan dirinya. Yusuf tetap berusaha untuk menjaga Maria agar tidak dipermalukan. Dibalik kebimbangan Yusuf, Tuhan tidak tinggal diam, Dia berbicara kepada Yusuf melalui mimpi bahwa Maria hamil oleh karena kuasa Roh Kudus. Sebagaimana dalam

Matius 5:8, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Betapa pentingnya ketulusan hati dimata Tuhan.

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari ketulusan hati.

Pertama, ketulusan hati membuat orang berpikir jernih dalam membuat keputusan.

Banyak orang sulit untuk membuat keputusan dengan benar, karena tidak bisa berpikir jernih. Ada banyak motivasi atau niat-niat yang salah yang jadi penyebabnya. Tetapi berbeda dengan Yusuf. Yusuf didisini dapat membuat keputusan yang benar, karena diawali oleh hati yang tulus kepada Allah. Yusuf dapat berpikir dengan jernih dalam membuat keputusan, sehingga Yusuf tidak takut akan keputusannya, karena ia tau keputusannya itu sesuai dengan kehendak Allah.

Kedua, ketulusan melahirkan kepercayaan.

Untuk mendapatkan sebuah kepercayaan tidaklah mudah. Dapat kita lihat disini bahwa, Yusuf dipercaya oleh Allah menjadi ayah biologis Yesus Kristus. Karena ketulusan hati Yusuflah, maka ia mendapat suatu kepercayaan yang akhirnya menjadi bagian dalam sejarah kelahiran Yesus Kristus.

Ketiga, Ketulusan hati merupakan sikap batin yang diperhitungkan Tuhan.

Ketulusan hati Yusuf diperhitungkan oleh Allah.Secara literal atau harafiah, hanya ada dua orang dalam Perjanjian Baru Alkitab yang namanya dituliskan sebagai orang yang tulus hatinya; salah satunya adalah Yusuf, ayah Yesus. Karena ketulusan hati Yusuf, ia dituntun, dilindungi dan disertai oleh Allah. tuhan rindu gereja-Nya memiliki ketulusan hati dalam hidupnya.

Teman-teman yang dikasihi Tuhan, sebagai pelajar dan mahasiswa, marilah kita mengerjakan tanggung jawab kita dengan tulus hati. Sebagai pekerja, marilah kita bekerja dengan tulus hati. Sebagai pelayan Tuhan, marilah kita melayani dengan tulus hari. Ketika ketulusan dipertanyakan, disaat itulah kesungguhan harus dibuktikan. Bukan dengan ucapan, melainkan oleh tindakan.

Marilah kita memiliki ketulusan hati seperti Yusuf. Karena ketulusan hati membuat kita bisa berpikir jernih dalam membuat keputusan, dapat di percaya, dan pastinya hal ini dperhitungkan oleh Tuhan. Mari kita menyambut dan merayakan natal dengan hati yang tulus, karena Juru s’lamat telah lahir di hati kita. Puji Tuhan.

Tuhan memberkati!

Komitmenku hari ini

Aku mau belajar hidup dalam ketulusan hati, dalam segala hal yang aku lakukan bisa menjadi berkenan kepada Allah.

MW – SCW