Renungan Harian Youth, Kamis 11 Februari 2021

Mazmur 13:3, Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?

Selamat pagi… salam semangat buat rekan-rekan semuanya … kiranya hari ini menjadi hari yang diberkati oleh Tuhan.

Rekan-rekan yang dikasihi oleh Tuhan Yesus … Hidup di tengah dunia yang semakin bergejolak dan penuh problematika ini tak seorang pun hidup tanpa kuatir dan tak seorang pun terhindar dari rasa kuatir, termasuk kita sebagai orang percaya.  Jika ada orang yang menyatakan diri bahwa ia tidak pernah merasa kuatir sedikit pun dalam hidupnya, hal tersebut adalah sebuah penyangkalan.  Akan tetapi setiap kita dapat menolong diri sendiri terlepas dari rasa kuatir yaitu memercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan dan melihat setiap masalah, situasi, keadaan atau peristiwa yang ada dari sudut pandang Firman Tuhan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata  ‘kuatir’  memiliki pengertian:  takut  (gelisah, cemas)  terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti.  Perasaan ini biasanya dihubungkan dengan pikiran negatif tentang sesuatu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.  Kuatir juga berarti was-was, bingung dan pikiran terpecah-pecah. 

Tuhan berfirman:  
“Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”  (Matius 6:25). 
Lalu Dia menambahkan:  “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”  (Matius 6:27). 

Tuhan memperingatkan kita untuk tidak kuatir, karena Dia sendiri yang menjadi jaminan bagi kita.  “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  (Ibrani 13:5b).

Hendaknya kita menyadari bahwa kekuatiran itu hanya memindahkan beban dari bahu Tuhan yang kuat ke bahu kita yang lemah.  Kekuatiran adalah sebuah obsesi akan hal buruk yang mungkin terjadi dan juga tidak terjadi, ketakutan terhadap hal yang tidak menyenangkan, menderita sakit, mengalami kekurangan, kehilangan sesuatu dan sebagainya. 

Daud, seorang raja pun, juga pernah merasa kuatir, tapi ia tak mau terus dibelenggunya, kemudian …  Daud mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan melalui doa dan percaya penuh kepada-Nya!

Mazmur 13:6 Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Cara Daud Mengatasi Kekuatiran

1. Membangun Kepercayaan kepada Tuhan.

Daud mengarahkan pikiran dan hatinya kepada kebesaran Allah bukan kepada besarnya masalahnya. Daud memilih untuk percaya kepada janji Allah dibanding memilih untuk ditekan oleh masalah yang dia hadapi.

2. Membangun Pujian kepada Tuhan

Ada kuasa didalam pujian. Ini adalah kebenaran bagi kita anak-anak Tuhan, setiap pujian yang kita naikkan kepada Tuhan adalah untuk mensyukuri setiap kebaikan Tuhan. Pujian itu membangun Iman dan percaya kita kepada Allah. Ketika kita memuji Tuhan maka sebenarnya kita sedang mengarahkan hati kita kepada Tuhan.

Dalam segala situasi dan keadaan, bahkan dalam keadaan yang berat … pujilah Tuhan … naikan pujianmu kepada Allah, percayalah setiap pujian itu akan mengingatkan kita kepada kebesaran dan kebaikan Allah yang jauh lebih besar daripada kekuatiran dalam kehidupan kita.

Perhatikan nasehat Amsal Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang,”  Amsal 12:25

Komitmenku hari ini

Kekuatiran akan menyedot energi dan semangat kita, karena itu pilihlah untuk tetap percaya dan arahkan hatimu kepada kebesaran Tuhan

Tuhan Yesus Memberkati

YG – SCW