Renungan Harian Youth, Kamis 03 Desember 2020

Ayat bacaan: 1 Raja-raja 19:1-8

Syalom sobat youth. Hari ini renungan kita berjudul “Life Goes On” pasti  auto nyambung sama boyband korea “BTS” yang lagi trending youtube dengan lagu barunya “Life Goes On”. Ya hidup memang akan terus berjalan apapun musimnya, apapun keadaanya hidup akan terus berjalan. Kita mau senang, kita mau gak senang hidup terus berjalan. Kita mau mengalami kemenangan, kita mau mengalami kekalahan hidup terus berjalan.

Orang tidak bisa memilih untuk hidup selalu dalam kondisi yang baik terus, terkadang Tuhan mengijinkan juga kita mengalami sesuatu yang tidak baik.

Jika hal baik yang kita alami akan mudah saja untuk kita bilang Life Goes On, tapi tatkala Tuhan ijinkan hal buruk terjadi dalam hidup kita seringkali kita putus asa dan ingin menyudahi segalanya seperti Elia (ayat 4), seperti pada renungan kita beberapa waktu yang lalu mengenai “To Be Or Not To Be” terus hidup atau mati saja, masih ingat kan? Penting bagi kita untuk mengetahui cara untuk mengatasi tatkala kita diijinkan berada pada kondisi yang tidak baik.

Bagi Anda yang memahami ilmu pelayaran atau perkapalan, mungkin istilah Plimsoll Line atau Garis Plimsoll tidak asing lagi di telinga Anda. Garis Plimsoll adalah garis pada badan kapal yang berfungsi sebagai garis batas muatan. Saat sebuah kapal diberi muatan barang atau penumpang, maka badan kapal akan turun. Turunnya badan kapal ini tidak boleh melewati Garis Plimsoll, karena bila garis ini dilewati maka kapal tidak akan stabil dan rawan karam. Garis Plimsoll adalah ide Samuel Plimsoll, seorang anggota parlemen Inggris, ketika melihat sebuah kapal barang yang tenggelam karena kelebihan muatan. Demikian pula halnya dengan tubuh manusia.

Setiap orang memiliki garis Plimsoll-nya masing-masing, baik itu secara fisik, mental ataupun emosional. Bila garis Plimsoll dalam diri seseorang itu terlampaui, maka masalah besar akan terjadi. Sebagai contoh, ketika tubuh kita sudah mengalami keletihan, namun kita tetap memaksakan diri untuk melakukan aktivitas yang berat, maka kita bisa jatuh sakit. Demikian juga saat kita menanggung beban emosional yang begitu berat sehingga melewati batas garis Plimsoll emosional kita, maka kita bisa mengalami stres dan depresi.

Dari ayat yang sudah kita baca diatas, Firman Tuhan mencatat nabi sehebat Elia sekalipun pernah mengalami stres dan depresi ketika tekanan yang ada dalam hidupnya terlampau berat. Di dalam keletihan fisiknya, emosi dan mental Elia diberi tekanan oleh ancaman Izebel sehingga dia mengalami stress dan ketakutan, bahkan sampai Elia merasa ingin mati saja saat itu (1 Raja. 19:4).

Lalu bagaimana caranya untuk menjaga agar garis Plimsoll hidup kita tetap dalam batas aman? Kita harus memindahkan beban-beban di dalam hidup kita itu dan menyerahkannya kepada Tuhan.

Serahkanlah segala ketakutan, kekhawatiran, tekanan hidup dan masalah yang kita hadapi kepada Tuhan.

Seperti Daud yang menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan tetap percaya bahwa Tuhan akan bertindak memberikan pertolongan, kita pun harus belajar untuk menyerahkan hidup kita kepada Tuhan ketika tekanan masalah begitu menghimpit kehidupan kita. Lakukanlah apa yang dapat kita lakukan dan berdoalah meminta pertolongan Tuhan untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat kita lakukan. Seperti halnya Tuhan menyediakan roti dan air bagi Elia agar dia dapat bertahan dan meneruskan perjalanannya (ayat 5-8) demikian juga Tuhan akan menyediakan apa yang kita perlukan agar kita tetap bisa menjalani hidup ini. Karena “Dia memberi kekuatan kepada yang lemah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yesaya 40:29)

“Hidup itu seperti orang bersepeda, agar tetap seimbang dan tidak jatuh kita harus terus mengayuh dan terus berjalan.”

Life Goes On

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Komitmenku hari ini

Aku mau belajar untuk menyerahkan segala ketakutan, kekhawatiran, tekanan hidup dan masalah yang aku hadapi kepada Tuhan … Karena aku harus tetap menjalani hidup yang akan terus berjalan.

SAM – SCW