Renungan Harian, Sabtu 07 November 2020

Mazmur 62

Dalam Kitab Mazmur ada mazmur yang ditulis oleh Raja Daud yang kemudian di susun menjadi Sebuah lagu oleh Yedutun (seorang Arranger dr golongan orang lewi) dimana itu merupakan ungkapan perasaan Daud tentang pengalaman Pribadinya bersama Tuhan.  

Mazmur 62 mengungkapkan sebuah kebenaran mendasar yang didalamnya setiap orang percaya harus hidup. Di tengah-tengah kesulitan, kesengsaraan atau pertentangan dari musuh, kita harus berbalik kepada Allah sebagai perlindungan dan pelepas tertinggi.  Ini merupakan renungan dari Daud berdasarkan pengalaman pribadinya dengan Allah yang membuat dia semakin sungguh-sungguh percaya kepada ALLAH.  “apapun yang terjadi, bukankah jiwaku tunduk kepada Allah?” [septuaginta], karena hanya dalam DIA kita mendapatkan ketenangan.  Disini, Daud dengan ekpresi luar biasa senangnya mengakui keyakinannya akan Allah dan kebergantungannya kepada-Nya (ay 2, 6)  Dia sendiri terus mendorong dirinya untuk terus menantikan Tuhan dan pertolongannya.  Mazmur Daud ini kemudian dijadikan nyanyian oleh Yedutun [Yedutun adalah seorang dari kaum lewi yang diangkat Daud untuk memimpin ibadah musik di Bait Suci bersama heman dan Asaf.  Dialah yang menulis Musik untuk Mazmur 39,62 dan 77].  

“Hanya dekat Allah saja aku tenang,…”

[terjemahan KJV > Sesungguhnya jiwaku menantikan Allah…] pernyataan ini merupakan ayat kunci dari Mazmur 62. Bahkan dengan penuh keyakinan Daud menyatakan kembali pernyataannya tentang ketergantungannya kepada Allah dua kali.

Bagian 1 (ay 2-5)

Ungkapan keyakinan Daud (ay 2-3)

Dengan penuh keyakinan Daud menyatakan bahwa “Hanya dekat ALLAH saja aku tenang…” terjemahan King James Version menulis “bahwa sesungguhnya jiwaku menantikan ALLAH .” Frasa ini mengungkapkan  alasan mengapa “Hanya ALLAH…” dan Bukan yang lain, yaitu bahwa dari pada Allah saja datang keselamatan.

Kata “Hanya” didalam bahasa ibrani ; “AK” yg berarti; Tentulah, Tetapi, Saja, Lebih baik.  Apabila menempatkan 4 kata tersebut pada awal sebuah kalimat menerangkan bahwa kalimat tersebut bernuansa positif.

“Tentulah dekat Allah..” atau “Tetapi dekat Allah…” atau “Lebih Baik dekat Allah…” menyatakan bahwa keputusan untuk hidup dekat dengan Allah merupakan keputusan hidup yang terbaik.

Keadaan Daud (ay 4-5)

Ayat ini mengingatkan juga tentang betapa rapuh dan fananya manusia, penuh dengan keterbatasan. Sehingga ia tidak dapat diandalkan. Daud pernah dikhianati oleh anaknya sendiri [Absalom] mengkhianati Daud Daud pernah dikhianati oleh temannya sendiri [Ahitofel]

Bagian 2 (ayat 6-9)

Ungkapan keyakinan Daud  (ay 6-8)

“Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang…”

Apa yang diungkapkan oleh Daud menunjukkan kepada kita bahwa menantikan Tuhan itu baik, oleh sebab itu kita harus terus memerintahkan jiwa kita untuk terus bergantung kepada Allah supaya hati kita bisa selalu tenang. Daud mengulangi apa yang dikatakannya tentang Allah dalam ay 3, sebagai ungkapan keyakinan yang lebih lagi tentang pribadi Tuhan.

“Hanya DIAlah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” [KJV > Aku tidak akan goyah sama sekali]

Satu-satunya yang dpt diandalkan adalah TUHAN.

Ajakan Daud (ay 9)“Percayalah kepada-Nya setiap waktu hai umat, curahkanlah isi hatimu dihadapan-NYA, ALLAH ialah tempat perlindungan kita.”

BMIK > Hai bangsaku, berharaplah kepada Allah setiap waktu, Curahkanlah isi hatimu kepada-NYA sebab DIAlah tempat kita berlindung.

Beberapa pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

1. Keputusan untuk hidup dekat dengan Tuhan adalah keputusan terbaik.
2. Satu-satunya yang dapat diandalkan dalam hidup ini adalah Tuhan.
3. Rapuh dan fananya manusia.

Yeremia 17:5,7-8 “terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari Tuhan!.” Tetapi “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya kepada Tuhan!  Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”

Tuhan Yesus memberkati.

DS