Renungan Harian Youth, Senin 11 Januari 2021

Awal yang baru, Harapan yang baru, Semangat yang baru…. Nah memasuki minggu ke 2 tahun ini merupakan saat yang tepat bagi kita untuk membuat perencanaan yang baru. Apa-apa yang akan kita lakukan sepanjang tahun ini, target-target yang ingin kita capai. Yaitu menyusunnya dengan membuat PRIORITAS, mana yang lebih penting.

Dalam kehidupan sehari-hari dan banyaknya kesibukan yang kamu miliki, rasanya 24 jam saja tidak cukup. Banyak hal yang kamu lakukan dan kamu bingung harus melakukan kegiatan yang mana dulu dari sekian banyak aktivitasmu. Hal ini disebabkan karena kamu belum paham bagaimana menyusun skala prioritas yang benar.

Prioritas adalah sesuatu yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain: Menentukan skala prioritas harus dimulai dari pemahaman akan hal-hal dasar yang sederhana.

Steve R. Covey dalam bukunya “First Things First” menguraikan konsep manajemen prioritas berdasarkan penting dan mendesaknya suatu kegiatan. Covey menguraikannya dalam bentuk empat kuadran. Kuadran I untuk hal yang penting dan mendesak, Kuadran II untuk hal penting dan tidak mendesak, Kuadran III untuk hal tidak penting dan mendesak, Kuadran IV untuk hal tidak penting dan tidak mendesak.

So many things to do, so little time.
Tidakkah kita sering merasa demikian? Begitu sibuknya sehingga kita berharap bisa memiliki waktu lebih dari 24 jam sehari. Kita harus bekerja, ada banyak jadwal rapat, di sisi lain kita harus memperhatikan keluarga, dan tentu saja meluangkan waktu bersama Tuhan. Dan situasi seperti ini akan membuat masing-masing orang menetapkan skala prioritasnya, yang biasanya berbeda antara satu dengan lainnya. Ada yang memprioritaskan pekerjaan dan mengorbankan hal lain, ada yang memprioritaskan hobi dan kesenangan, ada yang lebih memilih untuk tidur dan bermalas-malasan dan sebagainya. Ironisnya, bagi banyak orang semua itu mendapat prioritas lebih tinggi dibanding mencari Tuhan.

Belajar pada zaman Hagai.

Pada masa itu bangsa Israel dikatakan terlalu sibuk mengurusi urusannya masing-masing sehingga membiarkan rumah Tuhan terbengkalai tidak terurus. Mereka hanya sibuk untuk terus mempercantik rumah sendiri sampai-sampai rumah Tuhan yang sudah menjadi reruntuhan pun tidak lagi mereka pedulikan. Maka Tuhan pun menegur mereka lewat Hagai. “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (Hagai 1:4). Tuhan menegur bangsa Israel dengan mencela sikap mereka ini secara langsung. Tidaklah heran apabila mereka terus menerus memperoleh hasil yang sedikit dan hidup dalam kekeringan, mengalami kegagalan atas segala yang mereka usahakan, dan itu terjadi 

“Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.” (ay 9b).

Tuhan tersinggung dan kecewa dengan sikap seperti ini. Semua itu tertulis jelas di dalam kitab Hagai yang mencatat langsung suara Tuhan yang menegur keras sikap bangsa ini. 

“Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya.” (ay 6,9a).

Tentu saja wajar Tuhan menegur sikap buruk seperti ini. Bukankah kebaikan dan kesabaran Tuhan telah menyertai mereka sejak dahulu? Tuhan mau mereka mengerti betul mengenai kasih Tuhan, kebaikan, kesabaranNya dan kesetiaanNya. Tuhan mau mereka bisa menghargai sepenuhnya segala berkat-berkat yang telah Dia alirkan ke tengah-tengah mereka. Alangkah keterlaluannya jika mereka hanya mau berkat turun atas mereka tapi melupakan Sang Pemberinya. Dan yang terjadi adalah segala sesuatu yang sia-sia. Kesia-siaan akibat mengambil prioritas yang salah ini pun nyata tertulis sepanjang kitab Pengkotbah yang notabene ditulis oleh orang yang terkaya yang pernah hidup di dunia ini.

Waktu untuk bersekutu dengan Tuhan atau beribadah dengan mudah dikorbankan demi bekerja, atau bahkan dengan alasan yang sangat sederhana seperti kondisi cuaca yang hujan, terlalu panas, kurang enak badan dan sebagainya. Padahal Tuhan Yesus mengajarkan hal yang sebaliknya.

Tuhan Yesus menegaskan demikian:

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33).

Itulah prioritas terutama yang dikehendaki Tuhan. Mencari Kerajaan Allah beserta kebenarannya, itu harus menjadi hal yang paling atas dari daftar prioritas kita. Dan semuanya akan diberikan dengan sendirinya. Tapi seringkali orang membalik urutan prioritasnya dan meletakkan apa yang seharusnya berada pada posisi teratas untuk ditempatkan pada urutan kesekian.

Apa yang menempati posisi teratas dalam prioritas kita saat ini?

Apakah Tuhan, atau hal-hal lain seperti harta, karir, hobi, kedudukan, kesenangan dan sebagainya? Apa yang paling menyita waktu, tenaga dan pikiran kita hari ini, itulah yang sebenarnya menempati prioritas utama kita. Sudahkah kita menempatkan Tuhan pada posisi selayaknya di urutan pertama, atau kita malah mengorbankan waktu untuk Tuhan demi segala pekerjaan dan lain-lain Jangan korbankan waktu-waktu untuk mendengar suara Tuhan, waktu-waktu persekutuan dan beribadah hanya karena kesibukan kita sehari-hari, karena sesungguhnya itulah hal yang terpenting yang harus kita prioritaskan. Pastikan bahwa mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya sudah menjadi fokus utama dalam hidup kita.

Tempatkanlah Kerajaan Allah dan kebenarannya pada posisi teratas dalam prioritas hidup kita, karena disanalah kunci kehidupan yang berbahagia. Nah dari hari ini kita belajar untuk memasuki 2021 dengan penuh semangat, dengan membuat komitmen

Buatlah skala prioritas dalam hidupmu, buang, kurangi, singkirkan hal-hal yang nggak penting yang membuat waktu kita habis. Utamakan dan awali Tuhan saat kita ingin membuat segala rencana di tahun ini.

ER090121 – KPH