Renungan Harian Youth, Kamis 22 Oktober 2020

Syalom… salam semangat baru buat rekan-rekan youth semuanya

Untuk membangun masa depan yang kuat, kita harus dapat berkemanangan dengan trauma masa lalu kita. kita semua memiliki trauma masa lalu.

Trauma masa lalu bisa digambarkan seperti penjara, dalih, namun masa lalu adalah awal menuju masa depan. Satu hal yang pasti, kita tidak akan bisa melangkah dengan bebas sebelum kita menghancurkan belenggu yang mengikat kita di masa lalu.

Trauma masa lalu seperti rantai yang mengikat seekor anjing besar, walaupun memiliki kekuatan dan kemampuan yang besar namun tidak bisa kemana-mana selain daerah sepanjang rantai itu mengikatnya. Hanya sebuah rantai yang mengikat leher anjing besar itu mampu melumpuhkan seluruh tubuhnya. Itulah cara kerja trauma masa lalu!

Kepahitan ibarat rantai yang mengikat potensi Anda; mencekik kebebasan dan sukacita hidup Anda, dan membelenggu harapan masa depanmu.

Mungkin hatimu terluka kepada situasin dan orang-orang disekitarmu kemudian berkata, “Aku tidak akan pernah mengampuni mereka sebelum mereka mengakui perbuatan mereka dan meminta maaf kepadaku.” Bagaimana jika mereka tidak pernah melakukannya? Mengapa kebahagiaanmu harus bergantung pada kesediaan mereka mengampuni—terutama jika mereka tidak melakukannya seperti harapanmu? Jika itu terjadi sadarkah bahwa terlalu banyak energi dan tenaga yang sudah kitab uang dengan sia-sia dan tidak mengubahkan apa-apa.

Tuhan Yesus berkata, Pencuri datang … untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan” (Yohanes 10:10).

Kepahitan dan kemarahan itu pencuri! Sikap tidak mau mengampuni adalah jendela tempat pencuri menerobos masuk, dan Faktanya adalah kita satu-satunya orang yang dapat menutup jendela itu! Kadangkala ketika kita terbangun dan menyadari betapa banyak hal yang telah dicuri kepahitan dari diri kita, kita akan marah dan kecewa kepada diri sendiri.

Belajar dari teladan Tuhan Yesus …

Ketika Tuhan Yesus di atas salib, Dia menaklukkan para musuh-Nya dengan menolak untuk membalas dendam. Dia berdoa,” Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Sekali Dia mengucapkan kata-kata itu, Dia pindah ke situasi yang berbeda dan bukankah sebenarnya kita dapat melakukannya!

Kenangan masa lalu bisa dengan mudah muncul dalam kepala kita, Pertanyaanya   “Jadi apa solusinya?” Tidak ada cara lain yang mendasar yaitu dengan mau untuk mengampuni!

Paulus berkata, “Hendaklah kamu … saling mengampuni, sebagaimana Allah … telah mengampuni kamu” (Efesus 4:32).

Kata mengampuni secara harfiah berarti “mengeluarkan semuanya“. Hal ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan orang lain. Mengampuni adalah keputusan  dibuat oleh diri kita sendiri. Seperti halnya mengembuskan keluar karbondioksida dari dalam tubuh karena kita tahu jika menahannya hanya akan membuat racun dalam diri kita. Lepaskan, Keluarkan dan hembuskan Keluarkan segala kepahitan dan sikap tidak bersediamengampuni, dan hiruplah udara segar dalam kasih Allah.

Ujian kasih adalah mengampuni orang yang bersalah.

Itulah yang dikerjakan Allah bagi kita, dan itulah yang Dia perintahkan kepada kita terhadap mereka yang menyakiti hati kita. Dapatkah kamu melalui ujian tersebut? Atau, tetap menolak untuk mengampuni mereka atas hal-hal yang sebenarnya tidak lebih buruk daripada perbuatan yang telah kita perbuat? Ampunilah atau kita tetap terbelenggu dengan kemarahan, tidak akan merasa bebas untuk menikmati hubungan dengan sesama kita.

Setiap manusia (termasuk saya, rekan-rekan, dan sahabat-sahabat kita) bukanlah orang yang sempurna, mereka sangat rentan membuat kesalahan dan bisa jadi melukai hati kita, terlebih orang-orang yang terdekat dengan kita. Bahkan orang yang terdekat dengan kita yang paling rentan untuk menyakiti dan mengecewakan kita. Jika kita tidak membangun kasih dalam kehidupan kita, maka kepahitan dan kekecewaan akan dengan mudah menumpuk dalam hati kita, seperti kita sedang menyimpan sampah yang busuk didalam rumah kita. Terus-menerus menolak mengmpuni dan dalam prosesnya, percayalah bahwa kita akan kehilangan sukacita untuk mengasihi dan dikasihi. Rugi, bukan?

Tidak ada cara yang lain untuk melepaskan kepahitan selain dengan PENGAMPUNAN …

PENGAMPUNAN yang akan menolong kita untuk melepaskan semua rasa sakit dan kecewa, dan mengalirkan kasih dan sukacita dalam diri kita kepada sesama

Sikap tidak bersedia mengampuni adalah tali pusar yang membuat kita terus terikat pada masa lalu. Saat mau mengampuni, kita sedang memutuskan tali itu. Namun saat menolak untuk memutuskannya, akibatnya akan terus terikat pada kenangan yang bisa memengaruhi sepanjang hidup kita. Kendalikanlah dengan berkata, “Ini harus berakhir di sini dan saat ini juga, dan berhentilah mencuri kedamaianku”

MMD 1 – SCW