Renungan Harian, Senin 02 November 2020

Menilik Rasa Cemas & Takut Secara Fisiologis dan Emosional

Akibat masa pandemic kini banyak kecemasan dan kepanikan yang melanda dunia. Rasa Takut menjadi hal yang normal karena banyak orang mengalaminya. Apa yang Alkitab nyatakan mengenai ketakutan dan kecemasan.

Mazmur 56:4, “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu”

Ayat diatas mungkin sudah banyak kita dengar, namun pada faktanya rasa takut dan cemas ini masih menghampiri dan mengusai kita. Ketakutan ini bersangkut pautan secara menyeluruh, baik secara fisik, sosial dan spiritual saling ada kaitannya. Ketika ketakutan menguasai hati kita akan sangat berpengaruh dengan relasi kita dengan Tuhan sesama.

Mengenali Rasa takut secara Fisik dan Emosional

Perasaan kita akan mempengaruhi semua bagian horman dalam tubuh kita. Ada Riset ilmiah di Aalto University di Finlandia memetakan bagian tubuh yang mana yang paling aktif saat mengalami emosi-emosi tertentu.

Reaksi terhadap Emosianol Rasa Takut: Respon biokimia bersifat universal, sedangkan respon emosional bersifat individual Reaksi Biokimia, masingh-masing pribadi memiliki ketakutan dan trauma masing-masing. Rasa takut adalah reaksi alamiah sebagai mekanisme untuk survive dan berusaha untuk mempertahankan diri. Reaksi emosional dari rasa takut bersifat personal karena ditentukan oleh pengalaman pribadi (trauma, pola asuh, dll).

Ketakutan itu bersumber dari: Insting (alamiah), pola asuh (kultural), pengalaman individu (trauma). Dengan skala yang masing-masing berbeda, bahkan imajinasi diri kita sendiri bisa jadi stimulus dalam diri kita. Rasa takut bisa mendikte tindakan kita untuk melawan (Fight) atau malah lari (Fright).

Dampak Rasa Takut Berlebihan

1. Kesehatan Fisik

Mempengaruhi “sistem imun/kekebalan tubuh” dan menyebabkan kerusakan cardiovascular (jantung), masalah lambung (maag), gangguan pencernaan, kesuburan reproduksi, dan secara tidak langsung akan berdampak pada “penuaan dini”

2. Mempengaruhi kinerja otak untuk meregulasi emosi,

Menyimak tanda-tanda non-verbal sehingga mempengaruhi proses pembuatan keputusan sehingga jadi cenderung reaktif secara berlebihan.

3. Memori: Mempengaruhi tatanan memori jangka panjang

Selain itu dapat memicu kerusakan pada beberapa bagian otak seperti hippocampus, dan menjadi pelupa

4. Kesehatan Mental: Memicu kecemasan, depresi klinis, Sindrom ketakutan.

Rasa Cemas adalah Rasa takut pada level rendah akan nampak dalam bentuk kecemasan (anxiety), atau perasaan risau yang konstan.

Padahal Kecemasan pada umumnya terfokus pada:

  • 40% Hal-hal yang tidak akan pernah terjadi.
  • 30% Hal-hal di masa lalu yang tidak dapat diubah.
  • 12% Kritik dari orang lain yang pada umumnya tidak tepat.
  • 10% Tentang kesehatan, dan semakin memburuk karena cemas dan stress.
  • 8% Masalah real yang sedang dihadapi.

Dari riset diatas sebenarnya hanya 8% adalah hal-hal yang real sedang digumulkan atau dihadapi

Penawar Rasa Cemas & Takut

Mazmur 131:1-3, Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.  Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Untuk mengelola rasa takut kuncinya adalah di ayat 2

“aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku”,

Ini harus menjadi fokus dan tujuan kita yaitu menjadi tenang walaupun dalam ketakutan.

Digambarkan Seperti anak yang disapih dekat pelukan ibunya …

Dalam psikologi perkembangan manusia anak yang baru lahir (belum disapih) masih meminum susu dari ibunya, tidak ada yang dikerjakan selain menangis. Namun dalam perkembangannya ketika seorang anak mulai disapih (Cerai susu) – maka anak akan memahami bahwa ada Ibu yang memenuhi dan melindunginya. Inilah gambaran pemazmur yang merasa tenang, seperti anak yang tenang dan nyaman dalam dekapan ibunya, karena tau bahwa ibunya adalah sumbernya.

Karena itu perlu membangun kehidupan kita untuk Tidak menjadi sombong, mengandalkan diri sendiri dan berpadanan apa yang ada (Ayat 1) tetapi Hiduplah dalam pengharapan kepada Allah (Ayat 3)

Jadikanlah Tuhan sebagai Sumber Ketenangan dalam kehidupan kita, disanalah hati kita akan memiliki ketenangan ditengah rasa takut dan cemas

Hanya dekat Allah saja hati kita merasa tenang …

Tuhan Yesus Memberkati

PL