Renungan Harian Anak, Jumat 22 Januari 2021

2 Korintus 12:1-10

Selamat pagi adik-adik Elohim kids … yuk kita mau bersama merenungkan Firman Tuhan

Adik-adik kalau lihat warna kuning ingat bunga yang warnanya kuning. Kalau lihat warna putih, jadi inget deh…sama susu. Dan kalau lihat warna hitam, kita jadi ingat dengan rambut. Tetapi tidak hanya itu. ternyata warna kulit kita ternyata tidak sama, ada yang putih dan ada yang hitam, ada yang coklat. Adik-adik Tuhan sudah menciptakan kita semua, tadi ada yang kulitnya coklat dan juga ada yang kulitnya putih. Begitu juga dengan rambut, ada yang rambutnya panjang dan ada yang pendek, yang keriting dan ada yang lurus. Ada ngga yang sedih koq kulit saya hitam yaa, temanku putih. Atau aku sebel sama rambutku yang keriting ini, aku mau kaya dia rambutnya lurus. Adik-adik, walaupun kulit kita coklat atau putih kita patut menerima dengan senang hati dan berterima kasih kepada Tuhan dan menerima pemberian Tuhan apapun adanya, soal rambut kita, kulit kita, badan kita.

Mungkin ada yang merasakan perasaan yang tidak enak ketika dibilang pendek, hitam, pesek, dan lain-lain. Kalau itu terjadi bagaimana sikap kita? Apa yang biasanya kita lakukan? Pasti marah-marah, kalau perlu kita balas lagi yang lebih kejam. Nah, kalau jadi anak Tuhan tidak boleh begitu, mari kita belajar dari rasul Paulus.

Adik-adik, siapa yang pernah mendengar cerita tentang Rasul Paulus? Wah, dia orang yang hebat ya, walaupun sudah tua, dia kuat pergi jauh untuk memberitakan Firman Tuhan. Meskipun Paulus seorang rasul yang diberkati Tuhan, tetapi ia pun menghadapi cemooh dan olok-olok dari orang banyak. Apakah Paulus sakit hati dan menjadi marah pada Tuhan? Apakah Paulus lalu menjadi rendah diri dan tidak mau keluar rumah lagi? WOW…. ternyata Paulus tetap keluar rumah dan tetap memberitakan Firman Tuhan. Paulus tidak minder dan tidak rendah diri karena tubuhnya yang tidak sempurna itu. la juga tidak marah ketika ia diolok-olok dan dicemooh oleh banyak orang. Paulus tidak sombong dengan kelebihannya, tetapi ia pun tidak minder dengan kekurangan yang dimilikinya.

Paulus juga tidak marah kepada Tuhan meskipun Tuhan tidak mengabulkan permintaannya untuk disembuhkan dari sakit penyakitnya (lihat ayat 9). Paulus tidak sakit hati ketika Tuhan mengatakan, “Cukup kasih karunia-Ku bagimu.” Paulus malah mengatakan, ia senang dan rela di dalam kelemahan, siksaan, kesukaran, penganiayaan dan dalam kesesakan oleh karena Kristus saja. Wah, hebat ya, Paulus. Dia berani dan rela menerima keadaannya bahkan mampu bersyukur meski mengalami kesulitan dan kesedihan. Apa rahasianya? Tidak lain karena ia percaya pada Tuhan dan yakin bahwa Tuhan itu baik, tidak pernah meninggalkannya.

Nah…Adik-adik, kita bisa belajar dari seorang anak Tuhan yang bernama Paulus. Paulus ini selalu diejek dan dianggap tidak berguna, namun Paulus tetap pada sikapnya yaitu tidak membalas orang yang selalu mengejeknya. Paulus tetap percaya, walaupun dia lemah, tetapi Tuhan tetap mengasihinya dan pasti menolong dia.

Adik-adik, Paulus sudah belajar menerima keadaannya. Paulus selalu berterima kasih dan tidak mengeluh. Dia terus menceritakan tentang Tuhan Yesus. Sekarang kita juga mau belajar menerima keadaan kita dan mau selalu bersyukur atas pertolongan Tuhan.

Ayat Hafalan

I Tesalonika 5:18, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”.

Komitmenku hari ini :

Saya mau belajar menerima keadaan saya, saya bersyukur buat tubuhku atau keadaanku, tidak membanding-bandingkan dengan orang lain karena saya percaya Tuhan tetap mengasihi saya, dan selalu menolong saya.

SSM 1_6 – YC