Renungan Harian Youth, Senin 30 November 2020

Hidup tidak selalu penuh gairah. Ada kalanya kita ngalami Boring dengan kehidupan kita atau istilah kerennya BeTe (Boring Total) misalnya Boring dengan sekolah/kuliah online, pekerjaan, gara-gara harus stay at home. Mungkin juga boring dengan rutinitas sehari-hari kita.

Mengapa kita bisa bosan?

Mungkin semua orang pernah mengalami bosan dan banyak diantaranya mudah sekali diserang kebosanan. Tapi apa yang mendasari terjadinya kebosanan? Kenapa kita bisa bosan? Dan apa sih bosan itu?

kebosanan sebagai keadaan yang monoton atau berulang dan kita tidak melakukan aktivitas yang dapat keluar dari keadaan tersebut. Kebosanan adalah kombinasi dari kurangnya hormon kegembiraan dan adanya kondisi ketidakpuasan, frustrasi atau tidak tertarik akan suatu hal, yang semuanya disebabkan oleh kurangnya sesuatu yang dapat menghibur diri.

John Eastwood dari Universitas York di Ontario Kanada

Penyebab dari kebosanan ada bermacam – macam, contohnya melakukan hal yang monoton atau berulang. Kebosanan serupa dengan kelelahan mental dan disebabkan oleh pengulangan misalnya, pekerjaan yang memerlukan perhatian terus menerus, rutinitas pekerjaan dirumah, atau sekolah online seperti akhir-akhi ini.

Beberapa orang cenderung lebih mudah bosan daripada orang lain karena mereka butuh akan hal-hal yang baru, Mencari sesuatu yang baru dan mengambil risiko adalah cara orang – orang ini mengobati diri sendiri untuk menyembuhkan kebosanan mereka.

Lalu apakah bosan itu berdosa? Tidak dan itu merupakan hal yang wajar. Namun yang membuat bosan itu berdosa adalah tindakan yang dilakukan akibat tidak dapat mengatasi rasa bosan tersebut.

Yuk kita belajar bersama dari Umat Israel ketika di padang gurun dalam perjalanan ke Tanah Kanaan. Mereka bersungut-sungut kepada Tuhan karena bosan memakan Roti Manna setiap hari.

Bilangan 11:5-6 Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.”

Bilangan 11:20b  karena kamu telah menolak TUHAN yang ada di tengah-tengah kamu dan menangis di hadapan-Nya dengan berkata: Untuk apakah kita keluar dari Mesir?.”

Akibat dari tidak dapat mengatasi rasa bosan ini, Umat Israel bersungut-sungut dan membuat Tuhan kecewa pada mereka.

Lalu bagaimana bersikap secara tepat dan benar dalam menghadapi sebuah rasa bosan?

Pertama, adalah kita perlu beristirahat sejenak

Beristirahatlah dari segala macam aktivitas yang kita kerjakan, kemudian kita dapat merenung dan berdiam dibawah kaki Tuhan. Dengan datang kepada Tuhan akan membantu melegakan perasaan bosan di dalam hidup kita, Ia akan menyegarkan jiwa dan hati kita.

Matius 11:28 berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.”

Kedua, kita dapat mengerjakan hal-hal yang baru dan bervariasi tapi tentunya hal yang positif.

Contohnya, saat ini pemerintah menyuruh kita untuk diam di rumah dan tidak keluar kemana-mana. Tentunya hari-hari awal di rumah akan terasa menyenangkan, namun di hari-hari berikut bisa menjadi sebuah kebosanan. Ketika kebosanan itu melanda coba mengerjakan hal-hal yang berbeda ketika di rumah. Misalnya saat pagi hari kita bersaat teduh dibawah kaki Tuhan, lalu berolahraga, lanjut memasak atau membersihkan rumah, kemudian membaca buku atau menonton film, dilanjutkan ngobrol bersama dengan keluarga, atau melakukan video call dengan para sahabat dengan media sosial.

Kita dapat merencanakan hal-hal positif apa yang akan dikerjakan di pagi hari dan mengevaluasinya di malam hari. Usahakan seproduktif mungkin di rumah, dan jangan berdiam diri dengan bermain handphone saja atau hal-hal yang itu saja. Dengan mengerjakan hal-hal positif yang berbeda, akan membantumu mengatasi sebuah perasaan bosan.

Ketiga, dengan cara menghargai hidup dan mengucap syukur kepada Tuhan atas kebaikan yang Tuhan kerjakan selama ini.

Coba lihat sekeliling kita, dan hitung berkat-berkat yang telah Tuhan berikan untuk kita. Bersyukur adalah bentuk terimakasih atas segala hal yang Tuhan berikan dalam hidup ini. Rasa syukur berkaitan erat dengan kebahagian hidup, semakin kita banyak bersyukur, semakin kita akan merasa bahagia. Dengan kita berbahagia akan menjadi penolong dalam mengatasi sebuah kebosanan.

Pemazmur dalam Mazmur 90:12 dan 14 berkata, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.”

Kebosanan berhubungan erat dengan tujuan hidup. Makin jelas dan bermakna tujuan hidup, makin mudah kita mengatasi kebosanan. Sebaliknya tanpa tujuan hidup yang jelas dan bermakna, makin sukar kita melawan kebosanan.

Hargailah hidup pemberian Tuhan (BERSYUKUR). Hitunglah berkat dan ucapkanlah syukur kepada Tuhan atas kebaikan-Nya.

Lihatlah sekeliling dan pandanglah semua pemberian Tuhan yang begitu indah dan berlimpah. Makin jeli kita melihat Tuhan di dalam ciptaan-Nya, makin berlimpah hati ini dengan sukacita dan sukacita akan menghalau kebosanan.

Di hari ini apakah kita sudah bersyukur kepada Tuhan? dan apakah kita sudah merencanakan hal-hal positif yang membantu kita produktif dalam menjalani kehidupan ini?. Jika belum, yuk bersaat teduh sebentar dibawah kaki Tuhan, mengucap syukur atas rahmat-Nya

ElR281120 – KPH