Renungan Harian, Selasa 29 Desember 2020

Berbicara soal makanan ada makanan dengan PROSES yang paling ribet adalah Hakarl. Hidangan tradisional dari Islandia ini memang tak terlupakan. Bahkan sebelum dimakan, baunya yang merupakan gabungan dari keju busuk dan amonia, langsung menusuk hidung. Lalu, bila Anda masih berani mencoba mencicipnya, ingatlah bahwa Hakarl dibuat dari daging busuk. Tepatnya. daging hiu ini dikubur di dalam pasir selama kurang lebih 12 minggu, lalu dikeringkan dengan cara dijemur selama beberapa bulan. Meskipun terdengar mengerikan, tapi ternyata makanan unik ini punya sejarah yang sangat panjang.

Seperti dituliskan World Atlas, tradisi Hakarl dimulai sejak leluhur penduduk Islandia saat ini, yang dikenal dengan nama Viking, pertama datang ke negara tersebut. Bahan makanan sulit didapat, tetapi perairan di sekitar pulau dipenuhi oleh hiu berjenis Greenland Shark yang sayangnya tidak bisa dikonsumsi karena dagingnya yang beracun. Karena kekurangan makanan terus berlangsung, para pendatang ini pun mencari cara untuk bisa mengonsumsi daging greenland shark, yaitu dengan mengolahnya menjadi Hakarl.

Jika kita mau untuk kembali mengingat beberapa bagian dalam perjalanan kehidupan kita saat masa kecil, sekolah, kuliah, pacaran, menikah, ditempat kerja kita. Setiap orang akan punya sebuah buku, yang kira-kira judulnya “My Journey”. Apa perjalanaan hidup kita banyak yang berat, sulit seperti makanan hakarl tadi atau perjalanan mudah seperti sekedar membuat “telur ceplok”? Saudara, dalam setiap perjalanan kehidupan kita pasti pernah saja kita kehabisan energi, kehilangan, semangat, kesehatan, atau bahkan orang yang kita kasihi. Bahkan penah terbersit dipikiran kita untuk menyerah, tetapi percayalah bahwa tidak ada yang kebetulan di setiap langkah hidup kita. Semuanya atas rencana Tuhan bagi kita, jika hidup ini hanya kebetulan maka hidup ini akan berujung pada kesia-siaan karena tidak ada tujuan.

Hidup kita diciptakan dengan Tujuan

Sejak awal penciptaan Allah memberikan mandat kepada manusia yaitu untuk memenuhi bumi dan untuk mengelola seluruh alam ciptaan-Nya (Kejadian 1:27-28). Namun, jauh daripada sekadar mendirikan pernikahan dan keluarga (beranak cucu) serta mengelola bumi, tentu ada tujuan yang lebih utama dari semua itu. Dengan kata lain bagi orang Kristen, pencapaian cita-cita, kedudukan atau kekuasaan, kekayaan atau kesuksesan bukanlah tujuan hidup yang utama, semua itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih utama (tertinggi).

Pertanyaan pertama dalam Katekismus Westminster menanyakan “Apakah tujuan utama (tertinggi) manusia?” Jawabannya adalah “untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya.” Fokus dari jawaban tersebut adalah memuliakan Allah, yang harus menjadi tujuan utama dari semua aktivitas dan gerak hidup orang Kristen. Hal ini secara sederhana disimpulkan dalam

Efesus 2:10 menuliskan, “Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Yesus Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya.”  

Ayat ini menegaskan beberapa hal yaitu, Kristus sebagai pusat dan tujuan penciptaan manusia, selanjutnya menegaskan bahwa sejak awal Allah telah menentukan dan mempersiapkan orang percaya untuk melakukan pekerjaan baik. Yang MEMULIAKAN Nama TUHAN

Soli Deo Gloria berarti kemuliaan hanya bagi Allah

Enjoy the process – karena Tuhan sedang membentuk kita..  

Yakobus 1:2-3 “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”

Dalam menghadapi Tantangan hidup, Ada kalanya Tuhan merubah situasi disekitar kita, tapi ada kalanya Dia membiarkan badai itu mengamuk dan Dia pun ingin  Anda yang berubah.”

Hidup adalah proses
Hidup adalah belajar tanpa ada batas umur dan tanpa ada kata tua
Jatuh, …. berdiri lagi, Kalah,…… mencoba lagi, Gagal,…….. bangkit lagi … Sampai Tuhan berkata, “well done my son”

SAAT MENJALANI KEHIDUPAN INI JANGAN MELUPAKAN TUJUAN DAN NIKMATILAH PROSESNYA

Selamat menyongsong Tahun Baru 2021

TC