Renungan Harian Youth, Jumat 30 Oktober 2020

Syalom rekan-rekan … salam semangat buat kalian semuanya, buat rekan-rekan yang libur … selamat menikmati hari liburnya, yang masih harus bekerja juga tetap semangat ya …

Rekan-rekan, ada banyak kata-kata negatif yang sudah kita dengar sejak kecil dan kadang tanpa disadari kita menerimanya dan menilai diri kita sama dengan kata-kata negatif tersebut.

Mengutip beberapa tulisan Dorothy Law Nolte

Jika seorang anak hidup dengan permusuhan, ia belajar untuk berkelahi,
Jika seorang anak hidup dengan ejekan, ia belajar untuk menjadi malu,
Jika seorang anak hidup dengan rasa malu, ia belajar untuk merasa bersalah

Inilah faktanya, sebagian besar kita bertumbuh dengan dikelilingi kata-kata yang membuat kita merasa tidak penting, tidak berguna, dan mungkin tidak diinginkan. Kata-kata itulah yang membentuk keyakinan tentang nilai hidup kita. Dan seperti keyakinan yang benar bisa mendorong hidup kita, sebaliknya ada banyak keyakinan yang salah tentang diri kita yang bisa menghentikan Langkah kita. Karena itu sangat penting untuk membawa keyakinan yang salah kedalam terang Firman Allah, sehingga keyakinan yang salah itu tidak lagi menekan kehidupan kita.

Efesus 1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Firman Tuhan menyatakan bahwa kita adalah pilihan Allah, kita dipanggil sebagai anak-anakNya, diciptakan untuk tujuan khusus, dipilih untuk menjadi bagian dari gerejaNya. Inilah nilai kehidupan kita.

Berhentilah berusaha menjadi seperti orang lain!

Bagaimanapun keberadaan kita, Tuhan mendesain kita lengkap dengan rencana dan tujuan-Nya. Kita harus menanamkan kebenaran ini dalam kehidupan kita supaya nilai-nilai yang salah yang sudah terbagun dalam diri kita dapat digantikan dengan nilai yang sesuai apa yang benar. Kita tidak perlu menjadi orang lain untuk dapat menggenapi rencana Tuhan, yang perlu kita kerjakan adalah terus membangun diri kita dengan benar. Inagtlah bahwa kita itu unik, spesial, asli, jadi jangan pernah mau menjadi tiruan orang lain.

Farai Chideya lulusan Harvard, menceritakan kehidupannya

Berat badan yang turun tidak mengubah kepribadian saya dan tidak juga meringankan beban emosional yang saya bawa sejak kecil. Saya berpikir ingin kurus. Padahal yang saya inginkan sebenarnya adalah kebahagiaan, dan baik penampilan maupun prestasi saya tidak dapat mewujudkannya. Karena saya tidak bisa mencintai atau menerima diri saya sendiri, penerimaan dari orang lain tidak akan pernah cukup. Saat saya berusaha menjadi sempurna, saya malah menjadi kesepian dan sukar didekati. Padahal yang sebenarnya saya inginkan adalah kebalikan dari itu.

JANGAN TEROBSESI MENJADI SEMPURNA, mengikuti ukuran dan nilai dari dunia disekitar kita karena

  • membuat Anda terjebak dalam kesepian karena hubungan yang memuaskan hanya dapat dibangun di atas kejujuran dan keterbukaan;
  • memaksa kita untuk berusaha menyembunyikan kekurangan, focus pada kekurangan sehingga lupa untuk mengembakan diri
  • fokus kepada diri sendiri dan melayani ego kita, tanpa sadar merenggut banyak kesempatan untuk melayani orang lain dan menjadi berkat bagi sesama.

Setiap kita memiliki pilihan, apakah nilai diri kita ditentukan orang lain, lingkungan atau nilai yang diberikan oleh Pencipta kita. Seharunya inilah ungkapan yang lahir dari hati kita

“Saya adalah seseorang yang berarti karena Allah menjadikan saya berarti”.

Ini bukanlah kesombongan, melainkan rasa percaya diri yang sehat berdasarkan kebenaran tentang diri kita. Ketika memiliki nilai kehidupan yang benar akan mempengaruhi semua aspek kehidupan kita. Kita akan belajar bersyukur dengan segala keberadaan kita, menerima setiap keterbatasan yang ada dan mau mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita.

JANGAN berpikir atau berbicara negatif tentang diri kita karena hal itu tidak selaras dengan kebenaran Firman Tuhan

Komitmenku hari ini

Aku mau menilai diriku sesuai kebenaran, memandang kelemahanku sebagai bagian dari proses untuk menjadi lebih baik dan terus berfokuslah setiap hari pada sumber terbesar rasa percaya diri, yaitu pribadi Allah sendiri.

A – AC