Renungan Harian Selasa, 28 Juli 2020

 Amsal  30:5-9

Saudara-saudara Allah tidak mau manusia berhenti pada pengakuan  bahwa dunia ini diciptakan-Nya, melainkan ada satu tujuan yang lebih mulia, yakni manusia mengerti bagaimana Allah menganugerahkan keselamatan kepada umat manusia yang berdosa.

Dari pembacaan Firman Tuhan hari ini kita belajar bersama

Firman Allah adalah KUDUS, MURNI dan KEBENARAN yang MUTLAK

Amsal 30:5-6, Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta.

Melalui firmanNya yang kudus yang tidak boleh ditambah atau dikurangi karena sifatnya yang murni, melalui Firman-Nya manusia mengerti  betapa besar dan dalamnya kasih Allah, sehingga mengaruniakan anak-Nya yang tunggal mati menanggung dosa manusia, barang siapa percaya kepada AnakNya beroleh keselamatan kekal ( Yohanes 3:16), karena ia sudah pindah dari dalam maut kepada hidup. (Yohanes 5 : 24)

Seorang yang mengenal dan menerima karya keselamatan- Nya  akan hidup dalam anugerah Pemeliharaan-Nya. 

Inilah yang diminta Agur, ia mengenal  bahwa manusia sulit  bekata “ cukup “, 

Amsal 30:7-9 Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.

Manusia yang  selalu merasa segala kebutuhan sudah tercukupi bisa jadi ia tidak lagi memandang Allah yang memberikan segala sesuatu dalam hidupnya, bila ia hidup dalam kemiskinan dan kekurangan ia bisa mencuri dan mempermalukan Tuhan. Jika demikian kapan kehadiran Tuhan dalam hidupnya ketika kaya dan ketika miskinpun  tidak ada kehadiran Allah dalam hidupnya.

Biasanya kita cepat mengiyakan bahwa kekayaan yang berlebihan adalah godaan untuk melupakan Tuhan, bahkan mempertuhankan kekayaan. Namun, mengapa kemiskinan pun memiliki potensi yang sama untuk merusak hubungan kita dengan Tuhan? Karena pada dasarnya mengukur hidup ini dengan kaya atau miskin adalah mengenakan standar materi, bukan standar Tuhan.  

Dan hal ini sangat berbeda halnya dengan seorang yang menyadari bahwa hidupnya adalah anugerah dan segala yang dimilikinya pun semata berdasarkan Anugerah Pemeliharaan-Nya, sehingga ia senantiasa BERSYUKUR kepada Sang Pemelihara hidupnya.

hidup bergantung penuh pada Tuhan, bersyukur untuk anugerah-Nya yang senantiasa cukup adalah sikap orang berhikmat. Dampak sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan akan berwujud nyata dalam sikap hidup kita terhadap orang lain (ayat 11-14).

Ajaran hikmat dari Agur mengajak kita untuk menempatkan diri pada posisi yang tepat di hadapan Allah, pencipta dan pemilik alam semesta ini. Kita hanyalah ciptaan-Nya yang terbatas dan fana. Oleh karena itu, penting sekali kita mengakui bahwa sumber hikmat hanya pada Allah dan upaya menambahinya adalah sikap arogan manusia yang hanya menghancurkan diri sendiri

Mari kita merenungkan bahwa Mengenal dan menikmati hidup didalam Allah sang Pemelihara akan membuat kita mensyukuri kesetiaanNya dan jauh dari sikap  mengeluh dan menyalahkan Dia.    

Tuhan Yesus memberkati.

EW