Renungan Harian Youth, Senin 06 Juli 2020

Dalam kondisi memprihatinkan  seperti  saat ini semua orang berharap mendapatkan perlakuan yang baik dari orang lain: ditolong,  dihargai, dihormati, didengar, diperhatikan dan sebagainya.  Firman Tuhan menyatakan dalam :

Matius 7:12, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” 

Dengan kata lain, bila kita ingin dihargai orang lain belajarlah menghargai orang lain;  bila kita ingin diperhatikan, belajarlah untuk memperhatikan;  bila ingin mendapatkan perlakuan yang ramah dari orang lain, belajarlah berlaku ramah terhadap mereka;  bila kita ingin orang lain tidak ingkar terhadap janjinya, maka kita pun harus belajar menepati janji. 

Rasul Paulus menasihatkan,  “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”  (Filipi 2:4).

Sesuai dengan  keadaan saat ini ?  Di zaman sekarang ini jarang sekali orang mau melakukan hal yang demikian.  Umumnya orang hanya menuntut orang lain untuk melakukan apa yang dikehendakinya, sementara ia sendiri tidak mau berbuat

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri…tidak tahu berterima kasih…tidak tahu mengasihi,”  (2 Timotius 3:2-3). 

Kita menjadi orang yang sangat egois!  Hanya memikirkan hak tanpa memperhatikan kewajiban dan kepentingan orang lain. Hal inilah yang seringkali menjadi pemicu permasalahan dan penyebab retaknya sebuah hubungan, baik itu dalam kehidupan berumah tangga, pertemanan, persahabatan atau bermasyarakat, karena tiap-tiap orang hanya saling menuntut dan mengutamakan kepentingan sepihak saja.

Kita mau belajar dari kisah Bangsa Israel  ini terjadi dalam kitab Bilangan 11 : 4 -6. “Orang-orang bajingan” yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata:

“Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.”

Ini bukanlah pertama kalinya Israel bersungut-sungut tentang makanan, minuman dsb.  Di benak orang-orang Israel masih muncul angan-angan akan kenikmatan makanan di tanah Mesir. Di Kibrot-Taawa lagi-lagi bangsa Israel bersungut-sungut akan makanan yang selama ini TUHAN berikan. Manna begitu membosankan dan mengikut TUHAN tidak lebih baik daripada tinggal di Mesir. TUHAN tidak menolak permintaan mereka dan bahkan kembali memberikan burung puyuh. Tetapi kali ini murka-Nya bangkit oleh karena Israel menolak-Nya (ay. 20) dan TUHAN memukul Israel dengan tulah oleh karena nafsu rakus mereka (ay. 33).

Dari kisah diatas kita mau belajar :

# Bangsa Israel hanya mementingkan kepentingannya ( Hak ) tanpa memperhatikan kewajibannya kepada Tuhan.
# Bangsa Israel tidak pernah merasa puas dan tidak mengucap syukur  atas setiap perbuatan ajaib Tuhan yang menyertai mereka keluar dari tanah Mesir.
# Bangsa Israel mendapatkan hukuman karena nafsu rakus mereka. ( ayat 33-34 )

Bila kita merenungkan, Firman di atas  sepertinya kita sama seperti bangsa Israel yaitu ketika kita datang kepada Tuhan hanya ingin menuntut kepentingan kita (hak, berkat dll ), tanpa kita tahu kewajiban kita kepada Tuhan sering kita abaikan.. Kita  merasa setiap pertolongan Tuhan yang sudah kita rasakan tidak pernah membuat kita merasa puas, kita tidak tahu keinginan Tuhan atas kita bahkan kita seolah olah yang mengatur Tuhan sesuai dengan keinginan hati kita. Beryukurlah jika Tuhan masih belum menunjukan amarahnya kepada kita seperti yang diungkapkan atas bangsa Israel.

Mari rekan rekan pemuda remaja kita mulai menyadari kembali bagaimana kehidupan kita saat ini, apakah kita merasa seperti kisah diatas, jika jika ingin diperhatikan Tuhan mari kita mulai memperhatikan setiap omongan, dan  kerinduan Tuhan atas hidup kita , jika kita ingin mendapatkan perlakuan yang baik dari orang lain, kita juga harus memulai terlebih dahulu untuk memperlakukan yang baik kepada orang lain.

Mulailah berbuat terlebih dahulu, iniliah prinsip untuk melepas keegoisan serta kepentingan diri kita sendiri dan belajar untuk berbagi kasih kepada orang lain.

Komitmenku :

Ajar kami Tuhan untuk memulai perbuatan baik terlebih dahulu, kepada orang lain, ajar kami untuk tidak egois dan tidak mementingkan kepentingan kami tapi kami mau untuk mengerti maksud dan kerinduanMu atas hidup kami.

KP – MLE