Renungan Harian Youth, Senin 28 Desember 2020

Natal kita tahun ini, berbeda dengan natal-natal sebelumnya. Tahun ini kita merayakan natal di tengah pandemi virus covid-19, kita tidak bisa beribadah merayakan natal tahun ini seperti di tahun-tahun lalu. Seluruh dunia sedang berjuang menghadapi wabah corona ini yang sangat berdampak besar terhadap seluruh kehidupan manusia. Angka kematian yang disebabkan virus ini terus meningkat, banyak yang kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi terjadi, dan banyak hal yang terdampak oleh karena pandemi ini. Semua orang di dunia ini sedang menghadapi permasalahan dan pergumulan saat-saat ini. tidak terlepas kita anak-anak Tuhan pun juga menghadapi pergumulan di tengah-tengah pandemic yang sedang terjadi ini.

Setiap kita masing-masing memiliki makna tersendiri mengenai Natal, natal yang sangat memberkati kita semuanya. Natal tahun 2020 menjadi kisah natal tersendiri bagi kita semuanya. Namun ditengah semua situasi yang ada sebagai anak-anak Tuhan jangan pernah kita kehilangan arti natal yang sejati. Mari sekali lagi kita belajar dari sosok Maria yang adalah salah satu tokoh utama dari kisah Natal.

Belajar dari Maria (Lukas 1:26-38)

Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Lukas 1:38)

Tanpa kita sadari bahwa dibalik kelahiran Sang Mesias ada sebuah resiko besar yang harus ditanggung seorang manusia. Memang setelah Yesus dilahirkan, ada kesukaan besar yang dialami Maria. Namun sebelum bayi tersebut dilahirkan, kesukaan bukanlah yang dialami Maria. Seperti kita tahu bahwa pada saat itu status Maria dengan Yusuf adalah bertunangan dan belum menikah. Sejak dahulu orang yang hamil tanpa status pernikahan itu dianggap aib. Karena itu, siapa pun perempuan yang mengalaminya akan menutupinya sedapat mungkin. Bila ketahuan pasti mendapatkan sanksi sosial, dikucilkan, dan harus menanggung malu. Dalam budaya Yahudi tempat Maria hidup, hukumannya dirajam batu karena dianggap berzina. 

Karena itulah, ketika malaikat Gabriel datang kepadanya memberitahukan bahwa ia akan mengandung, Maria berkata, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?” Maria pasti membayangkan betapa dahsyat hukuman yang akan diperolehnya. Ia pasti bergolak secara mental. Apa kata orang dan pembelaan apa yang akan disampaikannya? Tetapi ia memilih taat atas berita itu. Simaklah perkataannya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Ia tidak menolak, tetapi menerimanya dengan sepenuhnya berserah kepada Allah. Maria tahu bahwa Allah, yang kepada-Nya ia percaya, berkuasa menolong dan melindunginya.

Maria mendapatkan KASIH KARUNIA.

Inilah yang memampukan Maria untuk menerima PANGGILAN ALLAH. Kasih karunia adalah sesuatu yang ada pada Allah yang menyebabkan Ia memberikan karunia kepada orang yang tidak berlayak untuk menerimanya. Mari belajar dari Maria ketika menghadapi situasi yang tidak mudah

Sikap yang benar dalam menghadapi pergumulan hidup

1. Bertanya Kepada Tuhan (ay34)

Ketika mendengar berita yang mengejutkan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak, Maria tidak hanya diam. Maria bertanya langsung kepada Tuhan melalui malaikat Gabriel, bagaimana caranya dia bisa mengandung dan melahirkan anak jika dia belum bersuami? Saat kita menghadapi pergumulan hidup kadang kita bertanya-tanya di dalam hati. Namun hal itu tidaklah cukup, kita perlu bertanya langsung kepada Tuhan melalui doa-doa kita untuk menemukan solusi.

2. Merendahkan diri di hadapan Tuhan (ay.38a)

Setelah Gabriel menjawab kegundahan hati Maria, maka Maria berkata, “Aku ini adalah hamba Tuhan.” Ini adalah bentuk kerendahan hati seseorang di hadapan Tuhan. Maria memposisikan dirinya dihadapan Tuhan, dia hanya seorang hamba yang tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Maria yakin bahwa Tuhan itu berdaulat dan maha kuasa, Dia dapat melakukan apapun yang kelihatan mustahil bagi manusia. Seperti yang disampaikan Gabriel kepadanya, tidak ada yang mustahil bagi Allah (Luk 1:37).

3. Berserah di hadapan Tuhan (ay.38b)

Maria juga berserah kepada Tuhan, Maria berkata “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”  Ini bukan pasrah terhadap keadaan, melainkan berserah kepada Tuhan. Karena Maria sadar bahwa dia hanyalah seorang hamba, bahwa dia pun mempercayakan hidupnya kepada Tuhan. Maria tau bahwa Tuhan baik kepadanya, bahwa Dia tidak mungkin akan merencanakan hal yang buruk kepadanya. Dia yakin bahwa Tuhan dapat dipercayai.

Karena itulah dengan yakin ia mempercayakan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan. Jika kita percaya pada kasih dan kuasa Tuhan, maka seharusnya kita tidak perlu lagi ragu untuk memasrahkan seluruh hidup kita kepada-Nya.

Hal mengagumkan dari Maria adalah dibalik setiap ketakutan yang ia alami, dibalik setiap ancaman yang mungkin ia hadapi, ia memilih untuk percaya kepada janji Tuhan tanpa adanya keraguan.

Jadikan Natal tahun ini sebagai memori Natal didalam Anugerah Tuhan yang besar, jangan menyerah kepada situasi yang ada…tetap Andalakan Tuhan karena ada Yesus sumber pengharapan kita

ER261220 – KPH